Menjadi Murid Memang Melelahkan

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

Perbincangan tentang Israel tak pernah usai, dari menghujat sampai memuji kecerdasan bangsa itu. Bagaimana bisa bangsa itu cerdas? Tentu saja menjadikan bangsa itu cerdas tidak sekali jadi. Mereka merupakan hasil proses pendidikan yang berlangsung ribuan tahun, bukan hasil didikan Mendikbud Nadiem Makarim. Koq Nadiem? Maksud saya bangsa Israel itu cerdas bukan hasil didikan kemarin sore.

Wawasan pendidikan bangsa Israel yang dimula sekitar empat ribu tahun yang lalu bukanlah suatu usaha sambilan, yang hanya memumpunkan satu sendi saja. Pendidikan bangsa Israel (Kuno) berpumpun pada segala sendi kehidupan. Untuk memenuhi syarat pendidikan serbacakup itu para orangtua diwajibkan menjadi pelajar (atau pembelajar) seumur hidup (lih. L. J. Sherrill, The Rise of Christian Education). Dari sini saja ada perbedaan murad (significant)antara situasi empat ribuan tahun lalu dan situasi saat ini di Indonesia. Para orangtua bangsa Israel dalam posisi tidak serbatahu, sedang para orangtua Indonesia dalam posisi serbatahu sehingga mendikte para guru untuk mengikuti keinginan mereka.

Pendidik khusus adalah para orangtua, sedang pendidik umum adalah empat golongan pemimpin bangsa Israel: imam-imam, nabi-nabi, kaum bijak, dan para penyair. Yang menarik adalah peran kaum bijak dan penyair. Kaum bijak ini mengumpulkan kata-kata bijak dari obrolan para orangtua di sudut-sudut kota atau desa-desa. Kumpulan kata-kata bijak itu kemudian diajarkan oleh kaum bijak kepada anak-anak lewat para orangtua mereka. Para penyair mengajar dengan mendobrak hati umat atau rakyat lewat irama dan perkataan simbolis. Puisi hidup dalam masyarakat untuk menyampaikan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Dengan cara ini rakyat mampu menyampaikan pendapat dengan bahasa yang terukur dan terandalkan.

Waktu mengajar orangtua adalah saat makan malam. Makan malam merupakan kesempatan bagi orangtua (secara khusus ayah) bercerita mengenai peristiwa-peristiwa yang dialami oleh nenek moyang. Bukan itu saja ayah berkewajiban memberikan ruang bertanya bagi anak-anaknya tentang peristiwa sehari-hari. Anak bertanya, ayah menjawab. Apabila ayah tidak sanggup menjawab, maka ia akan bertanya kepada kaum bijak. Di sini asas pedagogis berlangsung. Anak diberikan hak bertanya, orangtua berkewajiban memberikan jawaban secara sungguh-sungguh dan jujur.

Sesudah masa pembuangan di Babel terjadi reformasi pendidikan di Israel. Pengalaman kelam selama masa pembuangan membuat mereka mereformasi pendidikan. Apabila cara lama dianggap dinamis, sekarang dibuat agak kaku. Seperti kata Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu.”

Israel kemudian memula melembagakan pendidikan. Meskipun demikian peran khusus orangtua tidak pernah ditiadakan hingga kini. Didirikanlah banyak sinagog (rumah ibadah). Sinagog sendiri berarti sekumpulan orang-orang dengan maksud berkumpul bersama untuk belajar. Itu sebabnya tidak ditemukan kata berkhotbah di rumah ibadah di Alkitab, melainkan mengajar. Bahkan Yesus juga mengajar di rumah ibadah menurut kebiasaan-Nya. Cendikiawan Yahudi Philo melukiskan sinagog sebagai tempat pengajaran disampaikan (lih. Sherrill op. cit.)

Tonggak penting dalam sejarah pendidikan bangsa Israel ketika Rabi Simson ben Shatach mendirikan Bet-Haspher (sekolah dasar) di Yerusalem pada 75 SZB. Pada mulanya tidak mendapat sambutan dari masyarakat. Perlahan namun pasti sistem persekolahan berkembang. Atas perintah Imam Agung Yosua ben Gamala setiap wilayah diwajibkan mendirikan sekolah dasar. Syarat mutlak guru adalah ia harus seorang budiman berakhlak mulia. Satu guru hanya boleh mengajar 25 anak. Apabila jumlah naradidik melebihi 25 anak, maka sekolah wajib menambah satu orang asisten guru. Apabila jumlah murid mencapai kelipatan 25, maka mereka harus dikelompokkan ke dalam 25 orang per kelas dengan satu guru dan ditambah satu asisten apabila melebihi 25 anak.

Ketika anak-anak mencapai usia sekitar 11 tahun, maka mereka dinaikkan ke jenjang Beth Talmud. Di sini anak-anak mula diajarkan ilmu hitung, ilmu bumi, ilmu bintang, dan ilmu hayat sebagai bekal dalam menafsir kitab suci. Kisah Yesus saat berumur 12 tahun sedang berdebat dengan alim ulama dalam Injil Lukas 2:46 merupakan gambaran suasana sesungguhnya Beth Talmud atau Beth Hammidrash. Di sana murid diberi ruang untuk mengajukan pertanyaan sekaligus memberikan pendapatnya.

Tujuan pendidikan ialah menjadikan naradidik pribadi dewasa-mandiri. Proses pendidikan ibarat membangun rumah. Perlu perhitungan cermat dalam membangun fondasi sesuai struktur tanahnya. Pada masa pembangunan tidak jarang pengerjaan fondasi memakan waktu cukup lama. Setelah itu menyusul pendirian kolom, pemasangan bata, atap, pintu, dlsb. Kekuatan rumah terletak pada fondasi yang utama dan kolom. Di Indonesia pendidikan maunya serba cepat. Tak perlu menghitung fondasi. Bila perlu langsung lantai, penyusunan bata sehingga segera tampak dari luar bentuk bangunan rumah.

Para orangtua Indonesia begitu bangga melihat anak-anak mereka sudah bisa membaca dan berhitung pada tingkat TK. Dalam pada itu anak-anak Eropa pada tahun-tahun pertama di SD masih plegak-pleguk membaca, alih-alih berhitung. Ini seperti membangun rumah di atas. Pihak satu sedang serius menghitung fondasi untuk dibangun, sedang pihak lainnya (Indonesia) langsung memasang lantai dan dinding sehingga langsung tampak bangunan rumah. Anak-anak Indonesia tampak jagoan semasa sekolah ketimbang anak-anak Eropa. Namun saat di perguruan tinggi dan sarjana, anak-anak Eropa secara umum lebih unggul, karena fondasi mereka kokoh.

Bacaan ekumenis Minggu ini diambil dari Injil Matius 4:12-23. Dalam ayat 19 Yesus berkata Simon dan Andreas, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu kan Kujadikan penjala manusia.” Metafora “penjala manusia” sukar dijelaskan, tetapi gambarannya bisa dibayangkan. Gambaran “menjala manusia” bisa dibayangkan dalam upaya Yesus membuat para murid untuk menjadikan semua bangsa murid-murid Yesus sebagaimana diperintahkan Yesus di akhir Injil (Mat. 28:19). Dengan kata lain Yesus hendak membuat para murid menjadi guru untuk mendidik calon-calon murid.

Yesus adalah buah dari pendidikan Yahudi. Cara mendidik murid-murid-Nya tidak lepas dari filsafat pendidikan Yahudi, tidak ada yang sekali jadi. Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya (Luk. 6:40, bdk. Mat. 10:24-25). Murid-murid tidak boleh berharap mendapat pengetahuan dengan cuma-cuma. Haruslah memeras keringat untuk mendapatkannya. Mereka belajar dari Yesus dengan melakukan perjalanan panjang melelahkan, naik-turun gunung, masuk-keluar kota atau desa, di tepian danau, dlsb.

Pendidikan bukan proses sekali jadi. Bukan juga balapan belajar membaca dan berhitung.

Quote of the day:
Who says smoking is killing? School is killing us. Books, textbooks, report cards are made from paper, paper is made from trees, we need trees for oxygen. Thus, school is killing us.

Wassalam,
MDS

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

 
Saturday, January 25, 2020 - 17:30
Kategori Rubrik: