Menjadi China Saja Tidak Cukup

Ilustrasi

Oleh : Herry Tjahjono

(Kisah ini terjadi sekitar 3 tahun lalu, namun gema moralnya masih bertalu-talu sampai kini).

Namanya Handoko Wibowo. Dia WNI keturunan Cina (baca : Tiongjoa). Dia Kristiani. Tapi dialah sosok penting di balik perjuangan petani Batang untuk merebut kembali martabatnya. Dia tinggalkan semua kemapanan dan memilih untuk menjadi pengacara petani tanpa tanah secara gratis alias cuma-cuma. Berkali-kali dituding sebagai provokator, difitnah, bahkan mengalami pembunuhan karakter.

Pada tanggal 19 Desember 2015, sekitar 700 anggota Omah Tani berkumpul, membawa makanan masing-masing dan dimakan bersama-sama. “Slametan” – untuk menandai keberhasilan perjuangan petani dalam kasus redistribusi tanah – ujar Handoko – yang sekaligus dianggap sebagai “guru demokrasi” para petani, nelayan, dan buruh itu.

Namun perjuangan Handoko adalah perjuangan berdarah-darah. Bahkan tahun 2008, kekerasan mencapai puncaknya di mana para preman mau memasukkan investor dan mengusir petani. Mereka menyebar teror, bahkan memakai isu SARA. Namun Handoko memobilisasi kaum ibu untuk berangkat ke lahan dan menjaganya. Setiap malam ia juga meminta mereka mengaji di mushala di rumahnya. Selama delapan tahun mereka shalawatan di rumahnya.
Perjuangan handoko perjuangan anti kekerasan.

Siapa bilang Kristiani dan Muslim tak bisa bergandengan tangan…? ....meski masih banyak yang harus diperjuangkan bersama sahabat…

Kembali pada Handoko - sekali lagi, dia Cina, dia Kristiani. Tapi orang Cina seperti dialah, orang Kristiani seperti dialah – meski hidup dan berjuang di kota kecil Batang – yang tak perlu diragukan lagi rasa cintanya terhadap negeri ini.

Seperti Handoko di Batang, seperti Ahok di Jakarta !

Handoko bisa kaya jika mau. Namun seperti diulas Kompas (26 Desember 2015) : “ Handoko telah memilih jalan hidupnya yang terjal dan membiarkannya mengalir…”

Saya juga Cina, saya juga Kristiani, dan orang-orang seperti Handoko semakin memotivasi saya untuk terus bekerja keras dan berjuang seperti dia – sesuai kapasitas saya sendiri.

SEBAB PADA AKHIRNYA PERLU DISADARI : KITA TAK PERNAH MEMINTA DILAHIRKAN SEBAGAI CINA DI NEGERI INI.

MENJADI CINA DI NEGERI INI ADALAH TAKDIR.

MENJADI CINA BUKAN PILIHAN. MENJADI CINA YANG BAIK ITU PILIHAN.

MAKA MENJADI CINA SAJA, ITU TIDAK CUKUP !

-HT-

Sumber : Status Facebook Herry Tjahjono

Sunday, March 11, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: