Menjadi Anti-Ahok Lebih Mudah daripada Menjadi Seorang Muslim

Oleh : Andi Saiful Haq

Jalan menuju surga tak seperti menumpang Busway.

Imam baru saja membacakan Al-fatihah pada rakaat kedua, suara sesuatu yang pecah membuat suasana salat Jumat berjamaah di pelataran kantin mahasiswa  menjadi gaduh.

Beberapa orang di shaf belakang menghentikan salat dan mengecek ke belakang kantin. Ternyata suara pecahan gelas kopi milik sekelompok mahasiswa yang kebetulan sebagian beragama Kristen dan juga ada yang beragama Islam tapi tidak ikut menunaikan salat Jumat saat itu.

Peristiwa ini tidak pernah saya lupakan detail dan kronologinya. Saat itu saya masih kuliah semester satu dan kebetulan ikut berdiri di shaf paling belakang.

Entah benar atau hanya perasaan subyektif saya, rakaat kedua berlangsung lebih cepat. Mungkin sang imam saat itu mempercepat bacaan salat, mungkin juga sebagian jamaah tidak sempat lagi menyampaikan salam kedua di akhir salatnya.

Yang pasti dalam hitungan singkat, enam orang mahasiswa itu sudah dibawa ke bagian kemahasiswaan. Saya menengok ke dalam ruangan, empat orang yang saya kenali beragama Kristen sudah babak belur dan berdarah. Sementara dua orang lain yang beragama Islam dan berada ditempat yang sama ketika insiden terjadi, dipisahkan di ruangan lain tidak jauh dari ruangan empat orang yang beragama Kristen.

Tiba-tiba teriakan-teriakan: “Bunuh palang! (Palang sebutan yang berasal dari simbol Salib, sebutan untuk yang beragama Kristen), salib Yesus!” menggema di koridor-koridor kampus.

Tidak lebih dari sejam, bau motor dibakar massa, takbir dan seruan untuk mencari dan membunuh, teriakan minta ampun orang-orang yang dikeroyok menjadi pengalaman kekerasan massal yang pertama dalam hidup saya.

Ini bukan cerita fiksi, ini nyata terjadi di depan mata saya. Berbagai identitas sosial beraduk dan saling berkontradiksi dalam diri saya.

Berada di tengah pusaran anak muda yang marah, membuat saya terduduk, selain karena sejak kecil saya memang mengidap hemophobia (pingsan ketika melihat darah), sehingga sejenak saya duduk di salah satu koridor.

Secara cepat otak saya dihadapkan pada pilihan untuk reaksi berikutnya. Sebagai orang beragama Islam saya merasa agama saya telah dihinakan (reaksi awam) dalam insiden itu.

Sebagai orang yang terlahir dari suku Bugis saya melihat seorang dari pelaku adalah senior satu kampung dan beragama Islam, namun jangankan dihukum, kini malah terlihat berada di barisan terdepan untuk melakukan sweeping mencari orang beragam Kristen di kampus dan sekitarnya.

Sebagai mahasiswa Teknik Sipil, satu di antara enam pelaku merupakan senior yang dekat dengan saya. Lebih lagi, keenam orang itu saya kenal baik dan bersahabat meski mereka senior saya di kampus.

Pertanyaan itu tidak lagi saya jawab, ketika tidak jauh dari tempat saya duduk, saya melihat seseorang sedang diseret, wajahnya saya kenali meski sudah berlumuran darah.

Phobia saya pada darah juga tidak lagi bereaksi. Saya secara otomatis berlari dan membenturkan diri ke beberapa orang yang sedang menyeret kawan saya berinisial M itu. Dari latar belakang berbeda, M kawan saya ini terlahir dari suku Toraja dan beragama Kristen.

Saya berusaha sekuat tenaga melepaskan tangan M dari cengkraman orang-orang yang sedang menyeretnya. Saya jadikan tubuh saya sebagai tameng agar tendangan dan pukulan berhenti mendarat di tubuh M, mereka tidak memukul saya hanya karena saya beragama Islam.

Saya tarik M keluar dari kerumunan ke kebun singkong sebelah kampus. M berusaha mengatakan sesuatu, namun saya potong, saya keluarkan uang tiga ribu rupiah dari kantong saya dan memintanya untuk segera mencari angkot dan pergi ke rumah sahabat saya dan juga M. Saya sarankan dia sembunyi di sana.

Saya kembali ke dalam kampus, di gerbang kampus, saya lihat kawan saya berinisial BPS, baru akan memasuki kampus. BPS belum mengerti bahaya yang menunggunya di kampus. Jika saja saya bisa berlari lebih cepat, tentu saya bisa menghindarkan dia dari tragedi itu.

Namun dia tiba lebih dulu. Dari kejauhan saya teriak untuk memberi peringatan, namun jaraknya terlalu jauh. BPS yang mengendarai motor terjatuh sebelum sempat menghentikan kendaraannya dan bertanya.

Beberapa pukulan dan tendangan serta benturan benda padat sudah mendarat di tubuhnya. Saya masuk ke tengah orang-orang itu dan sedikit memberi ruang BPS untuk lari menjauh.

Berbeda dengan M yang diseret dari dalam ruangan kuliah, untungnya BPS memiliki ruang yang lebih terbuka untuk lari. Beberapa orang kawan terlihat mengambil posisis serupa dengan saya.

Meski lebih dulu berselisih paham dengan beberapa kawan kampus, akhirnya saya dan seorang kawan bernama Yok sapaan dari Hudaya Gobel yang berasal dari Gorontalo, kami berhasil membawa motor milik BPS pergi menuju rumah Yok yang kebetulan dekat dengan kampus.

Tanpa melewati rapat-rapat resmi, secara otomatis rumah Hudaya Gobel itu menjadi posko darurat untuk mengecek siapa saja kawan-kawan yang jadi korban dan yang masih bisa dikontak agar tidak menuju kampus.

Sebagian yang kami bisa kontak akhirnya datang ke rumah Yok untuk membantu. Yok ini berasal dari keluarga Gorontalo beragama Islam. Reaksi otak saya secara cepat mempercayai dan memastikan rumah itu aman, tanpa berkomunikasi dengan yang bersangkutan.

Semua terjadi seperti sebuah adegan film yang sudah ditulis dengan apik. Sahabat-sahabat saya dari latar belakang suku dan agama yang berbeda, hadir di sana. Tidak ada yang melebihi kebahagiaan di saat darurat seperti itu, selain melihat sahabat-sahabat kita berdiri dalam keyakinan  yang sama.

Singkat cerita, kampus diliburkan selama satu minggu. Setelahnya, semua orang seperti melupakan kejadian itu.

Yang ingin saya sampaikan lewat kisah ini tidak lain adalah pengalaman kita sebagai bangsa dan sebagai makhluk beragama. Hanya karena satu gelas kopi yang tidak segaja terjatuh di waktu dan tempat yang salah, Indonesia bisa retak dan pecah dalam hitungan menit.

Yang tadinya tenang dalam salat, bisa mendahulukan amarahnya dan mengakhiri salatnya untuk mengecek sumber suara.

Yang tadinya beragama dan berbicara santun, bisa menjadi sosok malaikat pencabut nyawa. Dengan wajah merah menyeret kawan satu kampusnya sambil membiarkan tendangan dan pukulan nyaris menghilangkan nyawa sahabatnya.

Yang lebih banyak saya perhatikan, mereka yang sering minum dan berjudi di kampus dan sekitarnya, malah berteriak paling lantang: “Bunuh Palang, salib Yesus!”

Padahal di saat yang sama mereka tidak ikut menunaikan salat Jumat. Merekalah yang terlihat paling saleh, paling Islam dan paling berjihad saat itu.

Anda pasti pernah mendengar kalimat, "gue emang kagak salat, tapi loe ganggu agama gue, gue bacok loe!"

Ini sejenis parasit yang melekat pada umat di agama mana pun.

Bahkan otak saya tidak perlu berpikir untuk bisa membiarkan hal seperti itu terjadi. Ini juga yang membuat saya menyatakan mendukung Basuki Tjahaja Purnama dalam Pilkada DKI Jakarta.

Selain karena saya mengenal Ahok sebagaimana tubuh saya otomatis percaya pada Yok, Jupri Juma, M dan BPS tanpa perlu berkomunikasi dengan mereka. Karena pengalaman pribadi saya percaya bahwa mereka tidak mungkin melakukan itu.

Hal lain yang semakin mendorong saya berpikir untuk berdiri membela Ahok, karena kebanyakan dari mereka yang anti-Ahok sebenarnya bukan juga mereka yang benar-benar menjadi panutan dalam kesalehan menjalankan agama Islam. Sama seperti yang terjadi di kampus saya.

Mungkin mereka berpikir, dosa yang sudah sedemikian tebal sangat sulit untuk menjangkau surga Allah, sehingga menganggap jalan menuju surga itu seperti menumpang busway. Bahwa ada jalan pintas menuju surga tanpa harus bertaubat dan menjalankan syariat Islam yang rumit lainnya. Cukup dengan memaki Ahok maka pintu sorga akan terbuka lebar.

Itu yang menjadi akar intoleransi, ketakutan atau fobia terhadap dosa-dosa yang mereka lakukan, sehingga mencari pembenaran di luar diri, bahwa walaupun dosa saya sangat besar, namun ada "orang lain" dan kebetulan saat ini bernama Ahok yang lebih hina derajatnya dan karenanya dengan meneriaki Ahok, maka pahala akan dilipatgandakan. Kapan lagi dapat kesempatan berbuat dosa dengan imbalan surga.

Bagaimana pun, menjadi anti-Ahok jauh lebih mudah ketimbang menjadi seorang Muslim yang menjalankan secara konsisten ajaran dan hakiakat agama Islam yang merupakan rahmat seluruh semesta.

Menjadi seorang Muslim, selain harus taat menjalankan syariat (salat, puasa, zakat dll) Anda dituntut untuk menjaga akal budi dan perilaku sosial agar semakin membesarkan syiar agama.

Sama juga dengan lebih mudah menjadi pemimpin di kelompok kecil yang brutal dan militan, ketimbang menjadi seorang warga negara yang memiliki kewajiban merawat keragaman dan bersetia pada konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Atau juga bisa dikatakan, menjatuhkan Ahok jauh lebih mudah daripada menjadi lebih baik dari Ahok.

Untuk para pencari jalan pintas yang berpikir menuju surga seperti menumpang busway.**

Sumber : Qureta

Saturday, February 25, 2017 - 14:15
Kategori Rubrik: