Menimbang Kombatan Eks ISIS

ilustrasi

Oleh : Vinanda Febriani

Sedikit saya cerita deh...

Sore tadi saya berbincang dengan Pak Nasir Abas via Whatsapp. Kalau ada yang belum tahu, beliau merupakan mantan petinggi Jemaah Islamiyah Asia Tenggara asal Malaysia (JI/salah satu organisasi teroris Asia Tenggara). Buat yang mau kenalan sama beliau, bisa dibaca profilnya disini: https://tirto.id/m/nasir-abbas-rs

Perbincangan kami sore tadi masih seputaran wacana pemerintah dalam memulangkan 600 (kurang lebih segitu yang dituliskan media) WNI eks Kombatan ISIS yang mana kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak. Pak Nasir sendiri turut menyayangkan jika benar sebanyak itu hendak dipulangkan semua. Beliau menilai, pemerintah sendiri masih terkesan belum siap dalam menghadapinya.

Bejibun kasus intoleransi belum selesai, ini malah ditambah-tambahi pemulangan eks ISIS. Kata beliau, "Mereka yang sudah bergabung ISIS lebih parah lagi intoleran nya".

Dalam perbincangan itu, saya tetiba teringat sosok Dita Oepardi, seorang yang telah mengkompori Istri beserta anak-anaknya agar mau berjihad dengan cara mengebom 3 Gereja di Surabaya, beberapa tahun lalu. Seingat saya, Pak Tito Karnavian --dulu masih menjabat sebagai Kapolri-- pernah mengatakan bahwa Dita Oepardi beserta keluarga baru saja pulang dari Suriah dalam rangka belajar teknik perang --ternyata saya cek di berita, Pak Tito sudah mengklarifikasinya. Saya saja yang kudet atau mungkin sudah lupa--. Lantas Pak Nasir langsung menyanggah memori saya tersebut, 

"Dita tidak pernah ke Suriah, tapi Dita dan keluarganya di rekrut sama yang pulang dari Suriah. Jika 600 mantan ISIS (dalam wacana kali ini) pulang dan merekrut, mau jadi apa negara kita?" Balasnya.

Pak Nasir menambahkan, mereka (calon returned ISIS) harus di deradikalisasi sejak di Turki, lalu tandatangan setia kepada NKRI dan harus menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap hari di Turki serta harus baca Pancasila setiap hari di sana. Bagi yang tidak mau lakukan, ya jangan di bawa pulang ke RI. Kemudian setelah sampai di Indonesia, harus di karantina selama 1-2 tahun untuk di deradikalisasi. Namun Kami berdua sama-sama menyayangkan program deradikalisasi di Indonesia yang dirasa kurang optimal.

Sedangkan Kyai As'ad Said Ali saat saya bertanya via Whatsapp terkait wacana pemulangan WNI eks-Kombatan ISIS tersebut, jawab beliau, " Kalau Ibu-Ibu dan anak anak kecil ya nggak masalah. Tapi harus ada pembinaan sebelum di lepas di masyarakat."

Sumber : Status Facebook Vinanda Febriani

Wednesday, February 5, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: