Menimbang Klaim Semua Sahabat Adil

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Jarang sekali saya bertemu buku yang begitu saya pegang memicu adrenalin, tak ingin berhenti memyusuri halaman demi halamannya sampai akhir. Salah satunya buku, "Genealogi Hadis Politis al Muawiyat".

Misi penulisnya ingin meruntuhkan postulat terkenal dalam ilmu hadis Sunni" كل صحابي عدول" , semua sahabat adil (dapat diterima periwayatannya).

Saya sebutkan Suni, karena Syiah memberikan banyak pengecualian, mereka hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh Ahli Bait Nabi, dan Sahabat yang terang-terangan Pro Imam Ali, seperti Abu Dzar, Kumail dll. Sementara Abu Hurairah, Sayidah Aisyah, Abu Bakar, Umar dll mereka tolak mentah-mentah.

Kaidah "Seluruh sahabat Adil" sangat mengakar dikalangan Suni. Implikasi terhadap periwayatan hadis, implikasi terhadap fikih, implikasi terhadap sejarah dan implikasinya terhadap teologi sangat besar. Oleh karena itu kaidah itu ditopang oleh banyak kaidah lain, misalanya Ibn Ruslan menulis,

وما جرى بين صحابي نسكت ** عنه ونحن على اجر الاجتهاد نثبت
"Atas perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat kita memilih diam tidak berkomentat

Dan kita meyakini semua sahabat mendapat pahala ijtihad atas semua perbuatannya".

Buku ini hendak meruntuhkan pohon besar keyakinan Suni tentang keadilan sahabat sampai akar-akarnya. Sebagai produk akademik yang dipublikasi, khususnya bagi kalangan tradisional seperti NU, "proyek" penulis ini dahsyat sekali, menghentak nurani yang telah lama bergenerasi disirami dogma teologis.

Akan tetapi dalam ruang-ruang tertutup ada juga tokoh besar NU yang saya tahu menolak klaim semua sahabat Nabi adil itu, dan salah satu alasan penolakan itu adalah sikap Muawiyah, keluarganya dan patron politiknya yang membabat habis Ali dan Syi'isme Ali, pendukung Ali. Mungkin ada juga tokoh NU lain.

Ada sebuah buku yang secara tidak langsung mengkritik anggapan keadilan sahabat Nabi, buku Ghayatu Tabjil, buku itu diberi pengantar oleh Habib Umar bin Hafidz dan Habib Abu Bakat Adniy.

Banyak hal yang disampaikan dalam buku itu. Diantaranya, pertama, kekejaman Muawiyah dan pendukungnya yang memaksa imam Ali mengekseksui 25000 demonstran yang berakhir terhadap pembunuhan Ustman. Imam Ali menolak, Muawiyah memaksa.

Kedua, Muawiyah dan Muawiyah menghabisi warisan intelektual Imam Ali. Diantara sahabat besar Nabi, imam Ali hidup 30 tahun setelah Nabi wafat, Abu Bakar 2 tahun setelah Nabi wafat, Umar 4.5 tahun, utsman 16.5 tahun.

Anehnya kata penulis buku Ghayatu Tabjil, kenapa warisan intelektual Ali sama sekali hilang, padahal Ali menjadi Hakim semenjak kekhalifahan Abi Bakar, Umar bahkan Utsman. Kemana rimbanya riwayat, fatwa, dan tafsir Imam Ali. Kenapa ada fikih Umar yang hidup 4.5 tahun setelah Nabi wafat, sementara tidak ada fikih Ali, tafsir Ali padahal Imam Ali baru wafat 30 tahun setelah Nabi? Kira-kira seperti itu.

Logika yang dibangun, semakin panjang usia seorang sahabat setelah Nabi wafat semakin banyak sahabat muda dan tabiin yang berguru kepadanya, semakin banyak riwayat yang disebarkan murid-muridnya.

Dan tentu semua riwayat itu mengafirmasi nama Ali, Ali, Ali, sebagaimana periwayat sahabat dan Tabiin mengafirmasi Abu Hurairah dan Aisyah, Aisyah. Kenapa ada Aisyah, dan Abu Hurairah sementara Ali tidak padahal Imam Ali termasuk min a'lami sahabat, sahabat paling genius dan cerdas bahkan Nabi menyebutnya pintu kota ilmu. Dan kota ilmunya adalah Nabi sendiri.

Ketiga, Muawiyah dan penguasa Umayah setelahnya mengecam dan melaknat Ali lebih dari 30 tahun pada khutbah jumat dan mimbar pengajian diseluruh kota, sampai Umar bin Abdul Aziz menjadi penguasa Umayah.

Keempat, nyaris tidak dijumpai hadis saheh mengenai keutamaan Ali dan keluarga Nabi. Semuanya diberangus habis oleh penguasa.

Tiga point terakhir itu juga yang dielaborasi secara apik dalam buku yang sedang saya baca ini, "Genealogi Hadis Politik Al Muawiyat".

Buku ini juga memberi pemahaman ilmu pengetahuan dan pusat akademik disetiap jaman dipengeruhi ideologi penguasa. Ilmu pengetahuan tidak sepenuhnya mewakili semangat jamannya.

Sebagai karya akademik, yang menyajikan data Suni maupun Syiar secara berimbang, saya dan seharusnya kita semua memyambutnya dengan gembira.

Hemat saya, penulisan seperti ini termasuk dalam tajdid pemikiran Islam, revisionisme Islam sebenarnya. Bukan mengutak ngatik sesuatu yang telah menjadi ijma ulama, seperti validitas al-Quran, historisitas Nabi dll.

Yang membuat saya kaget penulis buku ini sangat narsis. Saya tidak ada apa-apanya dibanding "keangkuhan" akademik penulis buku ini. Mislnya dalam banyak kalimat dia mengkritik Prof Masykuri, sebagai tidak kompeten, sambil menyebut dirinya cerdas. Kalau kita membaca buku-buku ulama kuno, seperti Asuyuthi, narsisme seperti itu sangat wajar.

Saya jadi terkenang pengalaman sendiri, saya baru 1 kali mengatakan dalam sebuah diskusi dengan dosen, "materi ini sudah selesai dalam perdebatan ulama tidak ada yang baru", sekali itu saja jadi dosa abadi yang diingat 8 tahun dan dipakai untuk menghakimi saya ketika saya salah dan membutuhkan syafaat. Sikap saya seperti itu dijadikan dasar untuk menganggap saya sombong, tidak nJawani.

Saya berpikir bagaiamana kalau saya melakukan "pengkerdilan" kepada dosen saya seperti yang dilakukan Dr. Muhammad Babul Ulum mengkritik Direktur Pascasarjana UIN Jakarta yang bernama Prof Masykuri itu. Saya hanya bisa mengandai-ngandai.

Sangat senang ternyata ada orang Pekalongan, asli Buaran, Dr. Muhammad Babul Ulum, yang menulis buku serius seperti ini.

Terimakasih bang Yaser Muhammad Arafat atas kiriman buku bagusnya.

Sumber : Status facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, February 26, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: