Menimbang Eks ISIS Kembali Ke Indonesia

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Masalah anggota ISIS asal Indonesia ini memang rumit, saya melihatnya tidak hitam putih.

Sebagian dari mereka memang sudah terlanjur termakan oleh propaganda ekstremisme di level aqidah, dan ini sulit sekali untuk disembuhkan. Beberapa orang yang pernah termakan doktrin sesat ini kemudian di Indonesia menjadi bagian dari jaringan teror, seperti kejadian bom Surabaya. Wajar kalau ada yang khawatir, kalau mereka kembali ke Indonesia, mereka akan main bawah tanah untuk membuat masalah besar bagi negeri ini. Ini yang saya tangkap dari kekhawatiran Presiden, Menkopolkam, dll.

Di sisi lain, ada juga yang bergabung dengan ISIS, karena menjadi korban hoax bahwa disana itu kehidupan sangat ideal. Setelah mereka sebentar disana, tidak sedikit yang kemudian menyadari kesalahan besar mereka, dan berusaha untuk kabur dari sarang ISIS.

Saya pernah satu forum dengan Nur Dhania, ia adalah gadis yang ketika usia 16 tahun, berhasil membujuk keluarganya untuk pindah ke Suriah. Saya ngobrol berdua cukup lama, untuk bisa tahu apa yang terjadi dengan keluarganya.

Nur Dhania ini anak yang sebenarnya cerdas, tapi ia sempat termakan propaganda yang dibuat oleh anak muda bule dari Inggris yang sudah jadi anggota ISIS melalui media sosial. Di keluarganya juga ada yang sudah termakan propaganda serupa, dan akhirnya mereka yang mengkondisikan untuk bisa berangkat ke Suriah.

Beberapa waktu sesudah mereka mulai hidup di Suriah, ternyata situasi jauh berbeda dengan apa yang dikampanyekan melalui media sosial. Banyak praktek yang terang melanggar nilai Islam, dan mereka mulai resah. Akhirnya mereka berusaha menyelinap keluar dari daerah ISIS, meskipun pertaruhan nyawanya juga sangat besar. Hingga akhirnya bisa kembali lagi ke Indonesia.

Saat ini Nur Dhania menjadi salah satu duta anti radikalisme yang aktif menyadarkan masyarakat, khususnya generasi mudah, untuk tidak mudah termakan hasutan kaum khawarij seperti ISIS.

Jadi menurut saya, persoalan terkait anggota ISIS ini kompleks, sehingga tidak bisa dibuat mudah dengan menyederhanakan apakah kita mau menerima atau menolak saja. Keputusan mungkin harus dibuat dengan dasar observasi individual, dan tidak bisa tergesa-gesa. Kita tentu perlu memberikan peluang hidup kedua bagi mereka yang pernah terlanjur berbuat kesalahan besar, selama tidak membuka peluang baru kerusakan di negeri kita. Namun kita juga punya tugas untuk memastikan tidak ada ancaman laten yang mengganggu kedamaian negeri kita, sehingga harus hati-hati dalam membuat keputusan.

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Friday, February 7, 2020 - 12:45
Kategori Rubrik: