Menimbang Amanah

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Kenangan setahun silam. Saya suka karya kreativitas pak Eko Sumargo dan om Koekoeh Hadi Santosa...

Kemarin adalah hari dimana saya sebenarnya menangis dalam hati ketika para sahabat mengucapkan selamat. Saya dalam kondisi bingung harus berkata apa. Di kantor saya tersenyum mendapat ucapan selamat dari para kolega, sementara hati saya galau. Siapa nanti yang harus mengajar mata kuliah Data Mining, Metaheuristik dan statistik multivariate di TI ITS?

Jangan bayangkan jabatan rektor di iTK, seperti rektor di PT besar di Jawa. Tugas dan tanggungjawab di ITK lebih besar dari imbalannya, mungkin begitu gambarannya.
Bagi saya pribadi dan keluarga berkarya di ITS adalah pilihan yang nyaman, serta aman. Di hari-hari biasa saya banyak mengajar mata kuliah di prodi S2 dan sedikit di S1 Teknik Industri. Di akhir pekan saya mengajar di prodi MMT. Rumah saya hanya 5 menit jalan kaki ke kantor.
Ada beberapa bimbingan mahasiswa S3 yang menunggu untuk bisa segera lulus. Dan mereka menjanjikan hasil publikasi yang baik , yang juga penting untuk diri saya.
Kini tugas baru menunggu. Saya melihatnya sebagai tugas dan tanggungjawab yang berat. Mengapa saya mau?

Dulu, pernah sekali saya diundang ke Institut Teknologi Kalimantan untuk memberikan penjelasan dan pembekalan kepada para dosen muda dan tenaga kependidikan mengenai pengisian dokumen akreditasi.
Lalu para dosen muda itu berinisiatif mengajukan hibah ke dikti untuk persiapan akreditasi. Lagi-lagi saya diundang dijadikan narasumber. Bolak-balik saya ke sana untuk membantu menyiapkan dokumen akreditasi baik untuk prodi dan AIPT.
Ketika ITK dibuka banyak pejuang, rektor dan wakil rektor tendik dan dosen yang harus hidup dalam kesulitan. Di tanah bekas hutan itu jalannya masih sangat jelek, belum beraspal, tidak ada air, tidak ada listrik. Bisa dibayangkan bagaimana beratnya hidup seperti itu bagi mereka yang terbiasa nyaman hidup di Surabaya, dimana semua ada. Bahkan untuk makanan, di Surabaya lebih murah. Mereka harus hidup dengan honor PNS tetapi ongkos-ongkos lebih mahal dan alam yang sulit. Maka melihat kondisi di sana dan mendengar cerita itu saya terharu dengan perjuangan para dosen muda itu (terima kasih juga untuk pejabat lama yang sudah mengawali pekerjaan-pekerjaan sulit).

Beberapa dosen muda yang penuh semangat itu mulai membicarakan soal rektor berikutnya kepada saya.
Saya sungguh tidak tertarik dan saya tidak pantas untuk jabatan itu. Kalau pun saya harus ke sana, maunya ditugaskan bukan mencalonkan diri.
Beberapa bulan kemudian tibalah saatnya pemilihan rektor baru , didahului dengan pengumuman menjaring bakal calon yang disebarkan ke beberapa institusi.
Tentu tidak banyak yang berminat karena memang hampir tidak ada daya tarik yang diberikan di ITK.
Akhirnya beberapa orang datang ke Teknik Industri ITS meminta saya untuk mendaftar bacarek (bakal calon rektor). Saya nggak bisa menolak dengan niat agar proses pemilihan bisa berjalan lancar dengan cukupnya jumlah calon.

Di putaran pertama saya harus presentasi program saya. Saya datang dengan apa adanya. Setelah itu dimulailah pemilihan di Senat ITK untuk menjaring 3 dari 4 bacarek yang ada. Dari 4 calon yang ada saya dapat suara paling sedikit kedua. Ada satu calon tidak mendapat suara. Saya sedih tidak mendapat dukungan. Tapi saya juga happy, tidak akan bertugas ke sana.
Tapi itu belum selesai. Ada putaran kedua, suara senat ditambah suara menteri ristekdikti.

Pagi-pagi kemarin ada sahabat yang entah ada firasat apa menanyakan hasil pilrek ITK yang sudah lama tertunda. Padahal dia nggak tahu bahwa siangnya adalah jadwal pemilihan putaran akhir. Teman itu juga tiba-tiba saja bertanya, padahal saya memintanya menyanyikan lagu saya. Saya jadi kepikiran. Dan hasilnya seperti kemarin itu. Saya berucap innalilahi wa innailaihi roji'un. Saya mendapatkan makna sesungguhnya dari kalimat itu di kasus ini. Saya hanya mengirim hasil pilrek ke teman yang bertanya pada paginya dan grup kakak adik saya. Bahkan saya kirim ke istri dan anak saya belakangan. Saya tidak ingin mengabarkan berita ini.

Apa itu ITK?

Awalnya menteri pendidikan ketika itu, Muhammad Nuh, berharap agar Pulau Kalimantan dan Sumatera bisa semakin maju dengan menyediakan SDM berkualitas di bidang sains dan teknik, sehingga perlu ada Institut Teknologi seperti halnya dua institut di Jawa ITB dan ITS. Maka didirikanlah Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dan Institut Teknologi Sumatera (Itera). ITK di bawah binaan ITS dan Itera dibawah binaan ITB.
ITK dibuka secara resmi pada 6 Oktober 2014. Bertempat di sebelah utara Balikpapan, kira-kira 13 km, kini mempunyai 14 prodi. Beberapa prodi mendapat akreditasi B dan institusi sedang menunggu hasil akreditasinya beberapa minggu ke depan. ITK perlu dukungan agar pembangunan SDM bisa lebih merata di luar pulau Jawa.

Saya yakin sumber utama kemajuan institusi pendidikan adalah pada kualitas SDM nya, baik dosen maupun staf tenaga kependidikan (tendik). Tantangan besar adalah mendapatkan SDM dosen dan tendik yang berkualitas. Sulit mengajak orang untuk berkarir di sana. Hanya orang-orang yang punya niat membangun dan berjuang memajukan pendidikan, yang dengan suka rela mau ke sana. Beberapa terpaksa karena tidak ada pilihan. Beberapa dosen keluar karena mendapat pekerjaan di tempat lain.
Posisi saya, saya harus menghargai niat baik para dosen muda yang mendukung saya. Bagi saya pribadi dan keluarga, di ITS jauh lebih enak baik dari sisi kenyamanan maupun dari sisi finansial. Tetapi saya niatkan dalam hati mudah-mudahan saya bisa berbuat lebih untuk ITK, untuk pendidikan di Indonesia. Mohon dukungan para sahabat, termasuk nanti kalau kami butuh dosen, butuh kerjasama dengan industri, butuh pembicara tamu, sponsorship dan sebagainya. Semua untuk ITK , untuk Indonesia.

Sumber : Status facebook Budi Santoso Purwokartiko

Thursday, December 12, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: