Menimbang Agus, Ahok dan Anies

Ilustrasi

Oleh Sumanto Al Qurtuby

Sebetulnya dulu, ketika nama Ahok diusung jadi kandidat gubernur DKI, saya berharap akan muncul nama-nama calon lain, khususnya calon Muslim, yang kredibel seperti Ridwan Kamil atau Bu Risma, tentu "pentas politik" atau "drama Pilkada" DKI akan semakin asyik, seru, dan menarik. Ini Jakarta bung, butuh sentuhan orang-orang hebat dan tangguh dan berkualitas yang sudah terbukti karyanya, untuk mengelola kota mega-metropolitan ini. Ini ibukota RI, jangan main-main dan sembarangan memilih calon.

Tetapi ketika yang muncul ke permukaan adalah sosok Agus dan Anies, sebagai rival Ahok, saya jadi "putus harapan". Agus masih "bau kencur" belum tahu akan seperti apa wujudnya karena masih terlalu muda-belia dan tidak memiliki pengalaman sama sekali di dunia pemerintahan. Seandainya terpilih, yang jadi "gubernurnya" nanti paling Pak SBY. Agus cuma bilang: "Yes pepoh" he he.

Sementara Anies cuma bisa berakting doang seperti "bintang sinetron". Dia cuma menang gaya, miskin kerja. Sukanya "ngeles" doang" seperti Mario Teguh he he. Itulah sebabnya kenapa dulu Pak Jokowi "menceraikannya". Catatan lagi: karakter Anies sepertinya orang yang "oportunis" dan tidak memiliki "idealisme" yang kuat. Orang "oportunis" itu biasanya bisa dengan gampang berpindah haluan: tergantung arah angin berhembus kemana, tergantung kelompok mana yang dianggap bisa menguntungkannya. Itulah sebabnya kenapa ia dalam sekejap bisa berubah drastis 180 derajat: antara "Anies dulu" dan "Anies sekarang". Mungkin istilah Arabnya: "Anies qadim" dan "Anies jadid" he he. Karakter orang oportunis itu akan berbahaya kalau menjadi "kepala daerah" karena "karakternya" kesana-kemari he he.

Karena itu, menurutku, baik Agus maupun Anies sama sekali bukan lawan imbang bagi sosok Ahok yang sangat idealis dan perkasa, baik dari segi konsep maupun karya nyata. Ibarat sebuah pertarungan tinju, Ahok itu petinju kelas berat, Agus baru belajar tinju, sedangkan Anies itu bukan petinju tapi "pengamat tinju" he he. Jadi ya memang tidak imbang.

Saya ngomong begini murni pengamatan sebagai pengamat dan akademisi independen. Saya bukan tim sukses paslon. Saya bukan aktivis parpol. Bukan pula karena dibayar oleh "tim Ahok" atau menikmati "dana korupsi" Ahok seperti dituduhkan dengan keji oleh sejumlah orang. Saya bukan orang kaya, tapi saya juga bukan orang miskin. Saya itu "orang cukup". Saya sudah bisa makan tanpa menjadi "jongos" paslon manapun.

Seandainya Ahok memang benar "menista Al-Qur'an", saya akan kritik dia. Tapi data-data yang ada, tidak menyakinkanku tentang hal ini. Seandainya pidato Ahok tidak diedit oleh "makhluk satu" itu, tentu kasus ini tidak akan melebar seperti sekarang. Tapi apa lacur, semua sudah terlanjur terjadi. Kebohongan yang diulang-ulang, lama kelamaan akan dianggap sebagai sebuah "kebenaran" seperti dalam kasus "penistaan agama" yang menimpa Ahok ini.

Tetapi sebenarnya yang hobi ribut itu hanya para "elit agama" di Jakarta saja. Lihat daftar di KPU, ada sekitar 101 Pilkada yang akan digelar serentak di Indonesia bulan ini, dan Ahok bukan satu-satunya non-Muslim (Kristen) atau Tionghoa yang dicalonkan sebagai paslon. Tapi di daerah-daerah lain adem-ayem, biasa-biasa saja tuh. Tidak ribut. Memang hanya Jakarta saja sepertinya yang orang-orangnya seperti "ayam mau bertelor": berisik kesana-kemari he he.

Ayo nyusu lagi biar tambah gede dan pinter, apalagi ditambah makan "molen Arab" dan "apem Arab" pasti lebih asoy lagi he he.

Sumber : Status Facebook Sumanto Al Qurtuby (Dosen King Fahd University)

Sunday, February 12, 2017 - 20:15
Kategori Rubrik: