Menilai Prabowo

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Konon kita tak boleh menilai orang lain, apalagi menilai orang lain itu lebih jelek daripada kita. Bisa jadi kita sendiri nyatanya lebih jelek dari orang lain tadi. Itu kata orangtua, yang konon pula mengutip agama.

Kalau menilai per-pribadi, dan untuk kepentingan pribadi, nasihat itu mungkin baik adanya. Tapi tidak ketika kita ngomongin keberadaan seseorang yang bisa mempengaruhi hajad-hidup banyak orang dan kepentingan. Menilai Muhadjir Effendi misalnya, dikaitkan dengan potensi kewenangannya yang bisa membuat para ortu sport jantung dan mobat-mabit kesana-kemari.

 

 

Tak ada yang salah dalam melakukan penilaian dalam konteks itu, sepanjang bukan fitnah atau hoax. Apalagi di dunia ini, tak pernah ada dua pendapat yang sama. Begitu pula perihal dua helai rambut atau dua butir biji padi. Kualitas yang paling universal adalah keberagaman, begitu kata seorang filsuf yang saya lupa siapa. Mungkin Anda!

Tapi menurut Imam Syafi'i, “Menganggap benar dengan hanya satu pandangan merupakan suatu bentuk ketertipuan.” Mengapa tertipu? Nah, ini soal daya tangkap. “Segala sesuatu yang kita dengar adalah pendapat, bukan fakta,” berkata Marcus Aurelius Sang Kaisar Romawi Kuno. “Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran.” 

Orang kuna saja bisa berpendapat seperti itu. Orang sekarang, sudah punya android5G masih saja dongok. Doyan hoax dan ngakngikngok mulu. Dongok kok kayak ada yang merintah, meski pun boleh jadi demikian, sebagaimana pendapat essais dan filsuf Perancis Michel Eyquem de Montaigne; “Siapa yang menegakkan pendapat dengan perintah dan keributan, dia memiliki argumentasi yang lemah.”

Waduh! Apakah Mbambang Widjokongkow orang lemah? Hus! The recipe for perpetual ignorance is: Be satisfied with your opinions and content with your knowledge, ujar Elbert Hubbard, penulis Amerika Serikat abad 19. Resep untuk kebodohan abadi adalah: puas dengan pendapatmu dan puas dengan pengetahuanmu.

Adapun mengenai orang bodoh, menurut sang humoris Josh Billings (1818-1885), “Ada dua jenis orang bodoh: mereka yang tidak bisa dan tidak akan mengubah pendapat mereka.” Sungguh pendapat yang bagus, meski banyak yang membelokkan arah. Banyak pendapat bagus yang dirusak orang-orang bodoh yang tak paham apa yang dia bicarakan, seperti ujar Miguel De Unamuno. Bagaimana contohnya?

Lha terus, menilai Prabowo-nya mana? Ah, sudah banyak penilaian untuknya. Menilai kebaikannya, nanti dikira fitnah. Menilai keburukannya, nanti dikira iri. Jadi, lebih baik kita menilai apa adanya, dengan ketentuan dan syarat berlaku. Kecuali kita setuju dengan pendapat Amien Rais; Bahwa pada Mei 1998, orang itu mengatakan Prabowo harus dimahmilubkan. Kalau sekarang? Amien Rais mungkin yang perlu dimahmilubkan!

Lho, Amien 'kan bukan militer? Lhah, mahmilub 'kan mahkamah milenial luar biasa? Adili via medsos, atau via vallen!

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, June 25, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: