Menilai Intisari Pidato Menteri Pendidikan

ilustrasi

Oleh : Erizeli Bandaro

Biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi oleh kata-kata inspiratif dan retorik. Mohon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda. Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia dari Sabang sampai Merauke,

Guru Indonesia yang Tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit.

Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.

Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

Anda frustasi karena anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.

Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.

Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama.

Besok, di mana pun anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas anda.

Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar.
Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas
Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.
Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.
Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.
Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.

Sekali lagi kita harus belajar dari negeri China...:

Apa kunci kemajuan China....?

Jawabannya adalah reformasi pendidikan.

Mengapa....?

Apapun kebijakan ekonomi..., tidak akan berhasil bila sistem pendidikan tidak diperbaiki.

Di China sejak reformasi ekonomi Deng..., juga pada waktu bersamaan terjadi reformasi pendidikan.

Di sana..., orang lulus sekolah tidak ada nilai pada ijazahnya...; yang ada hanya surat tanda lulus.

Di China..., tidak ada kehormatan terhadap gelar kesarjanaan.

Di era presiden Hu Jintao..., pendidikan luar sekolah diakui sejajar dengan pendidikan formal...; sehingga orang belajar di sekolah motif nya ya murni untuk belajar.

Bagaimana belajarnya...?

China menghapus program hapalan dan dogma..., yang menentukan salah benar.

Makanya di China ujian sekolah lebih banyak menggunakan essay .., daripada multiple choice.

Mengapa....?

Reformasi pendidkan di China orientasinya adalah mengarahkan orang untuk mampu memprogram dirinya sendiri.

Jadi..., kehormatan akan kebebasan berpikir itulah yang dibangun di sekolah.

Mengapa....?

Mungkin semua tahu..., apa yang dimaksud dengan Program pada sistem komputer.

Secara umum..., program merupakan kumpulan instruksi atau kode bahasa .., yang hanya dimengerti oleh komputer.

Instruksi tersebut berfungsi untuk mengatur pekerjaan yang akan dilakukan oleh komputer..., untuk mendapatkan hasil atau output dengan maksud untuk memudahkan penggunanya.

Tujuan ditulisnya sebuah program..., adalah memudahkan suatu proses untuk menghasilkan output yang diinginkan oleh pembuat program.

Orang yang membuat program..., disebut dengan pemrograman atau programmer.

Nah..., manusia juga punya program dalam dirinya...; atau semacam cell programming entity.

Kalau komputer yang membuat program adalah manusia..., maka bagaimana dengan manusia, siapa yang membuat programnya....?

Yang membuatnya adalah kita sendiri dan orang lain.

Artinya..., diri kita bisa membuat sendiri program untuk diri kita..., dan orang lain juga bisa membuat program itu untuk kita.

Contoh...: dari kecil kita mengenal cinta dari kedua orang tua..., maka selanjutnya itu akan menjadi program dalam diri kita.

Guru di sekolah menanamkan program dalam diri kita.

Lingkungan keluarga juga berperan meng create program dalam diri kita.

Lingkungan persahabatan..., juga berperan.

Apa artinya....?

Sebagian besar program dalam diri kita itu ditulis oleh orang lain...; makanya manusia itu menjadi makhluk sosial yang bisa jadi follower buta terhadap kecintaan akan merek..., aliran atau isme..., orientasi..., agama..., maupun idiologi.

Tetapi program yang datang dari luar itu..., bisa di re-program atau diprogram ulang oleh diri kita sendiri..., sehingga menghasilkan software yang cocok untuk diri kita sendiri.

Itulah pentingnya kebebasan berpikir..., yang bisa membedakan mana metodelogi dan mana tujuan.

Orang China memandang pelajaran sekolah..., idiologi..., dan agama hanyalah metodelogi untuk mencapai tujuan.

Makanya mereka tidak pusing walau hanya ada satu partai..., Partai Komunis China.

Tidak pusing dengan urusah keyakinan beragama orang lain.

Tidak pusing dengan titel. ("Khan hanya metodelogi..., bukan tujuan..., bukan hal esensial..., ngapain juga dipersoalkan....“).

Nah..., apabila kita sudah mampu memprogram diri kita sendiri..., maka kita telah menjadi diri kita sendiri.

Kita telah berhasil mengalahkan diri kita sendiri..., sudah berhasil menjadi pemimpin atas diri kita sendiri.

Jadi..., tidak mungkin gampang di PHP...., tidak mungkin gampang baper..., dan tidak mungkin gampang jadi follower semacam aksi2/demo yang gak jelas..., tidak mungkin mudah mengeluh...; sehingga tidak mungkin orang lain gampang menggiring kita jadi korban MLM.

Kesimpulannya...: Program pendidikan adalah melatih orang untuk punya kemampuan memprogram dirinya sendiri..., menjadi manusia yang bisa membentuk dirinya sendiri..., yang mandiri..., kreatif..., inovatif..., dan tangguh.

Itulah esensi dari pidato Mas Menteri Pendidikan.

Sangat visioner dan mendasar sekali.

Semoga kita bisa berubah.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Erizeli Bandaro

Tuesday, November 26, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: