Menikmati Era Kenormalan Baru

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Ada kegiatan baru saya menjelang tidur beberapa hari ini: kuliah filsafat! Kuliah sambil rebahan, maksudnya. Saya menyimak paparan dari Martin Suryajaya, DR. Karlina Supeli, Romo Narko dll - di Youtube. Dari zaman Plato era Yunani hingga era Corona. Kebebalan otak saya dalam menyerap ilmu pelik ini tertolong dengan mengulang ulang pengajarannya tanpa menyinggung perasaan "dosen". Karena teknologi "replay" di Youtube, memungkinkannya. Sebagaimana saya membuka buka ulang buku catatan di masa lalu.

Kita sudah di era kenormalan baru (new normal) suka atau tidak suka. Dan saya terus mencari manfaat dari keadaan ini.

Saya mendengar paparan Budiman Sudjatmiko lewat proyek barunya.
Mantan aktifis PRD itu menyatakan sebenar lagi aktifitas warga akan ditentukan oleh lampu. Berdasarkan data dan analisa jam 22:00 malam akan diumumkan kota berlampu merah yang artinya tak boleh ada aktifitas dan lampu hijau dimana seisi kota boleh beraktifitas. Hak yang tak pernah terjadi di era normal. Warga wilayah tropik bakal seperti penghuni belahan utara atau selatan bumi.

Di era kenormlan baru ini saya menyimak lagi kelas filsafat abad pertengahan, 'Agustinus dan Periode Patristik', 'Kosmos dan Masalah Kebebasan Tuhan'. Juga struktur ilmu ilmu. Ada banyak topik topik 'ajaib' lainnya menanti.

Filsafat belum selesai, kata Nirwan Dewanto. Masyarakat Jahiliyah di masa kini masih terus 'ignorance' pada kebenaran temuan ilmiah.

Bahwa bumi ini sebenarnya planet biasa dan hanya di debu di alam semesta bahkan di galaksi bima sakti. Bahwa semesta sudah berusia 13 miliar tahun dan matahari akan bersinar 5.000 tahun lagi.

Neuro sains menyatakan bahwa perbedaan genetik antara kita homo spiens (kita) dengan simpanse dan bonobo hanya 1,2 persen. Tapi perbedaan 1,2 persen itu sudah bisa membuat homo sapiens mengarang segala sesuatu, mengarang kekuatan Ilahiah, mengarang determinisme agama, yang menguasai kita...bla ..bla..bla..

SESUNGGUHNYA memang banyak 'sampah' di Youtube, ya. Tapi konten berbobot dan mengilmu dan bernilai 'emas' banyak juga.

Beruntung saya tak terlalu suka kerumunan, mendatangi kanal yang sedang hit. Viral. Kanal kanal yang kontemplatif malah bikin nyaman. Antara lain filsafat itu.

Youtube bukan hanya mengajar filsafat gratisan - tak perlu berpayah payah ke Serambi Salihara di Pasar Minggu - Youtube juga bisa membuat si jurnalis bangkotan ini belajar dasar dasar edit video Kinemaster dari ABG milenial.

Youtube juga mengantarkan saya pada kenangan masa kecil. Mendengarkan kembali gending gending "gagrag anyar" ('new wafe') 1970an (sekarang jadi klasik) dari Ki Nartosabdo dan Nyi Condrolukito, langgam Jawa Bu Waljinah dan Enny Kusrini. Juga Ida Royani dan Tetty Kadi.

Bagian lain yang saya suka dari kenormalan baru saya bisa menatap wajah Luna Maya, Dian Sastro, Wulan Guritno dan Alice Norin sepuasnya. Mamah muda! Bukan hanya diam dalam foto statis, tapi pose pose dan juga sedang bicara.

Di masa lalu, saya harus membuat janji dengan si artis - dan belum tentu dapat - mendatangi rumahnya atau janjian di studio - ikuti proses dandan, menunggui saat 'make uap', dan memotret sendiri. Sekarang tidak lagi. Lewat instagram, bidadari bidadari cantik dan 'hot mama' itu mendatangi kita.

Saya sudah tidak pegang kamera. Studio pemotretan tinggal kenangan. Tapi melihat tutorial setting lampu studio mengembalikan kenangan zaman "jahiliyah" saat hari hari motret model.

Dulu untuk dapat ilmu masang lampu (lighting set) harus ikut workshop dan seminar di hotel berbintang, bayar ratusan ribu (mahal di masa itu) yang mengajar fotografer Italia. Sekarang gratis tis! Modal quota dan power bank.

LALU saat mendadak kangen dengan Naffa Urbach, si semok semlohei itu pun muncul dengan macak macak, lenggak lenggok, depan kamera. Membangkitkan libido pagi.

Di era kenormalan baru, saya beradaptasi. Mulanya karena terpaksa. Kini tak lagi.

"Yang membuat kita hidup - dan hidup menjadi berharga itu - karena kita menaruh harapan, menjaga harapan itu tetap hidup, ” kata DR. Karlina Supeli.

Dan itulah yang saya rasakan setiap melihat wajah Luna Maya. **

Sumber : Status facebook Supriyanto Martosuwito

Wednesday, July 15, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: