Mengusut Para Perusak Negeri Paska Putusan MK

ilustrasi

Oleh : Lalu Agus F Wirawan

"Teriakkanlah dengan keras "Maliiiing!!! Maliiing!!!" sebelum engkau melakukan perbuatan maling itu! Niscaya akan banyak orang yang percaya kamu bukanlah maling yang sebenarnya!" Ucap seorang mantan raja copet di terminal Pulo Gadung pada saya suatu hari...

Ketika sebulan ini polisi gencar mengungkap skenario kerusuhan dan upaya pembunuhan berencana terhadap 4 orang tokoh nasional yang 3 diantaranya adalah petinggi negara (Menkopolhukkam Wiranto, Kepala BIN Budi Gunawan, Staff khusus presiden bidang terorisme dan intelijen Gories Mere) dan seorang direktur Lembaga Survey Independen, Yunanto Wijaya, terkuaklah fakta bahwa kericuhan yang sedianya diharapkan dapat memicu keributan yang lebih dahsyat di Jakarta, sesungguhnya digerakkan oleh orang-orang yang selama ini kencang dan getol berteriak tentang kedzoliman pemerintahan Presiden Jokowi terhadap banyak tokoh dalam kelompok mereka yang sebenar-benarnya tak lebih dari dedengkot kriminal!

Saat upaya kelompok pendukung Prabowo yang didukung oleh semua anak-anak Suharto membangun citra "terzolimi" dalam 5 tahun pemerintahan Jokowi, tanpa disadari mereka justru menunjukkan satu-persatu lembaran hitam catatan kejahatan pemerintahan Orde Baru sendiri.
Bayangkan saja, bagaimana perasaan AM Fatwa, seorang mantan tahanan politik pemerintahan Orba yang pernah lama hidup dalam penindasan keji rejim Suharto terhadap para tokoh Islam itu mendengar gema fitnah yang diteriakkan pendukung Prabowo tentang Jokowi mendzolimi ulama!

Bayangkan juga betapa lucunya ketika sebagian pendukung mantan Danjen Kopassus yang dipecat akibat ketahuan mengotaki penculikan dan penghilangan aktivis reformasi itu berteriak tentang bobroknya HAM di jaman Jokowi!
Serta konyolnya pernyataan pers Titiek Suharto yang mengatakan "Dikit-dikit Makar! Dikit Dikit Ditangkap! Pemerintah Jokowi lebih keji dari Orba!" tanpa malu pada sebagian besar tokoh reformasi yang berhasil lolos dan selamat dari penculikan oleh Tim Mawar pimpinan mantan suami yang coba dirujukinya setiap 5 tahun sejak 2014!

Cermati bodohnya pernyataan Hidayat Nurwahid, mantan presiden PKS itu saat mengatakan "Tolong jangan ajak-ajak kami berkoalisi..." tanpa ada sebab musabab atau logika, alasan dan alibi apapun bagi Jokowi untuk menawari dirinya (HNW) apalagi partainya (PKS) untuk bergabung dengan koalisi pemerintah! 
Semua tahu, hasil Pileg 2019 menunjukkan koalisi Jokowi meraih perolehan suara 60% lebih! Jadi untuk apa cari koalisi dari kubu Prabowo lagi???

Saya membathin; "Jangan-jangan Jokowi akan menawarkan posisi Menteri Peranan Perempuan dan Perlindungan Anak pada PKS karena Jokowi terobsesi 'keberhasilan' Ahmad Heryawan (mantan Gubernur Jabar dari PKS) dalam meningkatkan angka perdagangan perempuan dan anak-anak Sunda menjadi PSK di berbagai kota seluruh Indonesia?"

Dan hari ini... dengan bangganya Bambang Wijanarko, pengacara Paslon Prabowo-Sandi mengungkapkan permohonan agar MK memerintahkan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) untuk dapat juga memberi perlindungan pada saksi-saksi yang akan diajukan Paslon itu di sidang MK besok. Meski Bambang Wijayanto pastilah faham bahwa ranah perlindungan LPSK adalah kasus-kasus Pidana.

Hahhaaaaayyy! Bukankah seharusnya para hakim MK lah yang minta perlindungan pada LPSK? karena yang punya reputasi membunuh Hakim Agung adalah Tommy Suharto yang mendukung Prabowo? Bukankah yang jago nyulik aktivis layaknya penculikan G30S/PKI itu adalah Prabowo sendiri???

Saya pikir tak ada yang baru dalam manuver kelompok Capres yang nyaris abadi itu! Mereka tentu ingin membangun image bahwa pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang sadis, keji, dzolim, semena-mena dan sangat berbahaya bagi kebebasan HAM !

Hahahahah! Saya ngakak sengakak-ngakaknya menyaksikan hal itu di TV sore ini!

Membatin lagi saya;
"Jangan-jangan Prabowo dan para pembisiknya, ahli strateginya, belajar dari guru yang sama. Karena konsep dari semua langkah konyol diatas pastilah datang dari seorang mantan copet atau preman di lokalisasi yang memang lebih sering sukses melakukan operasi kriminalnya dengan metode ilmiah 'MALING TERIAK RAMPOK'..."

Lombok, 1806 2019
Sumber : Status Facebook Lalu Agus Firad Wirawan

Thursday, June 27, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: