Mengurai Kekuatan Bom Panci

 

Oleh : Hilman Fajrian

Bom yang ditemukan polisi di Bekasi minggu lalu dan disebut sebagai 'bom panci' sebenarnya bukan bom baru di kalangan teroris. Bom panci atau pressure cooker bomb (PCB) digunakan di berbagai aksi teror di dunia seperti di Boston Marathon, Mumbai, London dan Brussel. Namun di Indonesia ini baru yang kali pertama dan berhasil digagalkan. PCB adalah 'inovasi' kelompok teror dalam mengembangkan peledak yang mampu menghasilkan korban jiwa lebih banyak sekaligus lebih efisien dan mudah dalam mobilisasinya. Kekuatan PCB terletak pada pressure cooker yang memberi tekanan tinggi pada ledakan sehingga menyemburkan debris (serpihan) lebih kuat. PCB terbukti lebih mengerikan dibanding bom pipa atau bom rompi.
.
TATP
Peledak yang digunakan oleh pelaku bom Bekasi adalah TATP atau acetone peroxide. Ia disebut sebagai 'mother of satan' karena kemampuannya tak terdeteksi oleh detektor bom, mudah dan murah didapatkan, dan bisa dibuat sendiri. Kekuatannya 83% dibanding TNT dan sangat sensitif. Ketidakstabilannya bahkan bisa membuat TATP meledak sendiri tanpa detonator (pemicu). Ketidakstabilan ini yang membuat TATP tidak dipakai dalam militer dan komersial.

Kecepatan ledaknya 5.300 m/s atau 19.080 km/h, dibawah TNT 6.900 m/s. Lebih cepat dari kecepatan peluru yang dimuntahkan pistol Magnum 1.700 km/h.
.
PRESSURE COOKER
Tentu saja bukan panci dandang untuk memasak air. Tapi panci steam bertekanan yang biasa digunakan ibu/istri kita memasak bistik. Pressure cooker (PC) ini memang didesain untuk menahan tekanan dari dalam. Tapi karena tekanan peledak dari dalam sangat tinggi sehingga PC tidak bisa menahan dan menyemburatkan isi PC disertai tekanan tinggi ke segala arah. Pada boston bombing kecepatan ledak PCB 3.300 f/s atau 3.621 km/h.
.
DEBRIS
Salah satu karakter bom teroris adalah penggunaan debris atau serpihan yang umumnya adalah gotri, paku, potongan besi, atau mur baut. Kematian dan kerusakan tertinggi yang terjadi di sekitar area ledakan bukan karena ledakan bahan peledak (blast size), tapi dari debris. Debris ini juga digunakan dalam bom rompi di Bali dan bom ransel di Marriot.
.
PC + TATP + DEBRIS = PACB
TATP yang dimasukkan ke dalam PC biasanya dikemas ke dalam plastik atau pipa, dalam satu kemasan atau kemasan terpisah. Sisa ruang diisi debris. Kemudian dilengkapi detonator yang bisa menggunakan timer atau pengendali jarak jauh. PCB ini kemudian diletakkan di kerumunan untuk menghasilkan korban jiwa yang banyak.

Dengan kecepatan ledak TATP 5.300 m/s atau 19.080 km/h, maka sangat masuk akal bila jangkauan debris (damage range) bisa mencapai 300 m seperti yang dijelaskan polisi.

Beberapa orang membandingkan daya rusak PCB dengan MOAB dan FOAB. Ini jelas keliru. Cara membayangkannya sederhana. PCB adalah pistol dengan peluru + proyektil, sedangkan MOAB/FOAB adalah pistol dengan peluru tanpa proyektil. TATP dalam PCB bisa diibaratkan mesiu dalam peluru yang memuntahkan proyektil. Yang mematikan proyektilnya, bukan mesiu dalam peluru. Sedangkan MOAB dan FOAB tak punya proyektil karena tak dilengkapi debris. Setahu saya debris dilarang dalam hukum perang. Kita tak bisa membayangkan betapa mengerikannya bila MOAB/FOAB atau misil yang kita kenal yang memiliki blast size besar kemudian dilengkapi debris.

Jadi PCB dan bom rompi adalah sebuah 'senapan besar', yang meski ukuran ledakannya (blast size) tidak besar, tapi punya jangkauan kerusakan (damage range) yang besar.
.
PENANGANAN BOM BEKASI
Polisi menyebutkan berat bom bekasi 3 kg. Tapi tidak dijelaskan apakah ini berat TATP atau keseluruhan PCB. Asumsi saya keseluruhan PCB. Karena dengan TATP seberat 3 kg maka perlu PC lebih besar dan akan lebih berat untuk dibawa oleh wanita. Kesulitan dalam mobilitas akan membuat TATP yang tak stabil itu mudah meledak sebelum sampai tempat tujuan.

Peledakan sebagian yang dilakukan polisi di TKP membuat saya berasumsi TATP dikemas secara terpisah, dan ini lumrah untuk memaksimalkan ruang dalam PC. Sedangkan sisanya dibawa untuk barang bukti dan penelitian. Salah satu alasan peledakan di TKP itu adalah karena tidak stabilnya TATP. Kecilnya ledakan di TKP karena polisi tidak meledakkannya di dalam PCB dan di tempat terbuka, tapi di dalam disposal tank milik gegana yang bisa meredam ledakan.
.
Saya bukan ahli bom, hanya tahu sedikit dari berbagai bahan bacaan. Silakan diluruskan bila ada kesalahan atau kekurangan.**

Sumber : facebook Hilman Fajrian

Thursday, December 15, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: