Mengundi Nasib PKS

Ilustrasi

Oleh : Wasil Belian

PKS kini tengah limbung. Ratusan kader beserta pimpinan daerah ramai mundur dari parpol berlambang dua bulan sabit ini. Pasalnya ditengarai karena ketidak-puasan berjamaah yang dialami kader daerah dan pusat terhadap kebijakan yang diambil pimpinannya.

Jelas bahwa mundurnya kader-kader partai putih ini akan mempengaruhi elektabilitas mereka di pemilu 2019 nanti. Keroposnya suara mereka itu tidak saja digerogoti faktor internal tersebut, tapi juga maraknya sikap antipati dari faktor eksternal.

Pihak-pihak menengah terdidik yang sudah lama kesal dengan maneuver elit PKS yang selalu berlindung di balik topeng agama, juga meramaikan tagar #BenamkanPKS di social media. Kenapa hanya PKS yang disasar, bukan parpol lain semisal Gerindra atau PAN yang juga di kubu mereka? Tentu saja karena imbas perilaku kader PKS yang gemar menuding pihak lain tidak islami, atau seakan-akan hanya islam versi mereka yang benar.

Kader PKS juga sering berhadap-hadapan dengan kubu islam tradisional yang diwakili oleh NU. Soal kecaman terhadap Banser yang membakar bendera HTI, amalan kaum NU yang dianggap sesat oleh kader-kader mereka, seperti menambah bensin ke percikan api perseteruan keduanya. Ini seperti hitung-hitungan buruk dari PKS dan elitnya, mengingat NU ini punya massa sekitar 50juta – target suara yang tidak bisa dianggap remeh.

Walhasil, PKS memposisikan diri – baik secara sengaja maupun tidak – sebagai kutub berseberangan dengan kaum islamis tradisional dan juga kelas menengah yang belum terjangkiti virus radikalisme agama. Kelompok terakhir ini diwakili oleh masyarakat kelas menengah terdidik yang mengedepankan rasionalitas dalam menentukan pilihan politik.

Buat kaum muda rasional terdidik ini, mencampur adukkan antara agama dengan politik sungguh memuakkan. Kasus Ahok yang menjadi pemuncak munculnya kutub diamterikal cebong dan kampret menjadikan mereka, kaum rasional terdidik ini merasa perlu menunjukkan keberpihakan yang nyata. Mereka hendak menyudahi dominasi kelompok islamis semacam PKS ini, tentu saja beserta sekutu radikalnya; FPI, HTI, FUI dan sejenisnya.

Banyak sekali fakta bertebaran di belahan dunia lainnya betapa negeri seperti Suriah, Libya, Mesir, Yemen yang porak poranda karena konflik sectarian yang dipicu oleh kelompok jihadis. Kelompok jihadis radikal ini secara gamblang mendapat dukungan dari PKS, HTI, FPI dan semacamnya. Bahkan banyak jejak digital menunjukkan bahwa sebagian kader mereka bergabung dan ikut “berjihad” dalam perang di negeri tersebut. Ada berita yang malah menyebutkan dari 700 kombatan ISIS asal Asia Tenggara, ada 500 orang diantaranya dari Indonesia.

Kelompok muda terdidik ini sudah jengah dengan klaim kebenaran dan dominasi wacana dari PKS dan sekutunya, karenanya tagar #BenamkanPKS atau #TenggelamkanPKS bergema berulang-ulang di kelompok mereka dan disebarkan di semua saluran social media.

Jadi hanya tinggal menunggu waktu saja PKS akan karam di peta perpolitikan Indonesia, menyusul pendahulunya PK (Partai Keadilan) yang tak lolos electoral threshold di pemilu 1999. Hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey juga mendukung dugaan ini. LIPI misalnya, pada bulan Juli 2018 merilis hasil survey mereka dimana PKS diperkirakan hanya akan mampu merebut 3.7% suara pemilih – di bawah ambang batas 4%.

Fahri Hamzah, mantan pimpinan yang dipecat PKS itu juga meramalkan bahwa bekas partainya itu tak akan lolos ke parlemen di 2019. "Iya lah enggak lolos parliamentary threshold, orang berantem begini, kok," ucap Fahri Hamzah seperti dikutip harian WartaKota medio Juli 2018. Seakan menegaskan, Fahri Hamzah malah berseloroh “Dugaan saya, PKS sudah innalillahi wa innailaihi rojiun," sambungnya.

PKS mungkin nanti hanya akan dikenali jejaknya ketika kadernya menduduki posisi Wakil Gubernur DKI, itupun kalau Gerindra mau menepati janji. Setalah 2019 toh, Wagub asal PKS ini mesti sibuk mencari tebengan parpol lain.

Sumber : Status Facebook Wasil Belian

 
Monday, November 19, 2018 - 15:15
Kategori Rubrik: