Mengulik Pondok Pesantren Tak "Berkelamin"

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Majlis-majlis besar berbagai daerah di hadiri atau mendatangkan tokoh-tokoh Timur Tengah. Dai yang alim, sangat mumpuni bahkan terkenal kesalehan dan kewaliannya.

Disamping karena ngalap berkah, tentu saja dai-dai luar menambah prestis bagi tuan rumah. Setelah di hadapkan ke khalayak ramai, dokumentasi bisa untuk menambah koleksi foto yayasan, majlis taklim atau Pesantren.

Kalender yang dicetakpun lebih keren jika dipenuhi wajah ganteng, hidung mancung, berjanggut, bercambang dengan jubah yang klimis.

Pesantren tak berjenis kelamin atau yamil ila Muhammadiyah wa akhtauha (cenderung ke Muhammadiyah dan sejenisnya) dengan dihadiri tokoh Luar Negeri yang diterima dan dekat dengan warga NU, efektif menghilangkan stigma buruk pesantren tersebut dikalangan NU.

Tokoh yang punya agenda politik, misi dakwah yang nyleneh, seperti ormas dengan slogan amar makrufnya ingin mengambil peran polisi atau ormas pengusung proyek khilafah dengan kehadiran tokoh Luar yang diterima NU juga meningkatkan daya saing jualannya.

Apa yang saya disebutkan itu tentu tidak menodai niat ikhlas para ulama Luar Negeri yang datang ke Indonesia. Yang masalah sebenarnya, yang ditiru bukan nilai-nilai Islamnya, justru rigiditas ke Arabannya.

Di Arab, Yahudi, Kristen dll juga berbahasa dan berpakaian ala Arab. Meskipun Nabi saw orang Arab, tapi Islam sebagai agama dan Arab sebagai entitas tetap berbeda. Seperti beda antara pakaian Arab dan berpakaian sunah ala Nabi saw.

Bukan anti Arab, tapi resah dengan pergerakan masyarakat yang menganggap segala yang berbau Arab sebagai standar kesalehan. Bukankah Arab Saudi mbahnya Arab juga bergerak meniru Islam Wasthiy, Islam Moderat ala NU ala Indonesia?

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Monday, December 4, 2017 - 14:00
Kategori Rubrik: