Mengulik Jati Diri Habib Umar bin Hafidh

Ilustrasi

Oleh : Narko Sun

Sebelumnya baiknya kita mengetahui dulu gelar tingkatan-tingkatan di kalangan ahli hadits.

1. #Al_Hafidh: gelar untuk ulama yang sudah hapal lebih dari 100.000 hadits beserta sanad dan matannya, di zaman dahulu ada banyak ulama yang mencapai derajat ini, namun zaman sekarang sudah sangat langka.

2. #Al_Hujjatul_Islam: gelar untuk ulama yang sudah hapal lebih dari 300.000 hadits beserta sanad dan matannya, ulama-ulama yang sudah mencapai derajat ini diantaranya Imam Ghazali, Imam Ibnu Hajar Al Asqalani, Imam Nawawi, dan masih banyak lagi. Namun di zaman sekarang sepertinya sudah tidak ada lagi ulama yang mampu mencapai derajat ini.

3.#Al_Hakim: gelar untuk ulama yang sudah hapal lebih dari 400.000 hadits beserta sanad dan matannya.

4.#Al_Huffadhudduniya (Al Huffadh): gelar untuk ulama yang mampu menghapal lebih dari 1.000.000 (satu juta) hadits beserta sanad dan matannya. Ulama yang mencapai derajat ini adalah Imam Ahmad bin Hambal, murid dari Imam Syafii.

Yang dimaksud hapal hadits disini bukanlah hanya hapal matannya saja, namun juga harus mampu hapal dengan nama-nama perawi di rantai sanadnya (dari fulan yang mengabarkan dari fulan, dari fulan, dari fulan, dst sampai kepada Rasulullah), juga hapal tahun lahir perawinya, keadaan hidupnya, asalnya dsb. Jadi satu hadits yang pendek saja, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya.

Kemudian bagaimana dengan Al Habib Umar bin Hafidh. Beliau adalah salah satu ulama yang mampu mencapai derajat #Al_hafidh di abad ini. Ya, beliau hapal 100.000 hadits lebih beserta hukum-hukum sanad dan matannya secara keseluruhan.

Untuk mencapai derajat Al hafidh di abad 21 ini bukanlah perkara gampang. Dimana jumlah hadits di atas muka bumi yang bertebaran di kitab-kitab jika dikumpulkan tidak mencapai 100.000 hadits! Artinya jika kita berusaha mengumpulkan seluruh buku hadits yang ada sekarang, jumlah keseluruhan haditsnya tak akan mencapai 100 ribu hadits.

Imam bukhari hafal 600 ribu hadits lebih, namun yg ditulis hanya 7.124 (jika ada pendapat lain pun jumlahnya tidak akan jauh dari angka tsb).

Kitab Shahih Muslim berakhir di hadits no 3.033 (sebagian pendapat mengatakan sekitar 5000-an), Sunan Abu Daud memuat sekitar 5.000-an hadits, Sunan Tirmidzi memuat sekitar 4000-an hadits, Sunan An Nasa’i memuat sekitar 5000-an hadits, Sunan Ibnu Majah sekitar 4.300-an hadits, Shahih Ibnu Hibban sekitar 3.000-an hadits, Al Muwatha’ Imam Malik sekitar 1.600-an hadits, Musnad Ahmad bin Hanbal sekitar 27.000-an hadits, mungkin masih terdapat puluhan kitab hadits lainnya, namun jika di kumpulkan semua, Insya Allah tidak mencapai 100.000 ribu hadits, siapa pula yg mampu di zaman itu menulis semua hadits?

Jadi bagaimana caranya seseorang bisa menghapal sebanyak 100.000 hadits di zaman ini? sedangkan jumlah semua hadits di kitab-kitab tidak sampai 100.000 hadits?.

Disinilah perannya seorang Musnid, Musnid adalah para pakar hadits yg menyimpan hadits hadits dengan sanadnya hingga Rasul saw, kebanyakan belum dibukukan dalam buku buku hadits yg beredar masa kini, walau asal muasalnya dari para Muhaddits,

Sebagaimana Imam Ahmad bin Hambal yg hafal 1 juta hadits, ia hanya sempat menuliskan sekitar 20.000 ribu saja di Musnadnya, sisanya 980.000 hadits itu ada pada murid muridnya dalam hafalan, karena di masa itu hafalan lebih diandalkan daripada buku, karena percetakan tidak ada, komputer tidak ada, kita bisa bayangkan seorang muhaddits harus menulis dg pena bulu ayam, dg redupnya cahaya lilin di malam hari, atau teriknya matahari di siang hari, belum lagi jika kertas2 itu beterbangan tertiup angin atau tercecer dlsb, atau ketika dikirim hilang dijalan atau lainnya.

Keadaan yg masih sangat terbelakang itu membuat mereka lebih mengandalkan hafalan daripada tulisan.

Nah.. para murid muridnya menulis dan menghafal di buku2 pribadi mereka, dan Musnid mengumpulkannya. Maka tak mungkin seorang masa kini mencapai gelar Alhafidz kecuali dia adalah seorang musnid.

Maka tidak berlebihan jika di bilang beliau adalah kitab hadits yang berjalan, karena hampir dari semua gerakan dan kegiatan yang beliau lakukan selalu berdasarkan sunnah, ada landasannya. Meski begitu beliau adalah ulama yang sangat tawadhu. Beliau sangat malu jika gelar Al hafidh beliau disebut. Allah Yarham Habib Munzir Al Musawa pernah menceritakan jika Sang Guru, Habib Umar bin Hafidh, pernah memberikan teguran agar tak lagi menyebutkan gelar Al Hafidh didepan namanya.

Habib Munzir bercerita “beliau (Habib Umar bin Hafidh) di usia sebelum 20 tahun sudah hafal 20 ribu hadits, dan meneruskan hingga selesai ke 100 ribu hadits, namun saat kunjungan beliau kemarin, beliau menegur saya untuk tidak menyebutkan gelar Alhafidh pada nama beliau, demikian rendah hatinya Guru Mulia kita ini, tidak suka gelarnya disebut, padahal kini untuk masuk pesantren beliau di Darulmustafa syaratnya mestilah hafal Alqur’an dan dua ribu hadits berikut sanadnya.

Habib Umar bin Hafidh memiliki banyak murid dari seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Murid tertinggi beliau adalah Habib Ali Al Jufri. Murid-murid beliau di Indonesia adalah Habib Munzir Al Musawa, Habib Jindan, habib Quraisy baharun, dan banyak lagi. Sedangkan Habib Munzir dan Habib Jindan juga memiliki banyak murid di Indonesia.

Semoga Allah swt memanjangkan umur beliau, memberkahi hari-harinya, dunia dakwah dari timur sampai barat menunggu untuk disirami dengan kalam-kalam beliau, semoga pula kita dikumpulkan bersamanya di dunia dan di akhirat bersama beliau, bersama Rasulullah dan bersama seluruh para pecinta sayyidina Muhammad saw

Amiin Amiin Amiin yaa Rabbal 'alamiin

Sumber : Status Facebook Narko Sun

Friday, October 20, 2017 - 11:15
Kategori Rubrik: