Mengubah Gereja Jadi Masjid

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Ustadz, apa hukumnya mengubah gereja jadi masjid?

Wah itu para ulama pada khilafiyah, tergantung konteks dan sudut pandangnya. Sebagian membolehkan, sebagian punya pandangan berbeda.

Ada yang membedakan daei bagaimana agama Islam masuk ke negeri itu, dengan penaklukan atau dengan perlahan-lahan.

Sebagian memandang dari sudut maslahat dan madharat yang ditimbulkan. Sebagian lagi memandang dengan cara dibalik : misalnya kalau dibalik gimana perasaan kita.

Misalnya ada masjid dan gereja bersebelahan. Sebutlah masjid Istiqlal dan Gereja Katederal. Lalu Gereja Katederal kita ubah jadi masjid. Kira-kira bagaimana perasaan saudara kita yang Kristen melihat rumah ibadah mereka dijadikan masjid?

Terus dibalik, misalnya masjid Istiqlal justru yang mereka ubah jadi gereja. Terus bagaimana perasaan kita?

Sampai disitu saya mikir agak lama. Lama sekali.

Barangkali itu juga yang terbersit di benak Umar bin Khattab radhiyallahuanhu ketika dipersilahkan oleh para pastor untuk shalat di Baitul Maqdis yang waktu itu masih jadi rumah ibadah mereka.

Beliau waktu itu menolak dengan halus, lalu lebih memilih shalat di luar gedung. Alasannya mencari tempat yang dahulu Nabi SAW dimikrajkan. Dan di tempat Umar shalat itulah kemudian didirikan masjid Umar yang kubahnya kuning keemasan.

Namun balik lagi, tiap kasus punya kondisi dan konteks yang berbeda. Tidak bisa disamakan secara begitu saja.

Siapa yang belajar fiqih tapi belum ketemu dengan perbedaan pendapat para ulama, ketahuilah bahwa dia belum mencium aroma Fiqih.

Namun meski berbeda, saling hormat, santun dan ramah tetap paling utama.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, July 12, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: