Menguak Isu Broker Pertemuan Presiden Jokowi dan Obama

Ilustrasi

RedaksiIndonesia - Menggelikan memang ! Isu terbaru ditudingkan ke Jokowi bahwa Presiden RI Joko Widodo menggunakan jasa calo untuk ketemu dengan Presiden Amerika Barack Obama dengan membayar sebesar USD 80 ribu (setara Rp.1,1 Milyar) dan dapat diangsur sebanyak 4 kali. Isu ini menjadi heboh berawal ketika sebuah media online bernama Republika On Line dengan judul : “Bayar 80 Ribu Dolar AS Jokowi Bertemu Obama 80 Menit”.

Berita ini kemudian dishare oleh ribuan pengguna dunia maya di akun media sosial dan menjadi artikel hangat dalam forum online lainnya. Atas judul berita yang bombasitis tersebut, saya ikut jadi penasaran untuk membca berita itu dan menyelusuri kebenarannya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala setelah membaca berita tersebut dan setelah mengcrosscheck berbagai sumber atas kebenaran isu itu. Muatan berita tersebut lebih kuat berunsur mendiskreditkan pemerintahan Jokowi dengan menggiring alam sadar pembacanya bahwa kunjungan Jokowi ke Amerika tersebut adalah dibayar dan hasilnya mengecewakan serta itu merupakan suatu skandal memalukan.

Sedangkan berita abal-abal ini diambil dari sebuah artikel di forum publik (bukan Situs Berita) bernama New Mandala berjudul : “Waiting in The White House Looby” dengan sub judul : Mengapa Sebuah Konsultan Singapura Membayar USD 80 ribu pada Perusahaan Lobi Las Vegas Untuk Kepentingan Lobi Politik Indonesia? Artikel ini diposting pada tanggal 6 November 2015 yang ditulis oleh seorang Pengamat Politik Asia Tenggara bernama Michael Buehler yang berstatus sebagai Penulis Tamu dan baru memposting dua artikel. Sebenarnya setelah dibaca artikel tersebut terlihat dengan jelas, redaktur Republika memplintir dan mendramatisir isi artikel tersebut untuk mendiskreditkan Jokowi dan wibawa NKRI. Coba kita bedah kebenaran isu Indonesia Bayar 80 Ribu dolar AS atas kunjungan Presiden RI Jokowi ke Amerika Serikat untuk ketemu dengan Presiden Barack Obama dari artikel Michael Buehler berjudul “Waiting in The White House Looby” ini :

1. Dalam tulisan itu tidak ada secara tegas menyatakan bahwa ada skandal antara pemerintahan Indonesia dengan pelobi Las Vegas untuk mendapatkan akses masuk Presiden Joko Widodo ke Washington. Buehler menuliskan bahwa sekarang ada berita muncul kepermukaan bahwa Jakarta membayar seorang pelobi Las Vegas untuk mendapatkan akses masuk ke Washington yang sebenarnya bisa dilakukan kedutaaan. Hubungan kerjasama tidak resmi (backroom) dan kurangnya koordinasi ini mungkin misi diplomatik mengalami kekecewaan. Jadi artikel ini hanyalah sebuah pandangan pemikiran atau analisis seorang pengaat politik bukan sebuah fakta kebenaran. “Now news has surfaced that Jakarta paid a Las Vegas lobbying firm to get Widodo access to Washington insiders, spending taxpayer money for work the Indonesian embassy could have done. The backroom relationships and lack of official coordination behind this lobbying contract might explain why the diplomatic mission was such a disappointment”. Memang, Michael Buehler mengulas tentang ada beredarnya surat transaksi dan beliau mempertanyakan kebenaran isu ini serta tidak menemukan bukti-bukti konkrit keabsahan dokumen tersebut. Namun, Republika On Line memplintirnya dengan membuat berita berjudul bombastis : “Bayar 80 Ribu Dolar AS, Jokowi Bertemu Obama 80 Menit” dengan mengambil nara sumbernya dari ciutan seorang jurnalis senior Benjamin Bland melalui Twitter-nya. Kemudian diakhir berita ditulis pernyataan subjektif keluar dari redakturnya sendiri membuat kesimpulan :” Sungguh, pertemuan tingkat tinggi yang begitu mengecewakan”. Tidak cukup itu saja, Republika On Line kemudian begitu gencarnya menerbitkan berita-berita terkait agar menjadi berita heboh dan agar terbentuk persepsi publik bahwa itu sebuah skandal yang memalukan. Dari sejauh pantauan saya, beberapa media online terpercaya di Indonesia tidak ada membuat berita-berita tersebut kecuali berita-berita klarifikasi dari Menlu RI atas isu tersebut. Ini beberapa berita diterbitkan oleg Replika On Line dengan judul bombastis : - Skandal Terungkap! Diduga Broker Bayar untuk Pertemukan Jokowi-Obama - Buehler Unggah Dokumen Asli Dugaan Broker Pertemuan Jokowi-Obama - Diduga Broker Pertemuan Jokowi-Obama, Akun Pemilik Pereira Langsung Tutup - Pelobi Pertemuan Jokowi-Obama Pernah Wawancara dengan Luhut - Broker yang Atur Pertemuan Jokowi-Obama tak Tahu Indonesia

2. Michael Buehler menulis memang sungguh mengherankan adanya beredar salinan Kontrak antara Perusahaan Konsultan Politik Singapura yaitu Pereira Internasional PTE LTD dengan Perusahaan Lobbi di Las Vegas yaitu R&R Partners, Inc. Kontrak itu ditanda-tangani oleh Sean Toner dari R&R Inc dan Derwin Pereira dari Pereira International. Pereira Singapura harus membayar sebesar USD 80.000 yang harus diangsur 4 kali sejak Juni hingga September 2015. Tagihan itu disebut berkaitan dengan kunjungan Jokowi ke AS beberapa waktu yang lalu. Tetapi di dalam tulisan Michael Buehler itu menegaskan dalam Kontrak yang diajukan Pereira International ke Departemen Kehakiman Amerika Serikat tidak ada satu pun pejabat Indonesia yang menugaskan Pereira International dan R&R Inc.

3. Tudingkan ini cenderung berdasarkan atas asumsi kedekatan Derwin Pereira dengan Luhut Panjaitan. Derwin Pereira adalah pemilik Pereira International yang pernah bekerja di Singapura The Straits Times yang berkantor di Jakarta pada saat jatuhnya rejim Soeharto sehingga dia sangat dekat dengan para petinggi-petinggi di Indonesia dan memiliki akses untuk masuk lebih jauh ke dalam Indonesia. Derwin juga pernah bekerja di Times Washington juga mempunyai jaringan luas di Amerika dan dekat dengan pihak Kennedy School of Government Harvard, dimana jaringan mereka membantu mahasiswa Indonesia yang ingin belajar disana termasuk salah satu lulusannya adalah Agus Yudhoyono (anak SBY). Derwin pernah bekerja sama dengan Gita Wiryawan sewaktu masih menjadi Menteri Perdagangan dan bekerja sama dalam program Ancora Foundation. Derwin Pereira juga ditengarai Buehler kenal baik dengan Luhut Panjaitan. Sewaktu kerja di The Straits Time Singapura Derwin pernah mewawancarai Luhut pada tahun 1999-2000 dan membuat beberapa artikel tentang tokoh-tokoh politik Indonesia. Tetapi di dalam tulisan Michael Buehler itu juga menulis bahwa tidak ada satu pun bukti Luhut Panjaitanatau pejabat Indonesia pernah meminta Pereira International untuk membayar R&R inc di Las Vegas.

4. Tentang bukti surat dokumen diungguh oleh Michele Beuhler tidak ada ditandagani oleh pejabat pemerintah Indonesia dan pejabat pemerintah Amerika. Surat lebih cenderung sebuah surat perjanjian kerjasama antara kedua belah pihak Pereira Internasional PTE LTD dengan Perusahaan Lobbi di Las Vegas. Dalam strategi marketing, apa yang dilakukan Pereira Internasional PTE LTD membuat surat kontrak tersebut itu adalah hal yang sah-sah saja untuk sebagai referensi Pereire agar dagangan jasa diplomatik dijualnya tersebut nantinya semakin tertarik dibeli oleh pemerintah Indonesia. Hal ini diakui oleh Beuhrer dalam artikelnya tersebut. Not only is the world of lobbyists and political elites extremely opaque, but as is well known, what happens in Vegas stays in Vegas.

5. Kedutaan Besar Amerika mengklarifikasi tudingkan tersebut dengan membuat ciutan melalui twitter juga (cuitan twitter dibalas cuitan twitter) berbunyi : "Ada laporan tentang perusahaan melobi yg mengatur perjalanan Presiden @jokowi ke AS. Laporan itu tidak benar. - #DuBesBlake," demikian pernyataan @usembbasyjkt. Tweet itu juga di-retweet oleh akun Kementerian Luar Negeri RI, @Portal_Kemlu_RI, Minggu (8/11/2015). Dalam akun itu, Robert Blake juga menjelaskan mengenai peran pejabat Indonesia dalam pertemuan Jokowi-Obama. "Menko Pandjaitan & #MenluRetno yg memimpin Indonesia bekerja sama dg @usembassyjkt @statedept dan @whitehouse. - #DuBesBlake." 5. Menlu Retno LP Marsudi menjelaskan bahwa pertemuan Jokowi dengan Obama dilakukan setelah mendapat undangan resmi. Retno mengatakan, surat tersebut dikirimkan Obama tanggal 16 Maret 2015, jauh sebelum kunjungan dilakukan.

"Presiden Obama melalui suratnya tanggal 16 Maret 2015 telah secara resmi menulis surat kepada Presiden Joko Widodo dan mengundang secara resmi untuk berkunjung ke Amerika Serikat," ujar Retno dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (7/11/2015). Adapun, isi surat yang ditulis Obama kepada Jokowi sebagai berikut: "I'm very pleased to invite you to the White House in 2015. And I'm confident your visit will provide and important perhaps even a historic opportunity to straighten US- Indonesia comprehensive partnership." Artinya, "Saya mengundang Anda untuk ke Gedung Putih pada tahun 2015. Dan saya yakin kunjungan Anda akan berguna, bahkan mungkin kesempatan bersejarah untuk menguatkan kemitraan AS-Indonesia secara komperhensif". 6. Duta Besar Indonesia untuk Polandia, Peter F Gontha ikut bersuara terkait merebaknya tudingan Presiden Jokowi memakai broker demi bertemu Presiden AS Barack Obama. Peter menyatakan, masih banyak pihak yang kurang bisa menerima keberadaan Jokowi, lantaran tidak diberi jabatan tertentu.

"Para pakar yang tidak dipilih Presiden Jokowi jadi menteri atau Komisaris atau kedudukan apapun selalu sakit hati menjelekan kepala Negara!" katanya melalui akun Twitter, ‏@PeterGontha. Pendirian RCTI dan SCTV tersebut juga tidak segan mengkritik akademisi asing yang menuduh Jokowi tanpa dasar. Meski tak menyebut nama, namun kritikan itu sepertinya diarahkan ke Michael Buehler, dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies di London yang mengungkap skandal tersebut. Peter pun menilai tuduhan itu sangat tidak berdasar. "Memalukan memang kalau orang berpendidikan mengisukan bahwa pertemuan dengan Pres Obama ada brokernya! Bodoh!" katanya. Jadi jelas sudah !!

Jika persepsi dianggap suatu bukti isu pembenaran, maka saya juga bisa menuding tulisan Michael Buehler dan berita dimuat oleh Repulika On Line bahwa itu adalah sebuah penghinaan keji kepada Negara Amerika dan rakyat Amerika karena telah melecehkan harga diri dan kedaultan politik Amerika yang hanya bernilai USD 80 ribu dimana lebih mahal sedikit dari bayaran pelacur Michele Braun yang bertarif USD 50 ribu. Penghinaan ini semakin sadis bahwa bayaran itu bisa dicicil sebanyak 4 kali. Isu itu menjadi suatu fitnah keji karena dilihat dari kondisi perekonomian Amerika sebagai sebuah negara terkaya dan terkuat di dunia dengan APBN 50 ribu Triluan (20 kali lebih besar dari APBN Indonesia sebesar Rp 2 ribu Triliun) dan dengan Pendapatan per Kapita warga Amerika sebesar USD 49,6 ribu setara dengan Rp 600 juta. (13 kali lipat pendapatan per kapita warga Indonesia yang hanya USD 3,8 ribu) Pelecehan harga diri Amerika ini tidak perlu dijawab oleh presiden Amerika, Barack Obama atau warganya tidak perlu marah kepada orang-orang menyebarkan isu ini. Bangsa Indonesia masih bangsa yang rasional. Percaya dengan hukum sebab akibat atas penciptaan Tuhan atas kehidupan ini. Bahwa, mental unggul dan sistem yang baik lah maka sebuah negara bisa maju. Bukan didapat dari sistem yang korup dan cara melacurkan diri.

Aznil ST (Kompasiana)

Tuesday, November 10, 2015 - 00:15
Kategori Rubrik: