Menguak Dalang Kerusuhan yang Sebenarnya

Oleh: Kajitow Elkayeni

Dalam dunia kriminal, nyawa manusia memang murah. Dengan ratusan ribu saja kepala bisa putus. Saya pernah punya teman, yang hanya minta tiga ratus ribu untuk melenyapkan nyawa. Itu ukuran kelas coro. Dalam lingkup lebih besar, harga kepala bertambah mahal. Apalagi menyentuh tokoh nasional. Mengingat tingkat risiko dan hukuman yang akan diterima. Paling sedikit harganya miliaran, per kepala.

Tetapi kenapa Habil Marati hanya mengucurkan ratusan juta?

 

Apa yang baru dikeluarkan itu hanya biaya operasional. Sekadar uang bensin. Cukong tentu melihat hasil kerja lebih dulu. Bodoh kalau kasih miliaran rupiah pada hitman yang belum berkeringat. Bisa jadi mereka kabur sebelum mengeksekusi. Memburu hitman dengan hitman lain tentu buang garam ke lautan.

Habil, Soenarko, Kivlan, sebenarnya hanya sederet prajurit. Termasuk eks Tim Mawar dan pasukan Hercules. Mereka memang bukan pion, sedikit lebih tinggi lagi. Namun melihat kepentingan politiknya, jelas bukan mereka dalang utamanya. Terlalu bodoh untuk berhenti di sana.

Dengan mudah sebenarnya dapat ditebak kekuatan besar di balik semua ini. Mereka yang membuat gerakan politik mengejutkan. Dan saya percaya, aparat kita sudah bergerak sangat jauh. Dengan peralatan canggih dan sumberdaya besar, tak sulit untuk melacak semuanya. Nama sudah dikantongi. Aparat tinggal mengukur ketebalan nyali.

Pertemuan Prabowo dengan JK bukan tanpa maksud. Ada deal politik di sana. Kita jangan terlalu polos membaca gerak perubahan di sana. Prabowo, selesai mendapat "siraman rohani" itu tiba-tiba berubah lunak seperti krupuk mlempem. Dan itu justru mengejutkan. Ia yang awalnya begitu keras mengompori massanya, tak dinyana balik arah dengan cepat.

Saya menduga, penyelidikan telah mencapai kesimpulan. Nama Prabowo terseret. Ada dua langkah penyelamatan di belakangnya. Menyerah, tapi selamat. Atau melawan dan dibuka semua faktanya di depan publik. Prabowo dan keluarga Cendana mesti berhitung lebih cermat. Atau mereka akan menanggung kerugian lebih besar lagi.

Prabowo telah mengirim sinyal kompromi. Ia tak ingin berulah lagi. Jalan ke depan telah dilihatnya. Masa depan yang suram dan bisnis yang porak-poranda. Oleh sebab itu, selekasnya ia cuci tangan. Mencari suaka dari poros kekuatan besar yang tersisa: JK.

Dalam lakon konspirasi tingkat tinggi, pasukan kroco akan selalu jadi korban. Kita harus mengucapkan selamat tinggal pada Habil, Soenarko dan Kivlan. Tapi jika bukti menunjuk Prabowo atau keluarga Cendana, saya bertaruh, tidak ada yang berani menjemputnya.

Ini tantangan untuk penegak hukum. Ada peperangan besar yang akan mereka hadapi, dibutuhkan nyali dan kekompakan. Akan ada geger politik. Tsunami politik. Jika Prabowo dicokok, Gerindra tak akan tinggal diam. Dan jika mereka melawan, itu artinya, partai itu nantinya pun menunggu waktu untuk dibubarkan.

Itu belum menghitung kekuatan Cendana yang masih berakar kuat di Indonesia.

Buntut dari kekisruhan itu bisa terus memanas hingga puluhan tahun dari sekarang. Berbeda dengan PKI yang dibubarkan dengan kekuatan militer oleh Soeharto. Atau sebelumnya, DI/TII yang dibabat habis Soekarno. Proses penghapusan Prabowo dan partainya akan menelan biaya tak sedikit. Posesnya lama dan berbelit-belit. Jangan tanya jumlah korban yang bakal berjatuhan.

Hitung-hitungan ini tentu mendasari eksekusi dari ujung kekisruhan ini. Jiwa idealis kita menuntut transparansi selebar-lebarnya. Seret semua ke penjara. Sita semua uang haram mereka. Sayangnya, kita tidak sedang hidup di negeri dongeng. Yang kita hadapi adalah orang-orang tolol yang berteriak allahu akbar di jalanan, karena dibodohi oleh para politikus. Dan menggapnya jihad.

Sejak diktator nomor satu dunia bernama Soeharto yang lengser, tapi tidak dihukum itu, kita sebenarnya belum beranjak ke mana-mana. Kompromi politik, termasuk dengan memaafkan Prabowo nantinya, pasti akan dijadikan win win solution. 

Sementara kroco yang dikorbankan, persis seperti ajaran leluhur kita, Ken Arok, yang tega menyodorkan Kebo Ijo sebagai kambing hitam atas kudeta berdarahnya. Mereka tetap akan dikenang sebagai gedibal yang setia. Sekaligus orang teramat bodoh yang tak tahu batas kebodohannya.

Sejarah keji seperti itu akan terus berulang. Maka ketika menghitung jumlah korban kerusuhan Mei 2019, kita memang akan bersedih, selanjutnya mereka hanya akan jadi satuan hitungan statistik. Itulah gunanya Tuhan memberikan otak pada kita. Berpikirlah sebelum berbuat konyol. Karena dalam deret angka-angka statistik itu, tak pernah ada air mata.

(Sumber: https://seword.com/…/menguak-dalang-kerusuhan-yang-sebenarn…

/Facebook Kajitow Elkayeni)

Wednesday, June 12, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: