Mengkapitalisasi Mat Dhani

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Terjadi upaya sengaja dan besar-besaran, untuk mengkapitalisasi kasus hukum Matdhani, dari kubu pendukung musisi yang memasuki era kesuraman itu.

Dengan dihukumnya Matdhani 18 bulan, karena terjerat pasal ujaran kebencian UU-ITE, Fadli Zon mengatakan hal itu sebagai lonceng kematian demokrasi. Fahri Hamzah, bahkan lebih jauh mengatakan bahwa dengan pemenjaraan Matdhani, Jokowi sedang menggali kubur untuk kekalahannya. Argumentasi yang dibangun karena kedzaliman, dan Tuhan turun tangan menghukum Jokowi.

 

 
 

Sebegitu dahsyatnyakah Matdhani? Sebagai musisi yang bergerak di jalur industri musik, ia orang yang sangat tahu momentum. Dan dengan Republik Cinta, ia tergolong musisi sukses, jika ukurannya adalah popularitas dan finansial. Ia waktu itu juga secara cerdik mensiasati turunnya industri rekaman dengan munculnya internet dan dunia digital. Ia masuk ke ringtone dan memainkan satu lagu untuk beberapa artisnya yang tergabung di Republik Cintanya.

Tapi mungkin karena terkena waham megalomania, bisa jadi karena popularitas dan kekayaan, menjadikannya perlahan berubah. Apalagi pada era setelah berguru secara khusus pada salah seorang mursid. Sampai ia kemudian merapat ke Gus Dur dan NU, karena beberapa ulahnya yang (waktu itu) memunculkan konflik dengan kelompok FPI.

Andi Arief, dan juga Dahnil Azhar Simanjuntak, sebagaimana si kembar FZ dan FH, turut serta memanfaatkan kasus Matdhani untuk melakukan provokasi. Provokasi pada apa? Provokasi dalam konteks mendelegitimasi pemerintahan Jokowi di mata generasi milenial.

Andi Arief menulis di twitternya, antara lain: "Kemana pun Pak Jokowi pergi, akan diingat rakyat sebagai orang yg menjarakan Ahmad Dhani. Mungkin selera makan para pembeli pisang dan martabak di warung anaknya bisa menurun drastis." Segitunyakah, sampai kemudian tuitannya ditutup begini; "Al, El dan Dul. Saya tahu kalian marah karena ayahmu dipenjarakan Jokowi. Simpan kemarahan sampai waktunya tiba. Saya dan Partai Demokrat bersama kalian." Ehm, lebay deh!

Sementara Dahnil Anzhar Simanjuntak ngetuit begini: "Saya kagum melihat anak-anak mas @AHMADDHANIPRAST mereka kuat dan menjadi anak-anak muda yang militan untuk melakukan perlawanan terhadap rezim dan kedzaliman. Yakinlah Allah SWT dan rakyat bersama kita." Tak kalah lebaynya bukan?

Sementara, dengan gampang seorang netizen mereaksi tuitan itu, dengan mengingatkan bagaimana keluarga korban yang ditabrak oleh Dul (yang mengemudikan mobil mewah, belum memiliki SIM, mengakibatkan kematian 6 orang dan 9 luka-luka, tahun 2013), tidak lebay untuk ngetuit, atau pamer penderitaan di medsos. Tidak menuntut Matdhani, serta pengadilan, yang membebaskan Dul dari tuntutan penjara.

“Saya dahulu bilang bahwa politik adalah profesi tertua kedua di dunia, yang pertama adalah prostitusi,” berkata Ronald Reagan mantan Presiden AS. “Namun saya baru menyadari bahwa politik sama kotornya dengan prostitusi.”

 (Sumber: Facebook Sunardian W)
Friday, February 1, 2019 - 23:45
Kategori Rubrik: