Menginterpretasi Hasil Rapid Test dan Swab

ilustrasi

Oleh : Ainur Rofiq Al Amin

Sebelum saya tampilkan pendapat Prof Madarina, saya sebagai bukan ahli di bidang virus dan pandemi, maka harapan saya kalau ada yang tidak setuju silakan membantah secara logis dan empiris atas pendapat beliau.

Pendapat Prof Madarina ini bisa mengurangi kepanikan masyarakat, dan menjadikan masyarakat lebih tenang dan berani menghadapi korona, asal jangan menyepelekan korona dengan tidak menggunakan protokol kesehatan.

Berikut penggalan tulisan Prof Madarina di grup medsos yang saya ikuti, dan saya sudah izin menyebarkannya. Kata Prof Madarina,
setiap alat test punya kelebihan dan kekurangan. Namun, mengatakan suatu hasil test itu benar atau tidak, harus ada pembandingnya. Membandingkan hasil rapid test dengan hasil swab jelas tidak bisa, karena keduanya mengukur hal yang berbeda.

Rapid test mengukur immunoglobulin atau tingkat imunitas, sehingga akan positif pada yang sedang atau pernah terinfeksi, sedangkan swab mengukur adanya kuman di dalam tubuh, artinya sedang terinfeksi. Bila seseorang dulu pernah terinfeksi, tetapi sudah sembuh, maka rapid test akan positif, swab negatif. Bila seseorang baru saja terinfeksi, swab akan positif tapi rapid test negatif, karena belum terbentuk immunoglobulin. Kira kira demikian

Kata Prof Madarina memungkasi, kita harus sangat bersyukur kalau rapid test positif swab negatif. Berarti sudah kebal. Kalau rapid test positif dan swab positif, tetapi kita tidak sakit, berarti kita OTG. Kita harus bersyukur karena sebenarnya kita sudah kebal, kita hanya perlu menunggu sampai swab negatif, agar kita tidak lagi bisa menularkan ke orang lain.

Sumber : Status Facebook Ainur Rofiq Al Amin

Friday, May 22, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: