Mengingatkan Diri Sendiri

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Metpagiminggu para sanak-kadang penggiat dan pejuang sidang dewan majelis takelim Jemaah Fesbukiyah yang memuliakan kemuliaan sejati doang dan bukannya yang loyang peyang bergoyang-goyang. 

Kemarin, Ibnu Sina ngomong di sini, “Delusi, atau waham, adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah setengah dari obat, kesabaran adalah awal dari penyembuhan.” Dan tampaknya itu diamini banyak kalangan. Dalai Lama XIV, pemimpin spiritual dari Tibet, mengatakan bahwa pikiran yang tenang membawa kekuatan batin dan rasa percaya diri, sehingga itu sangat penting untuk kesehatan yang baik.

 

Tapi, ini memang saatnya tantangan dunia. Entah untuk melakukan revolusi mental, reformasi atau restorasi, atau apalah. Untuk menanyakan ulang, menata ulang mengenai apa yang selama ini kita yakini. Dalam dua hal paling fundamental, soal berkeagamaan dan relasi sosial kita. Apa jawaban agama untuk kasus coronavirus? 

Yang paling nyata, hindari kerumunan. Tidak beribadah berjamaah di ruang publik, meski itu dinamai rumah ibadah seperti masjid, gereja, kuil, vihara, dan sebagainya. Riwayat beberapa pasien positif Covid-19, bahkan riwayat penyebarannya, tak kurang berkat cara agama dalam mengumpulkan massa, seperti di Korea Selatan, Malaysia, Gowa, beberapa wilayah Jawa Barat, dan lain sebagainya. 

Ormas agama, besar maupun kecil, menghimbau agar beribadah di rumah saja. Katanya, Arab Saudi pun juga demikian, juga Vatikan. Agama kalah dengan physical distancing, apapun alibi kalian, hai agamawan. Buktinya, komplotan 212 pun menyingkir karena Covid-19, padahal jumlah angkanya lebih besar, berselisih (212 – 19 = ) 193 poin. Ancaman mati itu tetap mengerikan, meski dijanjikan 7 juta bidadari. Apalagi yang menjanjikan ternyata cuma ngomdo, dan lebih milih poligami.

Itu sama persis dengan psikologi sosial kita sebagai makhluk sosial. Disuruh mengurung di rumah saja. Kurangi berinteraksi, bersilaturahmi dengan liyan, karena social distancing. Bahkan termasuk yang di perantauan jangan pulang, walau mudik Lebaran sekalipun (ingat ‘kan, Coronavirus meledak di Wuhan saat banyak warga China mudik Imlek akhir tahun lalu). Biyingkin, betapa manusia tak bisa ngapa-ngapa dengan ‘physical distancing’ dan ‘social distancing’ itu. 

Saya tak ingin berpolemik, karena tak bisa memberikan jalan keluar. Saya rakyat jelata sebagaimana lainnya, cuma bisa berdoa. Semoga tidak stress dan tak mudah marah-marah, frustrasi atau sedih melarat-larat. Karena segala yang berbau emosional negative, melemahkan daya tahan tubuh, menurunkan produktivitas anti-bodi, dan artinya menurun pula daya imunitas. 

Jangan sampai kemudian sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah nggak boleh ngapa-ngapa, hilang pekerjaan, hilang nafsu makan, rindu tak tertahankan, penghasilan anjlok, eh, kesambet Covid-19 pulak! Padal, meski belum tertemukan vaksinnya, virus corona model baru ini pasti bisa dilawan oleh manusia, apalagi dengan perkembangan iptek sekarang ini. Bayangkan, Perancis sudah memakai RS Terbang untuk pasien Covid-19, dengan menggunakan pesawat terbang yang mengangkasa. 

Saya juga tak ingin mengingatkan pemerintah, selain mengingatkan diri sendiri, bagaimana membangun sistem pertahanan diri-sendiri. Karena mau beraktivitas di luaran, takut ditangkap polisi, yang kini merasa sah menjalankan tugas berdasar aturan hukum. 

Saya juga tidak akan mengritik bagaimana pemerintah babak belur dalam hal komunikasi dan informasi. Sudah dalam situasi seperti itu, kita tak punya official media, sebagaimana mestinya RRI dan TVRI dalam posisi itu. Yang dibanggakan orang malah TVRI model Helmy Yahya, yang salah arah dan kaprah, dengan mengekor konsep media komersial. Padal dalam soal kepekaan sosial masyarakat, apapun motivasinya, TV swasta seperti TV-One, Kompas TV, maupun Metro-TV sebagai 'tivi-berita' lebih mengambil peranan. Di tengah kontroversinya, mereka memberikan jasa besar dalam informasi soal pandemi virus itu.

Senyampang itu, Presiden juga salah pilih Menkominfo, yang pada saat gawat seperti ini tidak kita tahu di mana gerangan! Orang disuruh di rumah saja, tapi wifi lelet padal kalau telat bayar langsung dicabut. Tak ada diskon, apalagi gratis, kecuali terpapar virus terlebih dulu. 

The only way to keep your health is to eat what you don't want, drink what you don't like, and do what you'd rather not, ujar Mark Twain. Untuk sementara saya mengikuti saran pengarang sohor Amerika itu, bahwa satu-satunya cara untuk menjaga kesehatan adalah makan apa yang tidak anda inginkan, minum yang anda tidak sukai, dan lakukan apa yang tidak anda senangi. 

Termasuk sudah 6 bulan nggak maem tongseng! Gara-gara takut Corona? Gara-gara gak gableg duit! 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, April 5, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: