Mengingat-Nya dengan Ikatan yang Kuat

Oleh: Nadirsyah Hosen
 

Ibadah itu soal bagaimana mengingatNya. Mereka yang mencintaiNya akan selalu mengingatNya baik dengan cara menyebut namaNya (dzikir), melakukan berbagai ritual (ibadah) maupun di kala sendirian dalam ruang hening.

Allah pun ingin kita selalu mengingatNya karena hanya dengan jalan itulah akan tentram hati kita (tathmain al-qulub). Allah beri kita kekayaan, dan Allah ingin kita mengingatNya lewat pemberian zakat. Allah beri kita kesibukan, dan Allah perintahkan shalat lima waktu di sela-sela kesibukan agar kita selalu mengingatNya. Allah beri kita kebaikan, dan Allah ingin kita mengingatNya dengan berbuat baik pula pada sesama. Allah beri kita musibah, dan Allah ingin kita mengingatNya dengan mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiu'un.

Jikalau semua itu tidak berhasil membuat kita selalu ingat padaNya, maka Allah hadirkan Ramadan untuk kita. Mengapa? Karena disaat kita lapar, yang kita ingat adalah makanan. Di saat kita haus, yang kita inginkan dengan amat sangat adalah segelas air dingin. Dan di saat kita jauh dari pasangan, yang kita inginkan adalah bisa menyalurkan syahwat kita. Semua kebutuhan dasar manusia bisa diringkas dalam hal makanan, minuman dan pasangan. Namun Allah ingin kita mengingatNya di saat kita tengah lapar, dahaga dan tak diijinkan menyalurkan hasrat syahwat. Bisakah kita mengingatNya dan benar-benar merindukan dan menginginkanNya? Sepanjang siang hari sebelum maghrib tiba, apakah yang benar-benar terbayang dalam benak kita? Dia dan hanya Dia, atau selain Dia?

Ini yang menyebabkan Ramadan menjadi ibadah spesial. Ramadan membongkar habis kepalsuan kita yang paling dalam, benarkah kita merindukanNya? Saat kita menahan lapar ingatkah kita akan Allah? Atau kita lebih mengingat kebutuhan dasar kita sebagai manusia dan bukannya mengingat keberadaan Sang Pencipta? Mengapa yang lebih mudah terbayang adalah berbagai menu buka puasa?

Allah tidak membutuhkan amal ibadah kita. Allah tidak membutuhkan lapar, dahaga dan syahwat kita. Allah hadirkan Ramadan untuk menguji kita siapa yang benar-benar mengingatNya dalam kondisi apapun. MengingatNya dengan ikatan yang kuat. Itulah sebabnya dikatakan dalam Hadits Qudsi: "Puasa itu untukKu", yang bisa dipahami sebagai "Puasa (mu) itu untuk (mengingat) Aku!".

Rabbi,
semoga saat aku mengingatMu
itu pun karena Engkau tengah mengingatku

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

 

(Sumber: Facebook Nadirsyah H)

Wednesday, June 15, 2016 - 05:00
Kategori Rubrik: