Mengingat Kembali Kekejaman Rezim Orba

Ilustrasi

Oleh : Saiful Huda Ems

Ketika keluarga Soeharto menyatakan ingin mengembalikan Indonesia seperti zaman Soeharto, itu berarti sebuah tantangan bagi kami Aktivis '98 untuk kembali bergerak menuntaskan perjuangan. Dan jika perjuangan kita kelak kembali menang, jangan sampai kita biarkan mereka kembali leluasa bergerak di negeri ini.

Zaman Soeharto adalah zaman penuh teror, penculikan dan pembunuhan. Zaman yang sama sekali tidak mentolerir kritik atau kebebasan mengemukakan pendapat. Zaman monopoli ekonomi sekelompok keluarga Cendana dan konglomerat rekanannya. Zaman tiadanya kontestansi partai politik dalam Pemilu selain hanya sandiwara belaka. Zaman tiadanya pilihan Pemimpin Negara, kecuali lagi-lagi kembali ke figur itu-itu saja.

Siapapun politisi yang menginginkan kembali seperti pada zaman ORBA, berarti mereka politisi dungu tuna sejarah, atau setidaknya mereka itu berarti pernah merasakan bagaimana menikmati kemewahan di atas derita rakyatnya. Rakyat yang dipaksa hanya bekerja, namun tidak bebas menentukan masa depannya. Rakyat yang dipaksa menanam cengkeh namun kemudian dibangkrutkannya. Rakyat yang diperintahkan belajar namun setelah mengerti dan mengkritisinya diculik dan dibunuhnya.

 

Banyak orang memiliki tanah kemudian direbut paksa, jika menolak dianiaya bahkan dibunuhnya. Banyak perempuan cantik dihamili dan ditinggalkannya. Banyak seniman dicekal dan diasingkannya. Banyak mahasiswa kritis di luar negeri dicabut paspornya hingga tak dapat kembali ke tanah airnya. Banyak media massa ternama dibredel, dicabut SIUP nya. Banyak vila-vila dibangun di puncak tanpa menghiraukan izin hingga mengakibatkan banjir dimana-mana. Banyak orang kelaparan hingga busung perutnya.

Kepala-kepala Daerah dipaksa harus dari Tentara. Ketua-ketua Partai harus mendapat restu Soeharto. Semua Caleg harus melalui proses penelitian khusus yang semuanya bermuara dari keinginan Soeharto, dan 60 persen anggota legislatif diangkat oleh Soeharto. Stasiun TV tidak diperbolehkan mengkritisi Pemerintahan Soeharto, para pejabat negara rata-rata memiliki saham mayoritas di semua media cetak dan elektronik.

Dari semua kesaksian yang saya sebutkan di atas, masihkah kalian tertarik untuk mengembalikan Indonesia seperti di zaman ORBA Soeharto? Dari semua kesaksian yang saya terangkan di atas, masihkah pantas keluarga Soeharto membanggakan diri dengan mengagungkan Zaman ORBA? Maka berkacalah mantan Nyonya Jenderal Kardus, bersyukurlah Rakyat Indonesia tidak terus memaksa menggantung keluarga kalian di dalam aksi Pergerakan Pemuda dan Mahasiswa di Tahun 1998 !...(SHE).

Sumber : Status Facebook SAIFUL HUDA EMS (SHE). Advokat dan Penulis, .

Friday, November 16, 2018 - 18:15
Kategori Rubrik: