Mengingat Jejak Kemenangan Jokowi Dan Kekalahan Prabowo

ilustrasi

Oleh : Imam Fadholi

Joko Widodo dan Prabowo Subianto adalah dua orang tokoh bangsa yang sudah dipercaya menerima mandat rakyat menjadi Calon Presiden selama dua kali Pemilihan Presiden, yaitu pada Pilpres 2014 dan 2109 yang baru saja kita laksanakan bersama.

karier politik kedua tokoh tersebut memiliki catatan sejarahnya masing-masing. Jokowi memulainya pada pemilihan Wali Kota Surakarta pada tahun 2005, sementara Prabowo melaju kariernya pada Pilpres 2004 sebagai Calon Wakil Presiden.

Yang menarik ketika membandingkan catatan sejarah keduanya adalah prihal capaian dalam proses mengikuti kontestasi Pemilu. Jokowi sedari awal langsung dianugerahi kemenangan, dan Prabowo sejak semula terpaksa harus menerima kekalahan.

Oleh sebagian orang, Jokowi dianggap memiliki keberuntungan yang tinggi karena sejak menjadi Calon Wali Kota Surakarta untuk pertama kalinya di tahun 2005, ia sudah memenangkan pesta demokrasi di tingkat daerah itu bahkan mengalahkan calon-calon lain yang diantaranya adalah petahana.

Memasuki periode keduanya, Jokowi kembali berlaga di Pilkada Solo pada tahun 2010. Pilwali kali kedua yang diikuti Jokowi itu cukup mencengangkan banyak kalangan, tak terkecuali para politisi dan media di tingkat nasional, sebab perolehan suara Jokowi dan pasangannya hingga mencapai angka 90,09 persen. Sontak ketika itu nama Jokowi kerap menghiasi layar kaca TV dan media lainnya.

Kemenangan mutlak yang diraih Jokowi saat itu erat kaitannya dengan beragam prestasinya yang ditorehkan selama menjabat Wali Kota di periode pertamanya. Sukses merelokasi PKL di taman kota dengan pendekatan humanis yang nyaris tanpa kendala disebut-sebut yang terbaik dan cukup fenomenal serta mendapat banyak pujian.

Bersama pujian dari banyak kalangan, Jokowi kembali menerima mandat menjabat sebagai orang nomor satu di Kota Surakarta untuk kedua kalinya. Tapi di periode kedua, pengabdian pria bertubuh kurus itu ternyata tak bisa tuntas hingga lima tahun. Takdir mengharuskannya maju dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2012.

Di Jakarta, Jokowi yang terpilih sebagai Calon Gubernur bersanding bersama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai Cawagub. Ia harus bertanding melawan beberapa pasang calon, hingga lolos di putaran pertama dan kembali bertanding di putaran kedua yang saat itu lawannya adalah calon petahana Fauzi Bowo bersama Cawagubnya Nachrowi Ramli.

Dan lagi-lagi, laju kemenangan Jokowi tak bisa dibendung. Meski datang dari luar Jakarta dan bersama sang wakil yang double minoritas (Non Muslim dan keturunan Tionghoa), keduanya ternyata mampu meraih kemenangan di Pilkada DKI Jakarta yang tak lain adalah Ibu Kota Negara. Kemenangan itupun cukup mengagetkan banyak kalangan sekaligus menjadi bahan pemberitaan media cukup panjang.

Belum genap dua tahun menjalankan tugasnya di DKI, Jokowi terpanggil untuk maju di ajang tertinggi Pemilu di tahun 2014. Ia didaulat maju sebagai Calon Presiden didampingi Jusuf Kalla yang saat itu masih menjabat sebagai Wapres SBY di periode keduanya. Bersama JK, Jokowi pun tak disangka mampu memperoleh suara di atas 50 persen mengalahkan perolehan suara Prabowo sebagai lawan tandingnya yang kala itu bersama Hatta Radjasa.

Kemenangan di 2014 mengantarkan Jokowi yang juga dikenal sebagai pengusaha meubel itu menuju kursi Presiden. Capaian tertinggi dalam karier politik diraihnya. Hingga sekarang, Ia pun sudah menjalankan tugas negara lebih dari empat setengah tahun dengan berbagai prestasi membanggakan. Karenanya di 2019 ini, Jokowi kembali diamanahi sebagai Capres dan didampingi Maruf Amin sebagai Cawapres.

Jejak kemenangan Jokowi yang tertulis di atas bertolak belakang dengan catatan sejarah perjalanan karier politik Prabowo di Pemilu. Mantan Mantu Soeharto itu sejak awal diganjar kekalahan, setidaknya dalam tiga kali majunya dalam laga Pilpres.

Pertama di 2014 dimana mantan suami Titiek Soeharto itu maju dalam konvensi calon presiden Partai Golkar. Saat itu ia kalah. Dan konvensi dimenangkan oleh Wiranto yang kemudian maju bersama Salahuddin Wahid.

Lanjut di Pilpres 2019. Prabowo yang semula berkeinginan maju sebagai Capres, akhirnya harus menerima posisi sebagai Cawapres Megawati yang kala itu diusung PDI-P sebagai Capres. Namun lagi-lagi, Prabowo harus menelan pil pahit kekalahan karena kemenangan berlabuh pada pasangan SBY-Budiono.

Prabowo rupanya tak kenal kata menyerah. Di 2014 ia kembali maju sebagai Capres didampingi Hatta Radjasa sebagai Cawapres. Kala itu, ia pun terpaksa menyerah pada kenyataan, menerima kekalahan dari lawan tandingnya Joko Widodo yang didampingi Jusuf Kalla.

Tiga kali kekalahan tak menghalangi jalan Prabowo maju dalam ajang Pilpres. Tahun ini, ia pun kembali bertanding melawan Capres Petahana Joko Widodo. Meski belum final, tapi aroma kekalahan sudah sangat kuat terendus dari Prabowo.

Sementara Jokowi yang lekat dengan kemenangan, kali ini sudah menunjukkan aura kemenangan disertai data-data hasil quick count yang semuanya menempatkan dirinya sebagai pemenang laga.

Joko Widodo Sang pemenang dan Prabowo Subianto yang selalu kalah. Inilah label yang melekat pada dua tokoh bangsa kita dengan dua dua kali catatan tandingnya bertarung di Pilpres.

Sumber : Status Facebook Imam Fadholi

Saturday, April 20, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: