Mengingat Ahok: Ketulusan, Keberanian & Pengorbanan

Oleh: Wahyudi Akmaliah
 

Saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang marah ketika Ahok dituduh melakukan penistaan agama. Apalagi, video anda yang berdurasi 1 jam dengan konteks penjelasan satu program di Kepulauan Seribu itu dipotong menjadi 13 detik. Kata “pakai” kemudian dihilangkan dalam transkrip yang dibuat oleh Buni Yani. Dua hal itu dianggap sebagai bukti tindakan anda melakukan penistaan agama. Sementara itu, permintaan maaf anda yang tulus berkali-kali dalam setiap momentum dianggap sebagai angin lalu bagi mereka yang telah menjadikan kebencian sebagai satu-satunya cara melihat anda. Kebencian inilah yang dijadikan amunisi politik di tengah arus Pilkada untuk melakukan tekanan massa melakukan demonstrasi agar anda di penjara. Serangan fitnah yang menimpa anda dan masyarakat yang mendukung anda juga mengalami teror terus menerus dengan menjadikan agama dan etnik sebagai dalih agar tidak memilih anda.

Namun, alih-alih meninggalkan anda, saya dan sebagian orang Jakarta tetap memilih anda. Karena kami tahu bahwa anda tulus dalam membangun Jakarta. Tidak ada yang menyangsikan kerja-kerja anda dalam membangun Jakarta, baik secara administratif, pembangunan fasilitas, moda transportasi, keberpihakan terhadap orang miskin, ataupun transparansi anggaran ABPD yang berpihak kepada masyarakat Jakarta umumnya. Karena sebagian besar masyarakat Jakarta adalah Muslim, anda kemudian membangun masjid Fatahillah di kantor Balai Kota dan Masjid Raya KH Hasyim Asy’ari untuk masyarakat umum Jakarta. Tidak berhenti di sini. Dengan empati mendalam, anda memberangkat para marbot untuk pergi Umroh ke tanah suci. Alih-alih memiliki rencana untuk ke tanah suci, bermimpi saja untuk sampai ke sana rasanya tidak mungkin untuk mereka. Dengan kebajikan dan sikap seorang pemimpin, anda justru menjadikan angan-angan yang menjaga Rumah Allah ini menjadi kenyataan. Di sisi lain, ketika ada anggota umat Kristiani meminta hal yang sama untuk dibikinkan Gereja, anda dengan tegas menolaknya. Ini karena, bagi anda, kebutuhan Rumah Ibadah, dalam hal ini masjid, jauh lebih dibutuhkan umat Islam yang menjadi PNS di Balai Kota, di mana mereka melaksanakan Salat Jumat setiap seminggu sekali dan salat 5 waktu.

 

 

Sikap keberpihakan kepada masyarakat Muslim ini mengingatkan saya kepada ungkapan pembaharu dan pemikir Islam, yang juga merupakan muridnya Jamaluddin Al-Afghani, yaitu Muhammad Abduh. Ungkapan ini ia dapatkan saat berkunjung dan berkeliling ke negara Eropa. Ungkapan ini yang selalu selalu saya dapatkan dan termaktub dalam ingatan saya saat belajar menjadi santri di Madrasah selama 6 tahun dan jadi mahasiswa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, “Saya pergi ke Barat dan saya melihat Islam, tapi tidak melihat adanya Muslim. Sebaliknya, saat saya kembali ke Timur, saya melihat Muslim, tapi saya tidak melihat Islam”. Dengan kata lain, kerja-kerja progresif anda dalam memimpin kota Jakarta telah mencerminkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya.

Karena itu, ketika anda kalah dalam Pilkada Jakarta saya sangat sedih. Saya dan isteri hanya terdiam melihat kekalahan anda melalui layar kaca dengan melihat perhitungan cepat. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana Jakarta di bawah nakhoda yang rekam jejaknya diragukan. Tidak terasa, air mata saya tumpah di rumah. Saya memeluk isteri saya tanpa berkata apa-apa. Ya, hanya pelukan erat yang lama. Ketika rasa sedih itu mulai berkurang, isteri saya sempat mengeluhkan, “Ahok itu orang baik ayah. Kenapa ia bisa kalah dan tidak terpilih”, ujarnya lirih. Saat itu saya terdiam beberapa saat. Saya mengumpulkan tenaga untuk berbicara, “orang baik dan bekerja sungguh-sunguh itu enggak penting di negeri ini”. Hari itu saya berhenti menonton televisi dan membaca berita mengenai kekalahan anda. Namun, meskipun anda kalah dalam Pilkada dilakukan dengan cara-cara yang kotor dengan menjadikan masjid sebagai media penyebar kebencian, saya dan orang-orang yang mendukung anda tetap menerima kekalahan ini.

Kesedihan saya dan banyak orang yang mendukung anda menjadi berlipat saat anda dijatuhi vonis hukuman 2 tahun; hukuman berat yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim, yang tidak sesuai dengan tuntutan Penuntut Jaksa Umum. Bagi saya, Pak Ahok mengalami ketidakadilan. Ketidakadilan ini yang menginspirasi banyak orang untuk turun ke jalan menyalakan lilin, baik di pelbagai daerah di Indonesia dan dunia internasional. Hal ini bukan semata-mata untuk membela anda melainkan nasib Indonesia ke depan mengenai kebhinekaan dan kebangsaan yang sudah tercabik-cabik dengan isu Politik Sara selama kampanye dan proses Pilkada Jakarta berlangsung. Ketidakadilan yang Ahok alami merepresentasikan mengenai keadilan yang kami rasakan juga. Di sisi lain, kerja-kerja anda membangun Jakarta menjadi lebih baik, dengan keberanian dan ketulusan menjadi seonggok batu yang tidak berguna bagi mereka yang bebal terhadap kebenaran.

Kini saat anda memiliki kesempatan dan hak untuk melakukan banding terhadap keputusan yang tidak adil ini, tiba-tiba anda dan Veronica Tan, sang isteri, tiba-tiba membatalkan dan mencabut hak banding tersebut, meskipun tim pengacara sebenarnya sudah mengajukan memori banding. Sebenarnya, pengorbanan apalagi yang ingin anda tunjukan kepada masyarakat Indonesia di tengah ketidakadilan ini? Sungguh pengorbanan ini menunjukkan sikap kenegarawan yang tulus dan keikhlasan yang penuh seluruh serta cerminan dari nilai-nilai religiusitas kekristenan yang membadan tidak hanya di mulut, melainkan tindakan keseharian anda. Kekhawatiran akan perpecahan di tengah kemungkinan demonstrasi untuk melakukan penuntutan anda apabila dibebaskan menjadi cermin kepada elit politik betapa menjadi lilin yang menerangi orang lain dan membakar diri sendiri seringkali dibutuhkan untuk menjaga Indonesia ke depan agar tidak diliputi oleh dendam yang diselubungi tujuan politik praktis. Lebih jauh, cara ini, secara tidak langsung, agar mereka yang menaruh dendam terpuaskan. Meminjam ungkapan buya Syafi’i Maarif, “saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas” (Tempo, 2 Desember 2016).

Alih-alih lari dari pemeriksaan kepolisian dengan seribu alasan. Selama proses di kepolisian dan sidang di kepengadilan anda tidak sekalipun absen di tengah kerja-kerja sebagai Gubernur Jakarta. Anda menunjukkan keberanian atas perbuatan yang sebenarnya tidak perlu anda tangguhkan, karena anda tidak bersalah. Tetapi, anda berani memikul itu sendirian. Sikap keberanian inilah yang perlu ditunjukkan kepada mereka yang meneriakkan nama kebesaran Tuhan tapi tidak menunjukkan welas asih dalam Islam dan sikap yang dicerminkan oleh tauladan baginda Nabi Muhammad SAW, yaitu shiddiq (benar, baik perkataan dan perbuatan), amanah (bisa dipercaya), tabligh (menyampaikan sesuatu tanpa disembunyikan, dan fathonah (cerdas).

Terima kasih Pak Ahok. Anda telah memberikan inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat Indonesia mengenai jalan politik yang penuh resiko tetapi harus ditempuh dengan kejujuran, ketulusan, dan keberanian untuk bangsa Indonesia yang lebih baik. Pengorbanan anda akan menjadi ingatan kolektif bangsa ini, baik orang yang mencintai maupun yang membenci anda dengan dendam di hatinya, tentang sosok individu yang memberikan kontribusi penting untuk negara Indonesia, meskipun penjara menjadi taruhan dari kerja-kerja politik anda membangun kebajikan melalui DKI Jakarta.

Saya yakin Allah Sang Maha Pengampun dan Maha Membolak-balikan hati hamba-Nya sedang menunjukkan rencana yang besar untuk Pak Ahok dan masyarakat Indonesia. Ya, Gusti Ora Sare Pak Ahok. Saya setuju itu. Ini terlihat, satu-satu persatu kebenaran terkuak atas pelbagai hal yang dituduhkan kepada anda. Semoga selalu sehat dan selalu kuat dalam belajar Kungfu di penjara untuk mempersiapkan kembali terjun ke gelanggang politik kebajikan yang anda selalu bangun.

Salam kangen,

 

(Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah)

Tuesday, June 6, 2017 - 16:15
Kategori Rubrik: