Mengimpor Sektarianisme Dari Aleppo

Ilustrasi

Oleh Nino Aditomo

Soal Aleppo, linimasa (timeline) saya menampilkan dua narasi yang bertentangan. Narasi pertama mengatakan bahwa pemerintah Suriah sedang melakukan genosida, membantai penduduk Aleppo tanpa ampun. Dalam narasi ini, pemerintah Suriah adalah penindas Syiah, sedangkan penduduk Aleppo merupakan umat Islam (Sunni) yang tertindas.

Sebaliknya, narasi kedua mengatakan bahwa yang terjadi adalah pembebasan penduduk Aleppo dari kekejaman teroris yang telah bertahun-tahun mengurung penduduk kota itu. Dalam narasi ini, para pemberontak tak lebih dari teroris brutal, ekstrimis (Islam) yang tak segan menyiksa dan membantai demi ambisi politik mereka.

Jadi, apa yang sedang terjadi di Aleppo? Klaim pihak mana yang menerminkan realitas? Sulit dipastikan. Yang jelas, meski bertentangan, kedua narasi ini sebenarnya sama saja. Keduanya memotret realitas secara hitam putih. Yang satu seburuk setan, yang lain baik bak malaikat. Pihakku mutlak benar, pihak lain sepenuhnya salah. Dan justru di sini masalahnya. Dalam perang, tidak ada pihak yang bisa mengaku tanpa dosa. Apalagi dalam konflik serumit Suriah.

Tanpa harus menjadi ahli soal Suriah, orang awam yang waras akan sepakat bahwa konflik tersebut menghasilkan kerusakan dan penderitaan yang luar biasa. Pelajaran sederhana yang seharusnya kita resapi adalah betapa berbahayanya sektarianisme agama. Betapa mudahnya sentimen antar kelompok agama (dalam hal ini Sunni-Syiah) dimanfaatkan untuk memicu konflik berkepanjangan.

Dalam konteks inilah saya tak habis pikir melihat ada sebagian rekan yang membagi-bagikan informasi seperti dalam gambar ini. [Kalau ingin melihat lebih banyak posting serupa, ketikkan saja kata-kata kunci “Jokowi”, “Syiah” dan “Aleppo” di mesin pencari FB.] Propaganda yang ingin disampaikan bukan saja bahwa pemerintahan Jokowi adalah sekutu Syiah. Disebarkan dalam konteks narasi Syiah membantai Sunni di Aleppo, pesannya adalah bahwa Jokowi merupakan musuh umat Islam (Sunni).

Pesan-pesan seperti ini adalah upaya merongrong legitimasi politik pemerintah. Kritik terhadap pemerintah itu perlu, bahkan harus dilakukan. Tapi dengan mengimpor sentimen sektarian Sunni-Syiah? Itu sama saja dengan menyemai bibit perpecahan dan konflik demi kekuasaan politik.

Sumber Facebook Nino Aditomo

Monday, December 19, 2016 - 00:15
Kategori Rubrik: