Mengikis Dendam

ilustrasi

Oleh : Feriawan Agung Nugroho

Mobil plat merah AB yang sudah terparkir selama satu jam lebih siap meninggalkan kota Jakarta. Sudah terlalu lama tiga petugas mendampingi Hasim berputar-putar di area tersebut, tetapi tidak menemukan orang yang mereka cari di kompleks tersebut. Sebuah kompleks kontrakan di suatu daerah kumuh di situ.

“Sudahlah, Pak. Nggak ada gunanya juga. Pulang ajalah, Pak,” ajak Hasim.

“Yowis. Bali wae (Yaudah, pulang aja)”, pimpinan rombongan memutuskan.

Hasim menanarkan matanya pada lingkungan yang ada di depannya. Lingkungan yang dulu sangat dia hafal. Banyak yang berubah. Meski banyak yang masih sama. Tetapi orang-orangnya memang sepertinya sudah berubah. TIdak ada yang dia kenal. Dia sudah tidak menemukan jejak pada orang-orang di situ tentang apa yang mereka cari. Keluarganya.

Bagi Hasim sendiri, ketemu tidak ketemu, baginya sama-saja. Jika tidak diajak oleh petugas-petugas ini untuk bisa melakukan reunifikasi dengan keluarga, dia tidak punya niat sedikitpun untuk mencari keluarganya.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di tempat itu, dia masih ingat betul tragedi hidup yang menimpanya.

***

Hasim kecil, yang usianya belum genap tujuh tahun menangisi jenazah neneknya. Sedari kecil dia ikut dengan neneknya tanpa tahu tentang siapa ibu bapaknya. Waktu itu tamu sangat banyak, suasana sangat sendu. Hasim tidak terlau ingat bagaimana detilnya, tetapi dia mendengar di ruang tamu, di sela kesibukan para tamu, anak-anak dari almarhumah sedang membicangkan sesuatu yang memalukan: perebutan waris.

Pada hari-hari terakhirnya, Hasim masih ingat, Neneknya sempat mewasiatkan bahwa rumah, kebun, dan semua harta benda itu menjadi miliknya. Tetapi Hasim yang waktu itu masih anak kecil, jelas tidak paham apa arti semua itu. Kemana harta neneknya itu, jatuh pada siapa, tidak ingat.

Selang waktu berlalu, Hasim ikut dengan orang yang dia panggil sebagai Bude. Dari Budenya lah Hasim dikenalkan dengan orang yang kemudian dipanggilnya ayah dan ibu. Tidak terlintas di kepalanya bahwa dia pada akhirnya hidup dengan mereka sebagai keluarga. Tapi sejak saat itulah hidupnya berubah total. Dari serba berkecukupan, menjadi sangat berkekurangan. Sampai dengan adik-adik Hasim lahir, tetapi kebanyakan meninggal, ataupun tidak jelas nasihbnya. Hasim tidak ingat betul. Tetapi dia masih memilik saudara yang saat itu masih kecil.

Ayah Hasim jarang pulang. Hasim lebih sering bersama dengan ibunya. Kondisi ibunya ternyata sakit-sakitan. Untuk kebutuhan hidupnya, Hasim mengamen.

Ketika ayahnya datang, yang terjadi bukannya suasana rumah lebih baik, sebaliknya. Ibunya seringkali jadi bulan-bulanan sang ayah. Bahkan, yang Hasim ingat, saat itu ibunya dalam keadaan mengandung, masih saja mendapat siksaan lahir batin dari sang ayah.Setelah puas melampiaskan amarah, ayahnya pergi begitu saja dari rumah.

Sampai kemudian usia kandungan sudah mulai tua, Hasim mendapati ibunya dalam keadaan merintih-rintih di malam hari meminta tolong. Hasim meminta tolong kepada tetangga kiri-kanan tetapi tidak ada yang tergerak. Maka malam itu Hasim kecil berusaha memapah, menggendong ibunya untuk orang yang bisa mengantar ibunya ke bidan atau rumah sakit yang ada di sekitar situ. Entah berapa jarak yang dia tempuh bersama ibunya, Hasim tidak tahu. Sampai kemudian menemukan tukang becak yang bisa menolongnya.

Bayi mungil lahir. Hasim ingat betul tentang adiknya itu. Tetapi ketika ayahnya datang, si bayi dibawanya pergi. Ketika pulang, Ayahnya tidak lagi membawa adiknya, tetapi justru membawa barang-barang baru seperti radio tape dan barang elektronik lainnya. Hasim menduga, ayahnya sudah menjual adiknya. Dugaan Hasim menjadi lebih jauh, sangat mungkin bahwa ayahnya dan ibunya menyambung hidup dengan cara menjual anak kandungnya sendiri.

Sampai di situ Hasim tidak lagi paham apa arti orang tua baginya. Dia memilih untuk tidak peduli.

Suatu ketika, hari yang tidak akan dilupakannya. Saat itu dia sedang berkelahi dengan adiknya. Ayahnya datang penuh amarah mendengar keributan dua anaknya. Amarah yang memuncak membuat pria yang badannya tinggi besar itu murka. Hasim dihajar habis-habisan.

Hasim sempat ingat, bahwa ketika ayahnya murka, banyak tetangga kiri kanan yang menyaksikan. Tetapi mereka memilih diam dan tidak mau turut campur urusan orang. Tidak peduli bagaimana Hasim menangis menjadi bulan-bulanan ayahnya. Tidak cukup puas, ayahnya mengambil sebalok kayu dengan paku yang masih tertancap. Dipukulkannya kayu berpaku itu ke wajah Hasim.

BRAKKK!!!

Darah mengucur deras. Kena bagian pelipis di atas matanya. Paku yang ada di balok tertancap pada tulang tengkorak. Hasim berlari menjauhi ayahnya. Terus berlari dengan dendam dan amarah pada ayahnya, serta pada lingkungan, pada orang-orang yang hanya bisa diam melihat dia diperlakukan begitu rupa.

Hasim tidak ingat kejadian selanjutnya. Sembari berusaha agar lukanya sembuh sendiri, dia memilih minggat dari rumah. Bertahan hidup di jalanan, mampir dari satu kota ke kota lain. Sampai akhirnya masuk ke kota Yogyakarta.

Di kota inilah dia bertemu dengan petugas yang kemudian merujuknya di PSAA (Panti Sosial Anak Asuh), nama Balai ini pada waktu itu.

Yogyakarta, pada akhirnya meluluhkan hatinya. Masyarakatnya berbeda dengan Jakarta. Lingkungannya mengubah imajinasi tentang ketidakpedulian orang-orang pada hidupnya. Di Balai ini, Hasim menata hidupnya jauh lebih baik. Bersekolah dari SD, SMP hingga sekarang di SMK. Di Balai ini, dia sudah bisa menyesuaikan diri. Kamarnya relatif bersih, memiliki cita-cita menjadi montir atau tukang bengkel.

Hari ini, dia menerima nilai raport memuaskan. Masuk peringkat lima besar. Dia bisa tersenyum, dengan bekas luka di pelipis yang tak bisa hilang. Bekas luka yang mempengaruhi perbedaan lebar mata kiri dan kanannya, tetapi itu tidak membuat hatinya menyimpan dendam berkepanjangan. Dendam kepada orang tuanya yang begitu kejam, dan dendam pada masyarakat yang tidak memiliki kepedulian sosial. (*)

NB: Ditulis dengan ijin Hasim (bukan nama sebenarnya) untuk menjadi hikmah bagi kita semua.

Sumber : Status Facebook Feriawan Agung Nugroho-Full

Friday, July 3, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: