Menghitung Jumlah Celdam

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Betapa sederhana cinta ini sesungguhnya, yang pelik cuma liku dan tafsirannya. Demikian kutipan entah siapa. Yang pasti bukan Pramoedya Ananta Toer, meski kayaknya niru-niru Pram dalam Rumah Kaca; “Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya, yang pelik cuma liku dan tafsirannya.”

“Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong,” tulis Tere Liye dalam buku “Kau, Aku Dan Sepucuk Angpau Merah”. Judul itu menyiratkan ada angpau warna ijo, biru, dan seterusnya. Kalau sepucuk angpau? Itu menunjuk dalam hidup ini kadang ada sepucuk, duapucuk, tigapucuk, dan entah berapa jumlah pucuk dicinta ulam tiba? Apalagi jika yang kita hitung justeru ulamnya. Bukan tibanya.

 

 

Makanya disebut peribahasa, bukannya manusiabahasa. Toh kenyataannya peribahasa tak pernah ngomongin pasar saham. Apalagi siapa kandidat capres yang bakal menang. Dulu waktu kita kuliah, semboyannya; Buku, Pesta, dan Cinta.

Meskipun tiga kata itu sesungguhnya asing. Buku, serius pernah berhubungan? Apalagi pesta dan cinta? Pesta itu penting, asal nggak ikut iuran. Itu kesempatan bisa mengurangi jatah, nyoret tanggalan atau perbaikan gizi. Meski ada yang ganjil, ada Pesta ada Cinta, kok nggak ada Sex-nya?

Mungkin karena penganut Khalil Gibran, bahwa Cinta itu burung yang indah. Apalagi kata Gibran, cinta itu mengemis untuk ditangkap, tapi menolak dilukai. Haisyah! Menurut Gibran yang jual martabak; Semuanya nggak papa, biasa saja. Mempercayai Habibie mungkin lebih optimistik, “Cinta tidak berupa tatapan satu sama lain, tetapi memandang keluar bersama ke arah yang sama.”

Meskiii, Dr. Seuss pernah menulis, “ketika Anda jatuh cinta, kebahagiaan akan membuat Anda sulit tertidur, karena kenyataan lebih baik dibandingkan mimpi Anda!” Asemik. Jadi cinta itu mimpi? Atau mimpi itu cinta? Atau cinta mimpi itu rumusnya = mimpi cinta?

Tentu saja ada yang hidupnya lengkap, dengan trilogi mahasiswa itu. Buku, Pesta, Cinta. Tapi, bukankah kita juga pernah mendengar mereka yang punya orangtua penghasilan pas-pasan? Kiriman duit telat, bahkan mesti jungkir-balik membiayai kuliah sendiri!

Karena dibuka dengan menyinggung Pram, kita kutipkan Mbah Pram yang sakti mandraguna sebagai penutup, “Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai.” Padahal, belum tentu ‘kan? Nyatanya yang kita anggep pinter banget, gitu gabung Sandiaga jadi aneh.

Maka, baiknya nggak perlu anggep-anggepan? Daripada dituding nggak serius, dan merasa hidup begitu sia-sia dan sunyi. Mari kita hitung kembali, berapa sebenarnya koleksi celana dalam kita masing-masing. Apakah ada yang berwarna merah darah, item total, atau pink dengan hiasan bunga di sisi kanan? Siapa tahu salah satunya harus dibakar mateng-mateng, sebagai tolak-bala.

Karena menurut Ghazalli, dengan menyebalkan dia bilang; “Cinta hanya istilah belaka!” Baik itu cinta agama, cinta capres, cinta duit, cinta nganu. Perilakunya penuh benci.

(Sumber: Facebook Sunardian W)
 
 
Saturday, February 9, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: