Menghina Kiai, Fadli Zon Miliki Sifat Yahudi

Oleh: Ricky Apriansyah

 

Bukan Fadli Zon kalau tidak sigap merespons isu yang dianggapnya akan menguntungkan kelompoknya. Hingga demi urusan menggoreng isu, dia pun sampai hati menistakan ulama sepuh yang sangat ditokohkan oleh kaum Nahdliyin.  Akibat usia yang sudah begitu sepuh (90 tahun), ulama besar Kiai Maimoen Zubair memang sempat kepleset lidah dan salah mengucap dalam doa-menyebut Jokowi dengan Prabowo. Hal ini sangat lumrah mengingat usia Mbah Moen. Semua yang ada di acara doa tersebut pun memaklumi dan biasa saja. Video pembacaan doa pun tetap diedarkan tanpa ada editan atas silap lidah pengucapan nama Jokowi menjadi Prabowo.

Namun, salah ucap tersebut langsung dengan cepat digoreng oleh kubu 02. Salah satunya Fadli Zon.  Salah satu tokoh penyebar hoax Ratna Sarumpat dipukuli ini membuat puisi berjudul “Doa yang Ditukar”. Masalahnya, isi puisi tersebut sangat tidak sopan ketika menyinggung sosok Mbah Moen.

 

 

Banyak yang sudah menyatakan keberatan dengan memention namanya di Twitter. Namun Fadli Zon tak kunjung minta maaf. Fadli Zon memang sudah lama menunjukkan gelagat tidak suka pada kaum Nahdliyin. Apalagi hampir semua tokoh Nahdliyin mendukung pasangan Capres 01. Perilaku Fadli Zon ini mengikuti apa sifat  kaum Yahudi; yaitu gemar mengolok-olok. Di zaman Nabi, kaum Yahudi juga gemar mengolok-olok dan melecehkan pemimpin agama dan Nabi SAW sendiri.

Fadli Zon  yang melecehkan Kiai Maimoen, dengan menyebutkan beliau seolah-seolah adalah makelar doa, sama sekali tidak bisa diterima. Ini bukan hanya menyalahi dan menyinggung kalangan NU. Lebih dari itu  juga tak sesuai dengan tatakrama Indonesia. Kiai adalah sosok yang seharusnya dihormati, apalagi kiai sepuh. Namun puisi Fadli Zon yang menunjukkan sifat-sifat orang Yahudi, bertentangan dengan semua nilai itu.

Mengapa Fadli Zon sampai tega melecehkan Kiai Maimoen? Itu  karena sifat-sifat Yahudi memang melekat erat melekat dalam diri Fadli Zon. Bila Fadli Zon tidak mau minta maaf, itu semakin menunjukkan bahwa sifat Yahudi dalam dirinya sudah merasuk dalam hingga ke pembuluh darahnya. Dia tak hanya suka melecehkan orang lain bahkan seorang kiai sekaligus. Lebih dari itu dia juga arogan dan sebagai anggota parlemen dia merasa kebal hukum. Dia pun merasa bisa berbuat semaunya serta menunjukkan riya’ kekuasaan. Ingat kan perilaku anaknya Shafa Sabila Fadli yang suka mabuk-mabukan tapi minta fasilitas khsus KJRI New York. Betapa malangnya bangsa Indonesia punya wakil rakyat seperti dia.

 

Wednesday, February 6, 2019 - 15:00
Kategori Rubrik: