Menghilangnya Para Penggerak Tagar 2019 GP

Ilustrasi

Oleh : Najmudin Gandhi

Mungin sudah 3 atau bahkan 4 bulan kita tidak mendengar lagi tentang sekelompok orang yang menggaungkan #2019GantiPresiden. Entah apakah memang karena sudah ditetapkan siapa capres dan cawapresnya atau karena penyebab lain mereka menghilang. Yang jelas jika kita bedah siapa saja mereka, jelas sekali bahwa mereka berada di pasangan Capres dan Cawapres Prabowo – Sandiaga. Dan gerakan ini bukannya bisa dialihkan menjadi dukungan yang massif melainkan terlihat anti klimak.

Rupa-rupanya, para penggerak #2019GP yang awalnya sok heroik bahkan mengklaim akan membesar justru kini tidak banyak mendapat porsi di tim kampanye Prabowo Sandi. Sebut saja Neno Warisman, Mustofa Nahra, Felix Siaw, Ahmad Dhani, Buni Yani, Ratna Sarumpaet hingga inisiator Mardhani Ali Sera bahkan lenyap bagai ditelan bumi. Yang muncul tim kampanye Prabosan malah seperti Dahnil Anzar, dr Albinsaid, Andre Siande dan lain-lain. Ada beberapa hal yang menyebabkan para penggerak tagar GP kemudian tidak masuk, menghilang atau tidak dimunculkan kembali dalam tim kampanye.

Terbukti para penggerak itu terkena kasus seperti Neno Warisman yang ditolak diberbagai kabupaten kota sehingga dipulangkan kembali. Lalu Ahmad Dhani dan Buni Yani harus menghadapi meja hijau disebabkan ujaran kebencian. Buni Yani bahkan vonisnya sudah dikeluarkan oleh MA sehingga harus menjalani masa hukuman. Sedangkan Ratna Sarumpaet jauh lebih parah, menyebarkan berita bohong terkait dirinya yang mengaku dipukuli orang. Tindakan keterlaluan ini bahkan melibatkan Prabowo sebagai Capres.

Mereka ini terlihat terbiasa melakukan hal-hal yang tidak jujur, kotor, menodai demokrasi, culas, bahkan menghalalkan cara agar memenangkan Pilpres 2019. Jika memang kemudian para penggerak tagar GP benar-benar “ditarik” karena melakukan beberapa kesalahan, tim juru bicara yang ditunjuk secara resmi ternyata kapasitasnya tidak jauh lebih baik. Dari berbagai ajang diskusi baik di media elektronik maupun media sosial, terlihat tim kampanye Prabowo hanya sibuk menyerang petahana. Mereka tidak mampu menyampaikan atau menjabarkan apa program kerja Prabowo Sandi.

Belum lagi mereka terbebani dengan tingkah dan perbuatan Capres Cawapres mereka yang sering melakukan blunder ketika berkampanye dilapangan. Kondisi ini makin membuat kalang kabut tim kampanye. Tercatat sudah tiga kali Prabowo meminta maaf atas pernyataannya dan Sandiaga sudah 2 kali meminta maaf. Jadi sejatinya Pilpres 2019 sudah tuntas dan kita tinggal bergembira dengan proses demokrasi Indonesia yang makin matang.

Para penghina dan pengadu domba, kalau Allah SWT sudah berkehendak maka tak ada yang bisa menghalanginya

 

Thursday, November 29, 2018 - 11:15
Kategori Rubrik: