Menghijaukan Kepentingan

ilustrasi

Oleh : Yamin El Rust

Ruang Terbuka Hijau (RTH) yg disyaratkan pada setiap kota menurut UU No 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang adalah 30% dari luas kota. Luasan ini terbagi atas 20% RTH publik dan 10% RTH privat. DKI Jakarta baru memiliki ruang terbuka publik seluas 9,98% (Sept 2018) atau mengalami kenaikan 0,98% dari luasan pd thn 2010. Dengan anggapan RTH privat sudah terpenuhi, maka DKI Jakarta masih membutuhkan sekitar 10% lagi RTH untuk mencapai persyaratan dlm UU. Apakah persentase ini akan terpenuhi dgn mengkonversi lahan eks bangunan kantor pemerintahan menjadi RTH seperti gagasan gubernur Anies Baswedan?

Luas DKI Jakarta sekitar 65.000 ha, maka 10% RTH yg dibutuhkan itu adalah 6.500 ha. Tidak diketahui berapa luasan bangunan milik pemerintah yg dapat dikonversi menjadi RTH, tapi sepertinya masih jauh dari 6.500 ha. Sebagai patokan luasan 6.500 ha itu hampir setara dgn jarak dari Simpang Susun Cawang ke Perempatan Senen terus dikalikan dgn jarak dari Perempatan Senen ke Proyek Senen.

Persoalan berikutnya dari gagasan ini adalah nilai lahan yg akan dikonversi menajdi RTH. Apakah lahan strategis milik pemerintah menjadi plihan utama untuk mencapai syarat 30%? Rasanya tidak masuk akal sehat, karena dalam prakteknya untuk lahan yg tidak strategis saja, Dinas Kehutanan, Petamanan dan Pemakaman DKI Jakarta sudah membutuhkan biaya Rp 1 T untuk luasan 23 ha pada tahun 2018. Kalaupun lahan eks bangunan pemerintah pusat dianggap senilai lahan yg sudah dibebaskan dan dianggap mencapai luasan 6.500 ha, maka dibutuhkan biaya sebesar 6.500/23 x Rp 1 T = Rp 282,6 T untuk memenuhi persyaratan 30% RTH DKI Jakarta.

Hitungan di atas mungkin sudah dikalkulasikan pula oleh para pengambil keputusan ketika berencana memindahkan ibukota dgn biaya sekitar Rp 500 T atau 2 kali lipat “biaya anggapan” untuk syarat 30% RTH DKI Jakarta. Mungkin juga sudah dihitung dgn cermat bahwa dgn kecepatan pertambahan RTH target 2018 sekitar 45 ha per tahun, maka dibutuhkan waktu 6.500/45 ha x 1 tahun = 144 tahun sekian bulan untuk mencapai syarat 30% RTH DKI Jakarta.

Lantas apakah ini kegagalan gubernur sekarang yg hanya mampu menargetkan 45 ha per tahun? Jelas tidak, ini kekeliruan kumulatif sejak 30an tahun lampau. FYI, pada tahun 1985 RTH DKI Jakarta adalah 25% dari luasan kota. Sejak saat itu RTH menyusut akibat pemanfaatannya untuk kawasan pemukiman dll. Seandainya tidak terjadi penyusutan, mungkin banjir dan tingkat polusi tidak separah sekarang. Coba bayangkan kalau lahan RTH yg dikonversi menjadi pemukiman itu ditanami tanaman lidah mertua, mungkin udara di DKi Jakarta akan sesegar udara pegunungan.

Sampai di sini seharusnya cukup jelas kalau gagasan gubernur DKI Jakarta sekarang ini hanyalah utopia semata. Tidak ada yg salah dgn utopia, karena memang harus ada harapan hidup lebih baik yg ingin diraih. Meskipun tidak akan tercapai, ada efek yg bisa dimanfaatkan untuk kepentingannya.

Beliau sebenarnya masih bisa lebih realistis dalam menyampaikan gagasan untuk pemenuhan 30% RTH DKI Jakarta, misalnya dgn mengkonversi lahan sepanjang tepian sungai dan kali, menghijaukan situ dan danau, meningkatkan koefisien dasar hijau, dan mungkin saja mengubah pulau reklamasi sepenuhnya menjadi RTH. Bisa juga mengiyakan keinginan bergabungnya daerah penyangga atau kota satelit sekeliling DKI Jakarta dgn syarat sebagian lahan mereka dikhlaskan menjadi RTH.

Terakhir, jika gubernur masih bersikukuh dgn gagasannya, beliau masih bisa melakukannya dgn sedikit pemaknaan lanjutan yg kadang tidak tertangkap media. Cukup dgn berkata, “Maksud saya, nanti Pemda DKi akan meminta kepada Pemerintah Pusat melalui Presiden RI untuk menghibahkan sebagian dana pemanfaatan bangunan eks kantor pemerintahan sebagai kompensasi pindahnya ibukota RI, yg akan digunakan untuk mencapai syarat 30% RTH DKI Jakarta.”

Semoga saja media tidak terjebak dgn menanyakan, “Apakah bapak gubernur yakin bahwa Presiden Joko Widodo mengabulkan permintaan itu?” karena beliau akan menjawab sambil tersenyum, “Saya katakan Presiden RI dan itu nanti pada tahun 2024” Utopia?

#katasiyamin

Sumber : Status Facebook Yamin El Rust

Thursday, August 29, 2019 - 10:45
Kategori Rubrik: