Menghakimi Keyakinan Orang Lain

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Belum lama berlalu saya mendapat notifikasi dari fesbuk bahwa postingan saya tentang saya mengutuk oknum yang seperti senang dan berkomentar jahat atas wafatnya alm. Kyai Ma'moen Zubair disebut sebagai tidak memenuhi standar komunitas. Postingan yang sudah berlalu sekian bulan, yang mengherankan kenapa butuh waktu lama sekali untuk kena teguran? Ataukah baru direport, tapi logikanya butuh banyak klik untuk menjatuhkan sebuah postingan. Bagaimana bisa banyak klik dalam waktu bersamaan sementara postingan itu sudah lama berlalu? I don't know, I don't have a clue at all.

Hari ini pun. Foto atribut Natal sebagai hiasan hampers dengan caption yang konon membuat ketersinggungan yang bagi saya unreasonable, sebab satire yang saya sodorkan adalah sekadar sikap kritis, mempertanyakan bagaimana label halal haram kemudian meluas dengan sebegitu liarnya. Jika kita merujuk halal/haram tentang kandungan di dalam makanan, atribut hari raya yang tidak bercampur dalam bahan makanan tersebut bagaimana kemudian bisa digolongkan sebagai mencemari kehalalan makanan?

Oh oke, saya off side menyinggung institusi yang terhormat. Putus sudah cerita, tidak ada yang perlu kita diskusikan lagi jika persoalannya ada di relasi kuasa berikut kebenarannya yang tidak boleh diganggu gugat. Dan mengapa serta ada apa tiap kritikan yang menyinggung masalah agama lantas sering secara dangkal dituding sebagai semacam stigma yang mengandung provokasi?

Mungkin perlu diketahui, saya perempuan yang bahagia 22 tahun menjadi bagian dari pengikut Rasulullah dan berusaha sekuat-kuatnya meneladani hal-hal yang beliau contohkan. Saya perempuan yang menikmati privillage semacam bisa memilih keyakinan yang menurut saya paling sesuai dengan keinginan hati dan akal saya. Saya pun seorang istri yang boleh dibilang cukup beruntung tidak hidup terjebak dalam relasi kuasa sesuai syariat yang kaku menurut agama dalam berumah tangga.

Saya menjalani kehidupan saya dan hal-hal di dalamnya hampir sepenuhnya seperti seseorang yang merdeka.

Tapi di luar itu, sungguh saya tidak mampu menulis sesuatu dengan cara dan gaya seakan-akan bukan diri saya hanya karena saya ingin membuat diri saya pas dalam label mayoritas, atau apalah yang membuat posisi saya selalu aman, serta membuat senang orang-orang tertentu. Saya bukan orang yang rela berbasa-basi demi tujuan disenangi orang.

Jujurnya, saya tidak pernah senang bertemu orang yang berlebih-lebihan menggunakan identitas agama hanya untuk merasa lebih baik dari orang lain. Mau dari agama manapun, saya tidak peduli. Dan sikap tersebut bukan sesuatu sikap yang dibuat-buat atau sengaja ingin memprovokasi orang lain berpikiran secara liberal. Saya risih ketika melihat orang lain mendaku paham ilmu agama tapi rela saja mengenyahkan sisi kemanusiaannya, sebab yang saya tahu di ajaran agama saya yang lampau ataupun yang sekarang, kita manusia diminta untuk menjauhkan diri dari sikap berlebih-lebihan, sombong apalagi munafik. Ya saya marah tiap kali melihat orang bicara takut Tuhan, mengagungkan Allah secara berlebihan, tapi menghadapi manusia yang berbeda prinsip dan keyakinan dengannya, ia mendadak lupa adab memperlakukan orang lain seperti sesuatu yang hina.

Bagi saya, agama sekadar alat mencapai kehidupan yang lebih teratur, paham soal batas dan kendali, memberi petunjuk bagaimana mencapai hidup yang seimbang antara dunia dan akhirat. Bagaimana lantas orang yang mudah dan mahir sekali membenci kemudian bisa mengaku sekaligus sebagai pencinta?

Agama saya pahami datang bukan sebagai alat mengacaukan hidup orang lain apalagi menindas atas dasar kebenaran serupa apapun. Orang-orang yang kadang bisa keliru menggunakannya sebagai mata pisau yang melukai alih-alih berguna membantu sesama manusia. Orang-orang yang salah mengira egonya adalah termasuk kebenaran yang harus diterima semua orang.

Saya akan terus menulis apapun yang saya yakini sebagai hal yang berhak saya suarakan. Maka ayo kita kuatkan saja jantung kita atau kita saling melupakan. Dan jika saya boleh bermohon, ayo belajar lagi menjadi pembaca yang menguasai macam-macam gaya bahasa terutama yang bermakna satire supaya tidak mudah terlalu sering jatuh tersinggung sekaligus menguasai teknik bagaimana menarik ulur emosi terutama pada mereka yang belum kita kenal baik pribadi apalagi hatinya. Dan mari juga belajar pahami bahwa isi kolom komentar yang ramai oleh macam-macam orang dari latar belakang beragam itu bukan tanggung jawab si penulis.

Oh ya, agama kita masing-masing sudah mulia dari dulu. Kita manusianya yang belum.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Tuesday, November 26, 2019 - 08:45
Kategori Rubrik: