Menggugat Sebuah Patung

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Ada sebuah patung cukup terkenal yang berdiri tegak di depan Museum of Natural History yang ada di kota New York. Menggambarkan tokoh presiden Amerika ke 26 yaitu Theodore Roosevelt yang mengendarai kuda dengan kualitas seni pahatan yang sangat elok. Tokoh ini pernah diperankan oleh almarhum Robin Williams dalam film serial Night at the Museum yang sangat kocak dan menohok. Film yang bercerita tentang semua patung yang menghiasi diorama museum menjadi hidup saat pengunjung sudah pulang dan lampu-lampu dimatikan untuk berganti dengan temaramnya ala lampu teplok.

Sekitar beberapa minggu yang lalu keberadaan patung ini kembali digugat karena menggambarkan sejarah masa lalu yang timpang. Di mana patung tersebut memperlihatkan sang President yang sedang duduk dengan elegant menunggang seekor kuda diiringi dengan seorang pemuda suku Indian dan budak kulit hitam yang berjalan dengan kaki telanjang. Walaupun banyak bermacam ulasan dan alasan yang mengartikan kalau patung tersebut sebagai bentuk kebersamaan antara etnis yang saling mendukung dan menunjang. Tetapi catatan sejarah menyatakan lain, kalau Teddy Roosevelt adalah president yang percaya bahwasanya keberadaan kaum kulit putih lebih tinggi dari pada kaum lain yang terbelakang.

Teddy Roosevelt adalah presiden yang termasuk sangat populer di Amerika, dan namanya banyak dijadikan nama jalan di setiap kota dan juga berbagai lokasi serta gedung pemerintahan. Tetapi berbagai perkataannya yang sangat rasis tertulis dalam memoirnya yang tidak bisa begitu saja dihapus dari sejarah dan menghilang. Seperti coretannya yang menyatakan kalau tentara kulit hitam hanya bisa menang jika dipimpin oleh orang kulit putih sebagai komandan. Pernyataan yang merendahkan ini tidak bisa dihapus walaupun pada jaman dia memerintah, untuk pertama sekalinya kaum kulit hitam datang ke Gedung Putih karena diundang.

Patung ini sebenarnya dimaksudkan untuk melukiskan kalau Theodore Roosevelt adalah seorang pencinta alam dan ayahnya sendiri turut serta membangun Museum di mana patung itu berada. Sewaktu jaman pemerintahannya di tahun 1901-1909, ada dua ratusan taman nasional untuk kelestarian alam dibentuk, melingkupi hutan lindung untuk berbagai macam burung dan marga satwa. Tetapi yang tidak diceritakan dalam sejarah adalah tentang bagaimana kaum Indian yang merupakan penghuni asli benua Amerika yang terpaksa harus mengungsi dari tempat kelahirannya. Mereka kemudian dipindahkan dan hidup di kamp rehabilitasi karena tanah-tanah mereka sudah diambil oleh negara.

Patung yang dibuat pada tahun 1940 itu sebenarnya sudah sering sekali digugat, bermula sejak 50 tahun yang lalu. Jelas sekali terlihat agenda white supremacist dengan penampakan sosok Teddy Roosevelt yang tampak angkuh. Sudah beberapa kali lokasi patung ini menjadi kanvas grafiti sebagai tempat coretan protes dari orang-orang yang menuntut pernyataan maaf atas kejadian yang telah lampau di masa yang jauh. Permintaan untuk merubuhkannya kembali menguat sejak adanya demonstrasi anti rasisme kulit hitam yang kemarin berlangsung selama berminggu-minggu.

Cucunya sendiri yang menjadi petinggi di jajaran pengurus Museum tersebut sudah menyetujui dan memberikan kata setuju. Tetapi belum jelas apakah patung akan diturunkan seluruhnya atau hanya dua orang pengiring yang dihilangkan supaya pesan yang ingin disampaikan jangan sampai rancu. Sejarah peradaban bangsa Amerika memang sangat kelam dan tidak bisa dihilangkan begitu saja walaupun telah diperbaiki dengan make-up tebal yang bergincu. Penindasan bangsa Indian dan perbudakan bangsa kulit hitam sudah menjadi bagian dari catatan sejarah, apapun usaha yang dilakukan untuk mencoba memutar balikkan fakta tidak akan bisa menghapuskan rasa malu.

Saya jadi teringat dengan patung perunggu yang berada di taman Tugu Tani, Jakarta Pusat yang sering sekali diprotes oleh kaum Monaslimin. Patung yang menggambarkan seorang pemuda desa yang gagah dan sedang memanggul senjata dengan memakai topi caping. Di sertai seorang wanita yang mengulurkan mangkuk berisi makanan yang tampak tengah berada berdiri di samping. Banyak yang menghubungkan patung ini sebagai lambang pergerakan partai komunis untuk mempersenjatai kaum tani, padahal ceritanya jauh dari nada yang berdenting.

Patung yang aslinya bernama Patung Pahlawan ini dibuat tahun 1963 atas inisiatif presiden Soekarno, sebenarnya untuk mengingat peristiwa saat zaman perang kemerdekaan. Seniman Matvey dan Ossip Manizer, bapak dan anak asal Rusia yang menjadi pematung mengambil ilham dari cerita rakyat yang terjadi di pedesaan Jawa Barat, tentang seorang ibu yang rela berkorban. Dia melepaskan anak laki satu-satunya untuk pergi berjuang mengusir penjajah dengan dibekali nasi dan lauk untuk nanti persiapan makan di jalan. Jadi sangat jauh maknanya ketika kaum kadrun yang minim literasi pada protes dengan sibuk membakar bendera PKI buatan sendiri yang merupakan hasil sablonan.

Tabik.

Sumber : Status facebook B. Uster Kadrisson

Sunday, July 12, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: