Menggoblok-Goblokkan Umat, Perlukah?

ilustrasi

Oleh : Amin Mudzakkir

Kemarin, sewaktu viral video seorang mualaf yang mengaku anak seorang kardinal, saya membaca sejumlah komentar yang menggoblok-goblokkan umat. Kata mereka, mualaf seperti itu bisa laku karena umatnya goblok, gampang ditipu. Lalu, seperti biasa, muncul kutipan Karl Marx yang terkemuka, "agama adalah candu". Makanya pintar sedikit dong, mereka memberikan petuahnya.

Dulu terus terang saya pun pernah berpikir seperti itu. Umat beragama ini goblok amat sih, kira-kira begitu. Gampang dipolitisasi, mudah dimobilisasi, dan seterusnya. Pokoknya beragama itu terlihat "nggak banget"--dibanding sains atau filsafat.

Namun sekarang saya merasa pikiran itu tidak betul. Problematiknya bukan hanya normatif, tetapi juga empiris. Selain arogan, pikiran tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Mari kita ulas!

Secara empiris, benarkah yang goblok itu hanya umat beragama? Apakah mereka yang "seakan-akan" mengerti sains dan filsafat itu (saya kasih penekanan "seakan-akan" ya) secara otomatis tidak goblok? Saya ragu. Kegoblokkan, kalau pun mau menggunakan istilah ini, tidak mengenal diskriminasi.

Soal seorang mualaf yang mengaku anak kardinal itu, saya bisa memahami mengapa tidak sedikit orang Islam percaya. Penyebabnya karena memang mereka tidak tahu. Boro-boro soal kependetaan atau kepasturan, banyak dari mereka yang tidak tahu apa bedanya Protestan dan Katolik. Namun apakah karena itu mereka goblok?

Tunggu dulu! Memangnya orang-orang yang bilang goblok itu paham apa yang membatalkan wudhu dalam tradisi Islam mazhab Syafii? Saya ragu. Lalu apakah mereka juga bisa membedakan NU dan PUI (Persatuan Umat Islam)? Bahkan yang terakhir ini mungkin sebagian mereka belum pernah dengar sebelumnya.

Ketidaktahuan tidak sama dengan kegoblokkan. Ketidaktahuan terjadi bukan karena ignoransi, tetapi karena keterbatasan akses. Sebelum sekolah S-1 di Jogja, contohnya, saya juga tidak tahu apa bedanya Protestan dan Katolik karena memang di kota kelahiran saya tidak pernah mendapatkan buku atau memperoleh informasi mengenai hal itu.

Sementara itu, secara normatif, tuduhan goblok terhadap agama memang tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari supremasi sains dan filsafat selama berabad-abad, sekurang-kurangnya setelah era modern. Sejak fajar kemoderenan menyingsing dari Eropa abad ke-18, sejak saat itu pula agama dianggap peninggalan abad pertengahan yang kekanak-kanakan. Ungkapan "agama adalah candu" lahir dari situasi ini. Melalui imprealisme dan kolonialisme, pandangan ini kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Mereka yang suka menggoblok-goblokkan umat beragama adalah ahli waris dari proses sejarah yang telah berlangsung sejak abad ke-18 itu. Hingga kini mereka masih percaya bahwa agama seperti celana dalam, tidak boleh diperlihatkan keluar. Beragama hanya boleh diam-diam dan sendirian. Oleh karena itu pula, bagi mereka agama dan politik tidak boleh disatukan.

Kembali ke soal seorang mualaf yang mengaku anak kardinal itu, saya melihatnya sebagai komedian belaka. Tidak perlu kemudian menggoblok-goblokkan umat beragama yang mempercayainya. Anggap saja hiburan, tokh kita bisa ketawa-ketawi, bukan? 

Sumber : Status Facebook Amin Mudzakkir

Saturday, July 11, 2020 - 11:30
Kategori Rubrik: