Menggelar Akademik

ilustrasi

Oleh : Iim Fahima Jahja

Mau crita dikit, bagaimana negara2 modern sekarang mengubah approach-nya terkait pendidikan di sekolah.

Jadi 2 minggu lalu saya dapat tugas dari bapaknya anak-anak untuk ambil raport. Nilai akademis both kakak adek ga buruk, rata-rata 9.

Saya pribadi, ngga segitunya menjadikan nilai akademis sebagai benchmark. Simply karena pendidikan di Indonesia masih menggunakan pendekatan kuno. Banyak hapalan, kurang analisis, tidak memperhatikan keunikan tiap individu, dan mostly komunikasi satu arah.

4 tahun lalu saat kuliah pendek di Lee Kuan Yew School of Public Policy NUS, salah satu dosennya adalah Mentri Pendidikan Singapore. Beliau cerita rencananya untuk merombak policy pendidikan sehingga relevan dengan jaman. Padahal di Asia, pendidikan di SG jadi rujukan.

Merombak policy pendidikan yang kayak gimana? Dari yang semula sangat kompetitif, akademis yang super padat, penuh dengan ujian dll. Menjadi: Tidak ada ranking, jumlah ujian yang berkurang, dan memberi perhatian lebih pada keunikan individu.

Akhir tahun lalu, saya mendengar perubahan policy sudah dijalankan. Oct lalu di India World Economic Forum, saya bertemu Wakil Perdana Mentri Singapore yg cerita kalo SG meningkatkan budget pendidikan dari 20% jadi 40%. Ini untuk mendukung plan mereka menyiapkan SDM 4.0.

Perubahan dunia yg cepat, menuntut siapapun yang ingin stay relevant, agar mengubah pendekatan. Sejumlah negara di Eropa bahkan mulai memasukkan "mindfulness" dalam kurikulum. Ini antara lain untuk merespond tingginya angka depresi yang menjangkiti anak-anak dan orang dewasa.

Kindness, mindfulness, compassion menjadi mantra baru pendidikan. Kira-kira kalo dibahasakan sederhana jadinya gini: Saat JIWAmu dan FISIKmu sehat, kamu bisa menemukan keunikanmu, mengembangkannya dan menebar manfaat/impact ke lingkungan.

"A clear mind leads to better judgement, better judgement leads to better outcome. So a mindfull, calm, peaceful person will make better decisions and have better outcome" katanya.

Apakah mantra baru pendidikan Kindness, Mindfulness, Compassion membuat tugas guru dan orangtua menjadi lebih mudah?

TIDAK.

Karena mantra baru pendidikan ini menuntut para orangtua dan guru terlibat langsung menjadi role model pendidikan anak-anak.

Bagaimana bisa mengajarkan integritas jika ortu dan guru ga punya integritas. Bagaimana bisa mengajarkan berpikir kritis kalau ortu dan guru didebat dikit langsung nuduh anak kurang ajar. Bagaimana bisa mengajarkan mindfulness jika tiap hari anak melihat banyak orang dewasa gelisah dan bersumpah serapah di sosmed?

Jadi yang masih ngos2an push anak melulu di akademis, ranking, medali dan pencapaian2 jangka pendek, sebaiknya menata ulang strategi. Ndak usah cemas saat nilai mereka di sekolah biasa2 aja.

Cemaslah saat anak tumbuh egois, stress, ngga bisa gaul, ga punya compassion. Cemaslah saat anak ngga punya kesadaran untuk belajar. Cemaslah saat anak tidak mampu berpikir kritis dan beropini secara sehat dan terbuka.

Dan itu semua, mostly ga related dengan pencapaian akademisnya.

Sumber : Status Facebook Iim Fahima Jahja

Monday, July 13, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: