Mengganti Menkes

ilustrasi

Oleh : B Uster Kadrisson

Kabar adanya pergantian pemain di tengah paruh waktu atau reshuffle telah bergulir dengan masuknya beberapa nama baru untuk menduduki pos yang ditinggalkan pemain lama. Mentri kesehatan dr. Terawan Agus Putranto tampaknya akan diganti, apalagi setelah beredar video ayahanda Jokowi yang sedang marah-marah. Anggaran 75 T yang sebegitu banyak yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah ternyata hanya terserap kurang dari dua persen saja. Banyak keluhan dari tenaga medis mengenai bonus insentif yang dulu dijanjikan tetapi tidak pernah mereka terima.

Dari pihak kementrian sendiri sudah mengatakan berbagai macam alasan untuk mengadakan pembelaan diri. Kepala staf kepresidenan dan Menkeu juga sudah membela kalau keterlambatan ini hanyalah menyangkut masalah administrasi. Banyaknya persyaratan paperworks yang harus dilakukan yang tumpang tindih serta juga termasuk dalam hal memverifikasi. Karena persoalan uang bisa membuat banyak pihak menjadi gelap mata sehingga mau tak mau proses birokrasi harus dijalankan supaya terhindar dari ancaman KPK atas tuduhan korupsi.

Sebenarnya sejak beberapa bulan yang lalu sudah bergulir banyak permintaan supaya MenKes mengundurkan diri karena dianggap tidak becus. Dari mulai pernyataannya yang ketika di awal musibah yang mengatakan kalau sesuai dengan teori, Corona termasuk self limiting disease of virus. Tetapi seperti juga semua ahli di dunia dan banyak kepala negara yang salah duga dan akhirnya harus mengakui kalau ternyata Covid-19 adalah penyakit yang banyak membawa korban dan hingga kini angka-angka masih merangkak terus. Semua rekor pandemi telah ditumbangkan dan sampai sekarang masih belum begitu jelas kapan virus ini akan mampus.

Tetapi selain itu bukan suatu rahasia lagi kalau pengangkatan dr Terawan sebagai mentri, sejak awal telah diwarnai dengan berbagai acara grusah grusuh dan ditolak oleh IDI. Karena perselisihan yang terjadi secara internal yang mengatakan kalau beliau melanggar kode etik yang telah disepakati. Ternyata etika yang dilanggar bukanlah sesuatu yang sangat serius yang menyangkut persoalan hidup atau mati. Seperti dalam satu tuduhan yang menyatakan kalau beliau dinilai terlalu tinggi dalam menarik pembayaran fee, sehingga sepertinya ini cuma masalah iri dan dengki.

Menurut IDI, dr. Terawan telah melanggar peraturan karena dia telah mengiklankan diri dan menjanjikan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Padahal menurut beliau, yang melakukan adalah orang-orang yang sudah mendapatkan pengobatan dan sembuh dari perawatan. Sementara itu juga desas desus tentang therapy cuci otak yang sering disangkakan malpraktek karena belum teruji secara klinis yang significant. Walaupun sudah banyak permintaan untuk uji klinis dilakukan di luar negeri tetapi sampai saat ini di dalam negeri sendiri tampaknya belum ada usaha-usaha yang dilakukan untuk mendukung hasil penemuan.

Di Amerika adalah sesuatu yang wajar-wajar saja jika seorang dokter atau rumah sakit mengiklankan diri sebagai yang terbaik. Iklan mereka secara pribadi atau berkelompok bisa ditemui di semua media; koran, majalah, tv ataupun dalam kereta subway dengan visual yang menarik, terutama dokter-dokter spesialis bedah plastik. Sistem rujukan multi level yang diberlakukan dalam dunia kesehatan di Amerika menjadikan iklan ini tidak terlalu berpengaruh karena hanya bagaikan air yang dipercik. Iklan-iklan tersebut lebih menyasar kepada konsumen yang memang kelebihan uang dan rela membayar ekstra untuk supaya lebih kelihatan cantik.

Juga iklan-iklan obat yang hanya bisa diresepkan oleh dokter, banyak bertebaran dengan phrase di bagian akhir yang berkata 'ask your doctor if this drug is right for you'. Iklan obat yang 'direct to consumer' ini telah diijinkan oleh FDA yaitu department POM sejak 23 tahun yang lalu. Akibatnya banyak pemirsa yang tiba-tiba merasa sakit dan ketika berobat ke dokter menjadi serba sok tahu. Jika saya yang menjadi dokternya, saya akan sodorin kertas resep dan suruh dia bikin dan tulis sendiri obat apa yang dia mau.

Sebenarnya ini tidak lain adalah akal-akalan pabrik obat untuk bisa meningkatkan penjualan produknya tanpa perduli orang membutuhkan atau tidak. Sudah menjadi sebuah rahasia umum bagaimana perusahaan pharmacy selalu mempermainkan 'personal fear factor' atau rasa ketakutan dan kecemasan supaya bisnis tetap bisa menanjak. Mereka mendramatisir dengan segala cara semua gejala-gejala yang umum, seolah-olah badan sedang tidak enak. Padahal sebagian besar gejala-gejala tersebut adalah psikosomatis yang bisa hilang dengan diet yang benar atau cukup beristirahat dan relaks.

Sewaktu masih tinggal di Indonesia saya mempunyai banyak kenal dengan orang-orang yang bekerja sebagai medical representative atau sales obat perusahaan pharmacy. Mereka selalu bergerombol menunggu sampai pasien terakhir berlalu, saat mengunjungi dokter di rumah sakit atau praktek pribadi. Dari cerita-cerita mereka selalu terdengar tentang banyak sekali dokter-dokter yang serakah dan tidak tahu diri. Untuk bisa menuliskan resep dengan obat tertentu mereka meminta imbalan bisa seharga sebuah mobil atau liburan sekeluarga ke luar negeri.

Sejak persaingan pilpres tahun 2014 banyak sekali dijumpai dokter-dokter di Indonesia yang telah berhijrah menjadi kampret. Berphoto sesaat sebelum melakukan operasi dengan tanda acungan tangan yang berubah-ubah dari yang awalnya jari telunjuk yang berdiri sampai tanda colok dubur untuk memeriksa lubang pantat yang mencret. Padahal masa sekolah mereka sangat lama dibandingkan dengan sarjana lainnya, tetapi hasil yang ada sepertinya otak mereka memang sudah membeku dan mampet. Tidak lagi bisa membedakan mana yang benar dan salah, dan hingga sekarang tampaknya otak mereka masih berselemak dan makin mengkeret.

Bang Erick Thohir, mentri BUMN sendiri juga sudah mensinyalir kalau adanya mafia alkes dan obat-obatan yang juga masih mencoba mencari keuntungan dalam kesempitan. Sehingga diperkirakan semua kebijakan dalam mengatasi wabah Covid-19 yang diajukan oleh dr. Terawan sebagai pimpinan telah disabotase oleh para bawahan. Mereka mungkin mengiyakan saja semua keputusan tetapi dalam prakteknya sama sekali tidak dikerjakan dan sudah bisa diduga kalau mereka memang sengaja untuk memberikan hasil kinerja yang buruk dengan tujuan balas dendam dan ingin menjatuhkan. Sungguh laknat pemikiran para mereka yang katanya kaum yang terhormat tetapi masih tega bermain-main dengan nyawa orang.

Tabik.

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

Wednesday, July 8, 2020 - 10:00
Kategori Rubrik: