Menggali Fungsi Pohon Biar Ga Asal Tebang

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Orang ramai memotong pohon. Ndak khusus menyinggung yang di Jakarta ya, tabeee...di mana-mana, ini di daerah saya tinggal pun sudah mau habis pohon-pohon di pinggir jalan ditebang entah untuk perluasan jalan, entah untuk trotoar, entah karena anggaran daerahnya terlalu banyak.

Panasnya jadi dobel-dobel sementara hujan yang kalian ceritakan dengan riang gembira itu tidak pernah benar-benar tiba di sini. Mendungnya iya, airnya kagak. Ada turun semenit dua hari yang lalu. Semenit! Cuma bikin sedih alih-alih syahdu... Berbulan-bulan seperti ini, sampai mungkin nanti kami mulai lupa bagaimana bunyi hujan dan khas bau tanah yang tersiram air hujan.

Konon mau meniru model perkotaan yang dinamis. Ada trotoar yang lebar untuk pejalan kaki. Oh lord, mari kita budayakan kembali dulu slogan berjalan kaki atau bersepeda itu sehat sebelum menghadirkan trotoarnya. Dinamis menurut pemahaman nenek siapa, ya entah... Buang sampah saja masih belum becus. Nyetir tidak menggubris tanda lalu lintas. Pakai helm malas. Manusianya dulu ditatar dan diajak teratur. Bikin proyek ini itu trus lantas belum cukup sadar diri merawat fasilitas umum, aduuh... itu duit semua hasil urunan masyarakat membayar pajak. Masak nanti dibiarkan mubazir sementara nyarinya pakai banting tulang dan peras keringat.

Saya ada merawat tanaman dalam taman seluas dua kali satu meter dan berpuluh pot tanaman. Tiap hari disiram, disimpankan air cucian beras, plus sampah-sampah sisa sayuran. Kalau ada air cucian bekas ikan yang ketiga kali, juga boleh. Sebulan sudah kelihatan. Tumbuhnya subur, daun-daunnya melebar. Tidak pakai pupuk buatan pabrik malah. Merawat tumbuhan tidak semerepotkan merawat manusia. Bahkan di saat-saat tertentu, melihat tanaman tumbuh sehat itu semacam memberi hiburan bagi jiwa.

Tanaman kecil-kecil itu bisa menyebarkan energi positif, bayangkan bagaimana yang meraksasa dan sekarang sudah habis kalian tebangi?

Manusia kadang lupa, tumbuhan itu juga makhluk hidup. Mereka tidak menjerit sakit pas ditebang, itu mungkin yang bikin manusia sok kuasa. Kapan nanti air bersih susah, banjir melanda, kalian baru kelimpungan beranalisa soal sebabnya. Lagi-lagi salah presiden. Polusi udara itu yang membersihkan sebagian besar siapa? Ya pohon-pohon besar yang kalian potong itu. Mereka yang menyaringnya dan menggantinya dengan udara yang lebih baik.

Menumbuhkan satu pohon sampai sedemikian tinggi dan rindang itu butuh waktu yang sangat panjang. Memotongnya cuma sebentar. Ndak dipertimbangkan baik-baik dulukah? Bukannya kalian yang berwenang punya banyak sekali waktu untuk rapat dan anggaran untuk konsumsi plus transport asal kalian bisa menghasilkan keputusan yang berdampak baik bagi masyarakat banyak, ya masyarakat selalu ikhlas saja membayar biayanya asal hasilnya juga baik.

Diberi kewenangan itu amanah. Bekerja itu serupa ibadah. Apalagi jika di dalam upah yang kita terima, ada hak-hak si pembayar yang harus kita tunaikan. Kalau tidak dikerjakan sebaik-baiknya, ya sama saja bohong.

Mengaku beragama tapi akhlak nomor sekian, untuk apa?

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Tuesday, November 5, 2019 - 12:00
Kategori Rubrik: