Mengenang Monumen Ahok

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Setiap kali saya naik mobil dan melewati Jembatan Lingkar Semanggi ada saja teman yang nyeletuk, "kita lewati jalannya Ahok", "kita nikmati karya Ahok". "Ahok memang luar biasa, ya".

Sebagaimana Bung Karno yang mewariskan Stadion Utama Senayan, Monumen Nasional (Monas), tugu Pancoran dan Tugu Pembebasan Irian Barat, karya Ahok BTP abadi. Monumantal. Selalu terkenangkan.

Dan Ahok mengerjakannya tanpa biaya APBD.

Saat itu para koruptor di DPRD teriak karena dianggap melanggar prosedur dan melanggar aturan. Tapi itu alasan samaran karena mereka tak kebagian. Tak ada bagi bagi komisi. Seperti biasanya.

Tak hanya lingkar Semangi - Ahok BTP juga membangun underpass warna warni di Mampang dan Matraman, fly over Pancoran dan mengubah lokalisasi Kalijodo menjadi taman terbuka yang indah.

Jangan lupa masjid megah KH Hasyim Ashari di kawasan Jl. Daan Mogot yang dibangun di atas tanah 2,4 Ha dan mampu menampung 25 ribu jemaah serta masjid Fatahillah yang megah di Balaikota juga warisan Ahok BTP .

Ahok jugalah yang memberangkatkan para marbot masjid menjalankan ibadah umroh ke Tanah Suci. Dan membangun rumah susun murah untuk ribuan warga.

Setiap kali mampir di teras Balai Kota terbayang bagaimana dulu ada sosok pemimpin yang berhadapan langsung dengan rakyatnya. Seperti dokter menghadapi pasien. Dia
langsung memeriksa mereka yang antre, sabar mendengarjan keluhan, menganalisa penyakit, memberi resep dan mengobati, memberikan solusi pada rakyat yang sedang susah dan bermasalah. Ces pleng. Tidak berlika liku.

Dia perintahkan bawahannya "tolong bapak ini ya. Ini kerjain, ya.." Dan wajah wajah ceria tergambar dari rakyat jelata yang antre di sana.

Tak semata mata didatangi warga di kantornya, tiap akhir pekan Ahok kondangan ke rumah warga yang hajatan. Belum pernah ada Gubernur DKI Jakarta yang kondangan ke rumah warga yang tak dikenalnya.

AHOK kasar, ya. Suka maki maki, ya. Tapi kita tahu yang dimaki maki Ahok memang penjahat dan orang orang yang mencuri dan culas tanpa rasa bersalah. Suka melanggar aturan dan belagak pilon.

Dia pernah diteriaki "anjing" di gedung dewan dan dia membalas, "Ya, saya anjing yang menjaga APBD dari para pencuri!"

Kita tahu yang teriak itu bagian dari gerombolan pencuri yang gagal melaksankan aksinya.

Jakarta pernah menjadi kota yang sangat bersih karena ada pasukan berwarna warni, oranya kuning, merah dan baru. Juga layanan warga tanggap karena aplikasi "Clue".

Menggunakan smartphone dia memantau kinerja anak buahnya. "Saya tahu mana mana kali yang sudah bersih dan belum dibersihkan dari sini, " katanya sambil memamerkan iPhonenya kepada kami, teman teman redaksi yang khusus menyangi kantornya.

Aplikasi 'Clue' sangat efektif. Rakyat bisa mengadukan masalah di satu wilayah dan dia sebagai gubernur memantau apakah keluhan ditanggapi dan diselesaikan.

Jika sampai tiga hari tidak ada tindak lanjut maka lurah wilayah yang beraangkutan kena sanksi

Aplikasi itu bikin senang warga tapi bikin gerah aparat terkait dan para lurah. Karena tak bisa santai. Benar benar harus melayani warga.

Kemana kini pasukan kuning, oranye merah dan biru yang membersihkan ibukota yang kerja nyaris 24 jam, tak boleh ada sampah? Bahkan sepotong rokok pun terserak di jalan.

"Tahu nggak biaya bikin stadion di Jakarta lebih mahal dibanding di Amerika!" ujar Ahok curhat kepada kami. Dia mengisahkan proposal anggaran yang diajukan keadanya. Dan dia menghubungi kerabatnya di Amerika lalu melakukan perbandingan. Gila. Lebih murah bikin geudng di Amerika dibanding di Jakarta!

Dengan APBD yang berlimpah pejabat DKI menggelembungkan (mark up) anggaran suka suka hati. Di tangan Ahok ada e-budgeting, warisan Jokowi yang diteruskan karena transparan. Korupsi ketahuan dari awalnya. Gubernur sebelumnya tak kepikiran melakukannya. Atau pura pira tidak tahu.

Heboh baru baru ini - beli alat pemadam kebakaran yang harganya tiga kali lipat itu - tak jerjadi di era Ahok yang menerapkan e-budgeting.

MAKA yang menurunkan Ahok bulan hanya rakyat yang dijanjikan ayat dan mayat. Melainkan juga para pejabat dari dalam Pemda DKI sendiri yang selama ini enak enak "mark up" anggaran - kerja santai dan bagi bagi proyek dengan anggota dewan.

Mereka menggunakan isu ras dan agama ayat dan mayat yang memang tepat menegnai jantung Ahok.

Warga ibukota yang ingin punya ibukota maju modern dan bersih menyesali kehilangan Ahok. Tapi para kadrun tidak. Mereka biasa makan di tempat kumuh, kaya raya memanfaatkan dengan memanfaatkan kesemrawutan. Berselubung suku dan agama.

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Monday, September 14, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: