Mengenang Didi Kempot

ilustrasi

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Kaget membaca berita berbagai media kalau "sang maestro" campursari, Didi Kempot, dikabarkan meninggal dunia. Berbagai media melaporkan kalau ia wafat hanya selang beberapa menit setelah dilarikan ke sebuah rumah sakit di Solo, Jawa Tengah, karena tak sadarkan diri.

Padahal, baru kemarin saya "ngeledek" Nyi Iteung: "Tumben, sekarang suka dengerin lagu-lagu Didi Kempot?" Nyi Iteung, yang pernah bekerja sebagai penyiar radio, memang penggemar lagu-lagu pop modern, Inggris maupun Indonesia, bukan genre campursari.

Hal ini kontras denganku yang sejak dulu kala adalah "maniak" campursari. Setidaknya ada dua nama maestro campursari yang saya suka: Ki Manthous yang mendapat julukan "King of Campursari" dan Didi Kempot yang dijuluki "The Godfather of Broken Heart" atau "Lord Sobat Ambyar". Kini, keduanya sudah tiada di dunia ini, pindah ke alam baka.

Ki Manthous dan Didi Kempot mewakili dua jenis campursari yang berbeda. Jika Ki Manthous lebih ke "campursari klasik", "campursari tradisional" atau katakanlah "genuine campursari", maka Didi Kempot lebih ke "campursari modern", "campursari kreatif" atau sebut saja "modified campursari".

Karena wataknya yang "classical" dan "tradisional" (dan monoton), Ki Manthous hanya sukses menjaring generasi tua dan masyarakat pedesaan. Hal ini berbeda dengan Didi Kempot, yang lantaran kreatif dalam meramu dan memodifikasi campursari, mampu membuat masyarakat dari berbagai kalangan, daerah, dan kelas sosial terpesona dan antusias: desa-kota, tua-muda, miskin-kaya, generasi kolonial-millennial.

Penyanyi bernama asli Dionisius "Didi" Prasetyo ini sudah sejak pertengahan 1980an meniti karir sebagai musisi: awalnya sebagai pengamen jalanan di trotoar-trotoar di Surakarta (Solo) lalu hijrah ke Jakarta. Itulah sebabnya ia menggunakan nama panggung "Kempot" yang merupakan singkatan dari Kelompok Pengamen Trotoar.

Bakat dan "darah" seni Didi Kempot mengalir dari ayahnya, Ranto Gudel alias Mbah Ranto, seorang seniman terkenal di Jawa Tengah. Bakat seniman sang ayah juga mengalir ke kakak Didi Kempot: Mamiek Prakoso, pelawak senior Grup Srimulat.

Berbeda dengan para penyanyi lain, Didi Kempot tergolong super-produktif dalam menciptakan lagu. Konon ada 700an lagu yang sudah berhasil ia nyanyikan, sebagian besar karyanya sendiri. Dengan angka ini, saya kira tidak ada penyanyi lain di Indonesia dan mancanegara yang mampu menyamai rekornya.

Lagu-lagu Didi Kempot rata-rata bertemakan kehilangan dan patah hati, dua hal yang sering atau mungkin selalu dialami oleh setiap manusia, termasuk saya. Karena itu sangat wajar kalau ia dijuluki sebagai "The Godfather of Broken Heart". Wajar pula kalau banyak orang, termasuk saya, menyukai lagu-lagunya.

Sudah sejak kuliah S1 di UIN Semarang saya menyukai lagu-lagu Didi Kempot, dan semakin jatuh hati saat kuliah S2 di UKSW Salatiga pada tahun 2000. Lagu-lagu Didi Kempotlah, baik yang dinyanyikan oleh pengamen maupun melalui kaset, yang selalu menghiburku di dalam pengapnya bus ekonomi Semarang-Salatiga yang tiap hari "kombak-kambek" mengantarku kuliah. Sewu Kutho, Mbak Dukun, Lilo, Cidro, Lindu, Lingso, Sekonyong-Konyong Koder, Stasiun Balapan adalah diantara lagu-lagunya yang menjadi hiburan kala itu.

Kini "Lord Didi" meninggalkan "Sobat Ambyar" yang sedang gandrung-gandrungnya. Selamat jalan Didi Kempot. Semoga damai di alam baka. Dan semoga kelak akan muncul Didi Kempot-Didi Kempot baru yang peduli terhadap kemanusiaan sekaligus mencintai seni-budaya Nusantara. "Ning Stasiun Balapan; Balapan kok ning stasiun, opo ora kesel...."

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Sumber : Status facebook Sumanto Al Qurtuby

Tuesday, May 5, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: