Mengenal SBY Sekaligus Bu Ani

ilustrasi
Oleh : Dara Meutia Uning
 
Saya pertama kali mengetahui sosok SBY, ketika beliau menjabat sebagai Menkopolkam di Kabinet Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Saya ditugaskan kantor untuk nge-pos di Kantor Menkopolkam. Sebagai wartawan hijau muda, saya tidak punya bayangan sama sekali, apa tugas wartawan nge-pos.
 
Setiap hari, saya datang, dan duduk di gardu jaga kantor Menkopolkam, sampai para satpam jadi kasihan. Awalnya saya ditawari minum, lalu dikasi jatah kue, lantas dibelikan nasi kotak (kayanya sengaja dipesan berlebih). Saya berusaha menolak dengan susah payah, tapi malah diomeli rame-rame.
 
'Baru kali ini saya liat wartawan kok santai banget,' kata para satpam, hingga supir SBY 'kok ga nyari berita sih?!'. Mereka tampak prihatin dengan 'kemalasan' atau 'kebodohan' saya. Lalu entah mulai kapan, mereka mulai ngasi tahu acara 'Bapak'.  Dan diam-diam men-setting untuk 'doorstop' Bapak, sebelum naik mobil. Mulai dari asisten pribadi, ajudan, sopir, hingga satpam semuanya saling melempar sinyal bahwa saya bisa maju untuk bertanya. Demi saya bisa membuat berita. Sebagai wartawan yang cukup bego waktu itu, dikasi kesempatan emas seperti itu, malah ketakutan ga tahu mesti nanya apaan. Akhirnya dengan panik saya telepon beberapa wartawan senior kenalan saya untuk menemani saya bertanya pada SBY.
 
Belakangan, setelah beberapa kali acara di Kantor Polkam, saya mulai kenal sejumlah wartawan yang biasa liputan di desk Polkam. Dan nomer HP saya akhirnya disimpan beberapa wartawan senior untuk ditanya soal acara di Kantor Polkam, atau sekedar ngecek apakah SBY sedang berkantor. Begitu aja saya sudah bangga bukan kepalang. Soal bikin berita mah urusan nomer sekian.
 
Tak lama di Polkam, saya kemudian dipindah liputan di Istana. Tentu saya berkali-kali punya kesempatan untuk door-stop lebih banyak pejabat. Terutama SBY, yang waktu itu jadi primadona wartawan. Di tengah suasana politik yang panas karena tarik menarik antar kepentingan dan posisi Gus Dur yang senantiasa penuh kontroversi pada waktu itu, omongan SBY menjadi oase di tengah berita politik yang carut marut.
 
Nah, wartawan istana biasanya merubung narasumber tanpa ampun. Belajar dari pengalaman di Polkam, menadahkan tape recorder dari arah depan ke narasumber sama saja aksi bunuh diri. Udah kegencet, ga bisa nanya, kita juga ga bisa ngerti apa yang ditanya rekan-rekan yang lain. Menghadapi SBY yang dikerubuti wartawan, saya punya trik sendiri karena saya mengamati kebiasaannya selama di Kantor Polkam.
 
Pertama, SBY itu amat resik dan sangat menjaga penampilan. Setiap pergantian acara, para ajudan akan menyiapkan pakaian ganti, bahkan memastikan celana pun tidak kusut. Jika berdiri cukup dekat, aroma parfumnya akan tercium. Kedua, SBY akan menjawab pertanyaan pertama yang terdengar olehnya. Dia akan fokus pada pertanyaan itu hingga selesai. Ketiga, SBY memastikan tak ada orang terdekatnya terjebak dalam kepungan wartawan.
Usai acara di istana, para istri pejabat biasanya 'sadar diri' lalu akan melipir dan meninggalkan suaminya yang kemudian menjadi santapan empuk para wartawan. SBY tidak begitu. Jika bersama istrinya, Ibu Ani, SBY akan mengantar Ibu Ani hingga selamat naik kendaraan, dan memastikan istrinya tidak tertahan oleh himpitan wartawan. 'Maaf ya, saya mesti antar istri saya dulu,' ujarnya tanpa menghiraukan teriakan wartawan. Dengan langkah cepat dia mengiringi Ibu Ani hingga naik kendaraan. Dia tak akan menanggapi satu pun pertanyaan wartawan sebelum istrinya naik mobil, dan mobil telah melaju (dan SBY melambaikan tangan dengan khidmat ke arah jendela mobil). Setelah Ibu Ani berlalu dengan 'selamat', barulah SBY menghadapi wartawan.
 
Saya selalu ingat perilaku SBY yang satu itu. Hubungan SBY dan Ani Yudhoyono terlihat begitu dekat dari peristiwa ini. Orang barangkali menerjemahkannya sebagai perilaku suami yang takut istri. Tapi, bagi saya, inilah cara SBY menghargai istrinya. Bahkan sekedar tape recorder wartawan tidak sengaja teracung ke arah wajah Ibu Ani--yang membuat Ibu Ani tersentak kaget pun, SBY tampak amat tidak berkenan. Tangannya dengan reflek merentang di hadapan Bu Ani menghalangi orang agar tak lebih mendekat.
 
Berbekal pengamatan itu, selama di istana, dan meliput wawancara door-stop dengan SBY usai upacara kenegaraan, trik saya adalah begini. Pertama, saya berjalan tepat di belakang SBY yang mengiringi Ibu Ani (karena ajudan pasti di depan membuka jalan). Begitu Ibu Ani naik mobil, saya akan berpegangan pada jas SBY dan berputar mengikuti langkahnya, menyibak kerumunan wartawan yang merangsek. Menjadikan SBY sebagai 'tameng', saya sekaligus membisikkan pertanyaan dekat ke telinganya. Alhasil, pertanyaan saya yang dijawab, dan teman-teman tidak tahu sama sekali arah pertanyaan saya 
 
Inilah pengalaman saya sebagai wartawan kelas teri saat itu. Jagonya door-stop doang Tentunya wartawan-wartawan senior lebih paham mengenai keseharian SBY dan Ibu Ani, dibanding pengamatan sekilas wartawan bau kencur seperti saya. Toh, dari peristiwa sederhana itu, saya bisa menduga seberapa besar pengaruh kehadiran Ibu Ani di sisi suaminya. Karena itu, saya tidak heran, SBY setia dan tekun mendampingi Ibu Ani dalam mengobati penyakitnya. Dan raut wajahnya yang sarat kesedihan dan kehilangan setelah ditinggal pendamping selama 43 tahun kemarin, tampak nyata.
 
Kehilangan anggota keluarga terdekat, bahkan pasangan setelah puluhan tahun, adalah hal yang amat berat. Terlebih ini menjelang Hari Raya Idul Fitri. Tentunya kenangan ini akan mengendap, menciptakan perasaan haru sekaligus pilu. Semoga SBY sekeluarga diberi kekuatan dan ketabahan menjalani hari-hari ke depannya. Dan semoga Ibu Ani diterima amal ibadahnya, dan diberi tempat terbaik di sisiNya, aamiin...
 
Sumber : Status Facebook Dara Meutia Uning
Sunday, June 2, 2019 - 13:30
Kategori Rubrik: