Mengenal Kilang Minyak yang Bikin Warga Borong Mobil di Tuban

ilustrasi
RedaksiIndonesia-Pembebasan lahan proyek kilang minyak dan petrokimia New Grass Root Refinery (NGRR) PT Pertamina (Persero) di Tuban, Jawa Timur, membuat sejumlah warga ketiban untung. Hal ini diketahui dari viralnya video warga di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, yang berbondong-bondong membeli mobil mewah pada Minggu (14/2).
Kepala Desa Sumergeneng, Gianto seperti diberitakan CNN Indonesia mengatakan setidaknya ada 225 warga yang menerima pembayaran pembebasan lahan. Para warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani tersebut melepas tanahnya seharga Rp600-800 ribu per meter, dengan transaksi tertinggi pembebasan lahan itu disebut mencapai Rp25 miliar.
Kerjasama Indonesia dan Russia
Kilang Tuban merupakan proyek dari usaha patungan antara PT Pertamina (Persero) dan perusahaan migas milik negara Rusia, Rosneft. Pada 2017, kedua perusahaan membentuk PT Pertamina Rosneft dengan komposisi saham 55 persen (Pertamina) dan 45 persen (Rosneft).
Proyek tersebut mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia dan Russia, yang merupakan realiasi dari pertemuan Presiden Joko Widodo dan Presiden Vladimir Putin di Sochi, Rusia pada Mei 2016. Mengutip laman Kementerian Luar Negeri, kerja sama ini merupakan bukti kedekatan hubungan Indonesia dengan Rusia yang pada tahun 2020 lalu memperingati 70 tahun hubungan diplomatik.
Melansir situs resminya, Pertamina telah bersepakat dengan Rosneft untuk mengembangkan konsep komplek kilang dan petrokimia yang memiliki daya saing yang tinggi dengan menerapkan teknologi tercanggih di dunia (dengan indeks kompleksitas Nelson mencapai 13.1).
Teknologi pengolahan yang dikembangkan Pertamina bersama Rosneft adalah untuk jenis sweet crude oil sehingga produknya pun ramah lingkungan. Diantara negara yang memiliki lapangan Migas dengan produk sweet crude oil adalah Venezuela, Timur Tengah, dan Eropa.
Proyek Raksasa Yang Mangkrak
Sebelumnya proyek ini masuk dalam daftar Rp708 triliun investasi mangkrak yang dicatatkan BKPM. Dari angka tersebut, lebih dari setengahnya telah dieksekusi. Proyek mangkrak ini terkendala pembebasan lahan. Padahal, nilai proyek ini tidak tanggung-tanggung yaitu sebesar Rp211,9 triliun. Pengembangan kilang Tuban sendiri membutuhkan pembebasan lahan seluas 841 hektare (Ha).
Presiden Jokowi dalam Rapat Terbatas (Ratas) pada April 2019 bahkan memerintahkan untuk memfasilitasi insentif investasi tax holiday kepada investor sektor petrokimia. Penyelesaian proyek Tuban memang menjadi prioritas pemerintah demi membangun hilirisasi industri di dalam negeri.
Pada tahun 2020 lalu BKPM juga membentuk tim khusus untuk mempercepat penyelesaian masalah di Tuban, termasuk menyelesaikan negosiasi lahan masyarakat dengan menggandeng Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Tuban serta Pertamina.
Pasalnya menurut BKPM proyek tersebut mampu menyerap hingga 20.000 tenaga kerja pada saat konstruksi dan 2.500 pekerja dalam tahap operasional.
Menuju Indonesia Bebas Impor BBM
Kilang Tuban sendiri diperkirakan bakal memberi tambahan pasokan untuk kebutuhan BBM, LPG dan Petrokimia berkualitas untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan kapasitas sebesar 300 ribu barel per hari (Bph), Kilang Tuban diharapkan dapat memperkuat ketahanan, kemandirian dan kedaulatan energi nasional, sehingga tidak lagi tergantung dengan impor. Kilang Tuban rencananya akan mulai beroperasi pada tahun 2025.
Setelah 20 tahun lebih tidak membangun kilang, dengan adanya tambahan kilang baru seperti proyek di Tuban, Jawa Timur dan beberapa Revitalisasi Kilang Minyak Eksisting (RDMP), maka Indonesia diprediksi tidak perlu mengimpor BBM setelah semua proyek kilang selesai. Indonesia sendiri memiliki target bebas impor BBM pada tahun 2030.
Indonesia 2045 || Konten Informasi Infrastruktur dan Pembangunan Tanah Air Terpopuler - #IndonesiaEmas2045
Sumber : Status Fanspage Indonesia 2045
Saturday, February 20, 2021 - 12:15
Kategori Rubrik: