Mengembalikan Nama Ulama

ilustrasi

Oleh : Iyyas Subiakto

Sejak Prabowo melakukan multi sujud dgn klaim menang abal-abal, jujur kita dibuat was-was, mau apalagi dia dan siapa yg menjorokkannya kelubang nista kedua stlh 2014 dia melakukan hal yg sama. Saya jd makin yakin perkiraan saya gak salah-salah amat, kalau PS selama ini dikurung dlm rumah kaca, disanjung, didukung, sekaligus pikirannya dikungkung, dibuat limbung. Dia adalah pemenang pilpres yg dicurangi, dialah presiden yg menang, tapi orang lain yg dilantik. HAL ITU TERUS MENGIANG PADA ALAM PIKIRAN YG DALAM.

Dengan kondisi itu dia punya modal pede nyapres lagi, tentunya dgn nyanyian narasi basi, bahwa seantero negeri akan memilihnya kembali utk jadi presiden adalah sah saja, dan dia mendaftar di KPU lembaga resmi, produk UU dari lembaga legislatif, walau kita tau lembaga itu yg sll membuat kita susah membedakan antara percaya dan tidak tau diri. Tapi kita tak ada pilihan, tak ada selada enceng gondokpun jadi.

Sialnya kita, mereka yg kepedean nyapres, kita yg kena getahnya. Hitungan masih jalan, dia sujud duluan, malah KPU mau dibubarkan tapi hitungan pileg tetap jalan karena angkanya sudah mewakili ke Senayan. Mau jadi setan setengah badan, akhirnya jadi bahan tertawaan.

Ijtima' dilanjutkan, jilid 1,2 sudah tak mempan, jilid 3 diluncurkan KPU mau di stop utk menghentikan hitungan, beriringan dgn ancaman people power mau digerakkan. Ijtima' ini 11-12 dgn produk emak-emak yg seinnya ke kiri beloknya ke kanan, entah dari makhluk mana mereka tiba-tiba mau menguasai negara, mungkin dirumah pada gak pernah berkaca, ngaku ulama tampang Srigala. Kita yg waras sudah lama malas melihatnya, sampai muntahpun kita sdh tak bisa, leher tercekat melihat manusia bejat tak bermanfaat.

Ijtima' ulama, ulama apa kalian, dari mana kalian pinjam nama. Indonesia dan pancasila adalah produk para ulama yg dulu pernah berdarah utk mendapatkannya, sekarang tiba-tiba kalian para setan mengaku ulama mau merusak tatanan kebhinekaan, nusantara yg sepakat beragam mau kalian hancurkan dgn menunggangi aga ma islam yg dikorbankan utk kepentingan syahwat kalian.

Akhirnya berkumpul ulama yg sebenarnya, mengambil kembali nama dan sebutan "ulama" yg sempat liar dipakai orang-orang bar-bar. 74 thn Indonesia merdeka, tdk pernah para ulama memakai istilah ijtima', mereka para wali, para kiayi, para sufi, para santri, tidak perlu embel-embel segala nama, karena mereka terjaga oleh prilaku dan akhlak mulia utk menjaga jalannya sebuah tatanan kemanusiaan yg digariskan. Bukan akal-akalan kebangsatan utk sebuah kekuasaan dgn jalan pemaksaan.

Kembalilah kalian pada kodrat yg digariskan, tidak usah ngotot agar Tuhan dan malaikat membelot keluar dari kebenaran dan membela kalian. Keberadaan dan kemahaanNya tdk bisa kalian putarbalikkan, karena Dia pemilik kunmfayakun yg bahkan alis matamu saja tidak dipanjangkannya agak tdk tertabrak dgn bulu mata, dan keringatmu tak langsung masuk ke mata. Sehelai rambutmu yg tumbuh karena izinNya, apalagi presiden utk 267 juta jiwa, kalian pikir Tuhan takut ama Neno Warisman. Ali Sera saja sudah ganti haluan, ganti presiden diganti Alih Selera.

Kembalikan nama dan sebutan ulama kepada yg pantas memakainya, kalian kembali saja kehabitat semula yg memang pantas kalian terima. Tak usah banyak gaya pakai sorban dan gamis, karena kalau cuma menutup luarnya, itu tak ubahnya menutup got agar baunya tak terasa, namun sejatinya air hitam, bau comberan tetap melekat dan menyatu dalam satu sebutan air " KOTORAN " yg dicoba disamarkan. Penutup got tak bisa merubah bau dan warna air yg tercemar. Kalau cuma mau menyamar, itu cuma sebentar.

Angkat saja bendera putih dan kalian umumkan utk menerima, dari pada kalah tercela, lebih baik jujur termashur. Sekali layar terkembang, surut kita berpantang. Istilah itu boleh dipakai saat usaha dimulai. Tapi setelah tau kalah, jagalah marwah agar kalah yg membawa berkah, bukan terus marah nanti yg didapat malah muntah darah.

Terima kasih para ulama sebenarnya yg telah mengambil kembali nama penuh berkah yg sempat dipinjam dan disalah gunakan. Kami berharap kedepan jgn lagi dipinjamkan kepada orang yg asal-asalan, karena bukan menghadirkan kebaikan, malah jadi bahan akal-akala.

Ulama menjadi tauladan, negara pasti aman. Tapi kalau ulama pinjaman, rakyatnya aras-arasan, karena tiap saat uring-uringan.

#INDONESIADIJAGAULAMA

Sumber : Status Facebook Iyyas Subiakto

Sunday, May 5, 2019 - 11:45
Kategori Rubrik: