Mengelola Nafsu

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Ada komunitas budha terletak di Lembah Larung Gar dengan ketinggian 4.000 meter, sekitar 15 km dari kota Sêrtar, Prefektur Garze di wilayah Tibet Kham. Desa tersebut berada pada ketinggian 12.500 kaki dari permukaan Laut. Untuk mencapai wilayah ini bukanlah pekerjaan yang mudah, kota besar terdekat adalah Chengdu, yang berjarak 650 kilometer serta memakan waktu 13 sampai 15 jam dengan kendaraan. Namun tidak semua wisatawan bisa masuk ke wilayah ini.

Wilayah ini adalah pusat komunitas budha terbesar di dunia. Kehidupan di wilayah ini sangat sederhana. Tidak ada kehidupan modern.Tidak ada listrik.Tidak ada musik. TIdak ada internet. Tidak ada telp. Tidak ada toilet. Tidak alat pemanas. Tidak ada kendaraan. Jadi kemana pergi di wilayah itu harus jalan kaki yang menyusuri bukit di tinggian 4000 meter. Di tempat inilah berdiri Serthar Buddhist Institute yang di huni 40.000 biarawan dan biarawati. Sebagian besar di huni oleh biarawati.

Melihat cara mereka melaksanakan ibadah dan melaksanakan kehidupan agamanya sangat berat. Selama disana tidak ada mitos para saolin di ajarkan berkelahi tapi justru diajarkan untuk menahan emosi dan menguasi alam dengan kekuatan jiwa penuh kasih. Penemuan diri dan kelengkapan diri adalah membunuh nafsu dunia dan kemewahan dunia. Mereka yakin kesederhaan itulah yang akan membawa mereka ke nirwana.

Saya bersyukur karena Islam tidak mengajarkan seperti agama Budha dimana orang harus menyiksa dirinya menjauh dari kemewahan hidup dan mengharuskan sholat lebih dari 5 kali sehari. Kewajiban puasa yang lebih lama ( lebih dari 2 bulan dalam setahun ) dengan syarat yang sangat ketat sepeti di larang membunuh apapun yang bernyawa, dan harus tinggal di kuil.Kalau islam zakat 2,5 % tapi mereka 10% dari penghasilan.

Tapi yang mudah dan ringan bagi umat islam,masih terasa berat di lakukan..Entah bagaimana kalau kewaiban kita seperti umat budha. Nikmat apalagi yang kita dustakan..Dunia memang menyesatkan bagi manusia, yang bisa membuat manusia lupa jalan pulang dan Allah mengajarkan Rasul cara berdoa menghadapi dunia :

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."

Apakah ada yang lebih kafir di bandingkan nafsu itu sendiri..ia ada dalam diri kita dan karena itulah kewajiban puasa agar kita bisa mengendalikan nafsu untuk menemukan kesejatian kita bahwa dunia hanyalah senda gurau belaka dan jalan menuju akhirat adalah yang benar.

Anak ku..bila kamu mengejar dunia maka kamu akan kehilangan akhirat namun bila kamu mengejar akhirat maka dunia akan kamu miliki..** (ak)

Sumber : Facebook Erizeli Jely Bandaro

Tuesday, June 7, 2016 - 07:30
Kategori Rubrik: