Mengejar Hadiah Malah Jadi Budak

ilustrasi

Oleh : Eddy Pranajaya

Ini kisah nyata yang terjadi didalam keluarga sahabatku ; seorang pekerja keras yang memulai usahanya dari bawah sekali ; anak tunggal dari seorang janda miskin, yang berkat keuletannya akhirnya mampu memiliki usaha sendiri, rumah lumayan besar, dan beberapa buah mobil untuk menunjang kelancaran usaha yang digelutinya.

Dari perkawinannya, dia dikaruniai 3 orang anak, yang paling tua perempuan dan dua orang anak laki-laki.
Dia mampu mengkuliahkan ketiga anaknya sampai meraih gelar kesarjanaan semuanya, dan berhasil pula menikahkan ketiga anaknya dengan pesta yang meriah.

Singkat cerita ... anak pertama dan si bungsu diberi modal usaha masing 2 dan anak kedua diberi tanggung jawab mengelola usaha orang tuanya. Tapi suratan takdir menentukan lain, putra kedua justru meninggal dunia pada usia amat muda karena suatu penyakit, sesaat setelah istrinya melahirkan bayinya ...

Sedangkan anak pertama dan si bungsu kurang menekuni usahanya masing-masing, karena waktunya mereka habiskan untuk "melayani Tuhan". Pekerjaan pokok mengelola usahanya sering mereka abaikan, untuk bersekutu dengan teman 2 seiman, yang katanya demi menjaring jiwa-jiwa baru agar percaya dan bergabung dengan organisasi keagamaan yang mereka ikuti.

Akhirnya modal yang diberikan oleh sahabat saya untuk kedua anaknya itu habis total. Pelanggan beralih ke toko-toko lainnya karena toko mereka sering tutup.

Saat keluarga si anak bungsu mendapatkan musibah ( kematian jabang bayi didalam kandungan ), pihak gereja ikut sibuk dan sang pendeta memberi sumbangan uang. Maka semakin giatlah mereka bekerja untuk Tuhan karena merasa berhutang budi kepada pendetanya.

Pada saat kedua orang tuanya yang sudah berusia agak lanjut membutuhkan bantuan anak sulung atau si bungsu, acapkali kedua anak tsb menolak untuk memberikan pertolongan kepada orang tuanya dengan berbagai alasan, sibuk lah, hujan lah, capek lah ... tapi untuk melakukan "pekerjaan Tuhan", hujan deras pun mereka akan lakukan dengan sepenuh hati dan tidak pernah keluar keluhan capek, sibuk, dll.

Sampai suatu ketika sahabat saya itu bertemu dengan saya dan bilang : " Lha iya ... aku membiayai anak-anakku sampai lulus kuliah dan menikahkan mereka, memberikan modal usaha untuk mereka; aku sudah habis ratusan juta Rupiah; sedangkan gereja baru memberikan sumbangan sekali saja dan nilainya cuma beberapa juta Rupiah ; kok anak-anakku lebih pentingkan gereja daripada aku dan mamanya ya ... "
Trenyuh sekali saya mendengarnya ...

Kenapa manusia bisa lupa diri, lupa saudara kandungnya, lupa pekerjaannya, lupa pendidikannya, lupa sebagai anak yang seharusnya berbakti kepada kedua orang tuanya, lupa bahwa dia memiliki otak untuk berpikir dan menimbang yang baik dan yang buruk ... ???

Karena Janji bertemu Tuhan dan Jaminan hidup didalam surga ... telah menyingkirkan akal budhi manusia itu, sehingga menyebabkan orang tersebut lupa diri ... !!!

Karena pemahaman tentang agama yang amat dangkal, tapi merasa sudah mengerti semuanya ... menyebabkan rasa puas berlebihan, sehingga malah mandek sampai disitu ... !!!

Dan hal yang membuat manusia jadi dungu adalah banyaknya sanjungan yang dia terima dari komunitasnya sebagai "anak Tuhan" dan "pemilik kerajaan surga" ... !!!

Jadi ... iming-iming untuk "Mendapatkan Hadiah" itulah jurus ampuh Agama Imitasi untuk memperbudak umatnya ... !!!

Akibat mengejar hadiah itu, mereka dengan sukarela bekerja tanpa bayaran untuk membesarkan kelompoknya. Mereka tidak sadar kalau telah diperbudak ... karena otak mereka sudah tercuci sampai bersih didalam mesin Laundry yang paling canggih di dunia ( Dogma ) !!!

Seperti orang angon bebek ... seperti itulah cara yang dipergunakan oleh para petinggi kelompok Agama Imitasi untuk memperbudak umatnya ... mereka cukup mengangkat "tongkat gembala", mengarahkan sesuai keinginannya, dan para bebek akan dengan sukarela mematuhi arahan Gombal a nya ...

Semoga bermanfaat ...

Sumber : Status Facebook Eddy Pranajaya

Wednesday, March 4, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: