Mengecek Kecerdasan "Panjul"

ilustrasi
Oleh : Agung Wibawanto
Artikel saya kali ini sepertinya masih berkait dengan yang kemarin. Soal influencer beropini. Posisinya sebagai publik figur memang sangat memungkinkan memberi pengaruh dalam pemikiran publik. Apalagi publik yang sekadar pengidola dan ikut-ikutan. Otak dan pikiran orang bisa berpendapat sama dengan seorang influencer tersebut. Apalagi bagi publik yang selama ini memang cocok dengan pandangan influencer itu.
Tentu akan baik dan bagus jika yang disampaikan influencer adalah benar. Bagaimana jika keliru dan bahkan menebarkan kebencian kepada pihak-pihak lain? Jika hal itu diakui sebagai kebenaran (karena mengikuti sang idola), maka bisa rusak bangsa ini. Ada baiknya para influencer seperti itu segera mengoreksi diri dan menyatakan maaf atas kekeliruan yang diucapkan ataupun dilakukannya.
Pandji Pragiwaksono (saya sebut Panjul saja), sebuah nama yang sudah tidak asing di telinga publik. Ia seorang influencer yang juga pelakon stand up comedy, aktor, dan kini karena tidak laku maka beralih, atau tepatnya memanfaatkan medsos sebagai youtuber. Apa yang dikatakan dan dilakukannya akan berbuah 'follow' dari para pendukung atau pengidolanya. Lihat kiprahnya turut mengangkat Anies menjadi Gubernur DKI dalam pilkada 2017 lalu.
Tidak sedikit semua tulisan dalam bentuk status postingan maupun videonya dishare pengikutnya. Ada yang sekadar suka, atau juga dijadikan sebagai 'penguat' dari apa yang sudah diyakini pengikutnya. "Ini lho, Panjul saja mengatakan seperti itu, dan saya setuju sekali". Bandingkan jika kita sebagai rakyat biasa yang 'menyuarakan aspirasi' yang kita rasakan atau yakini, pasti tidak banyak orang yang menanggapi.
Lain hal jika kita copas ataupun ikut-sertakan referensi dari tokoh influencer seperti Panjul itu. Untuk itu, posisi sebagai tokoh publik ataupun influencer memang penuh kontradiksi dan hidup dalam kontroversi. Sesuatu yang baik dan bagus serta aman yang disampaikan (dalam arti tidak aneh-aneh), maka orang akan simpatik, meski mereka bukan pengidola. Sebaliknya jika 'ngaco', maka sudah harus menyiapkan mental untuk dibully.
Belum lama sebuah video dari Channel YouTube viral di medsos. Dalam video tersebut menayangkan perbincangan antara Panjul sebagai bintang tamu dengan dua orang eks anggota FPI. Panjul, entah karena ideologinya memang sudah menjadi Islam Radikal (lihat rekam jejaknya saat pilkada DKI), atau pula karena tekanan 'intimidasi' psikologis di hadapan dua anggota FPI. Panjul tanpa sungkan dan ragu memuji habis FPI, tanpa sisa.
Ia juga menganggap kebijakan membubarkan FPI percuma karena tidak menyelesaikan masalah. Tidak cukup hanya dengan memuji FPI melainkan juga merendahkan pihak lain. Pihak lain tersebut dalam hal ini adalah NU dan Muhammadiyah, dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Ringkasnya dia mengatakan jika FPI itu dibutuhkan dan dekat dengan rakyat kecil. Selalu membantu masalah rakyat tidak mampu.
Sebaliknya NU dan Muhammadiyah dianggapnya tidak seperti FPI, dua ormas itu lebih dekat ke elite dan penguasa. Guna menjaga diri lebih aman dan ada argumen jika dirinya dibully, ia 'meminjam' nama Sosiolog Thamrin Tomagola. Ia menyebut Thamrin yang mengatakan itu di tahun 2012. Sekilas memang ia terlihat pintar dengan memakai strategi menggunakan 'tangan orang', namun jauh dari definisi cerdas.
Saya coba rangkum beberapa soal agar Panjul (jika membaca) bisa lebih cerdas. Ada beberapa soal yang saya anggap Panjul kurang menguasai metodelogi membuat kesimpulan. Pertama terkait pernyataan Prof Thamrin Tomagola di tahun 2012 tentang FPI. Itu konteksnya apa dan konten lengkapnya bagaimana? Prof Thamrin justru dikenal masyarakat sebagai akademisi yang sering mengritik keras FPI.
Beliau juga menerima perlakuan kurang ajar dari Munarman yang menyiramnya dengan minuman di gelas (ingat dan lihat tayangan sebuah talk show tv). Jika Panjul mengatakan, kebanyakan orang hanya mengetahui sedikit dari semua isi video, maka dia sendiri hanya mengutip sedikit ucapan Thamrin tanpa menyampaikan utuh konteks dan kontennya apa? Itu ketidak-cerdasan Pandji yang pertama. Saya tidak punya referensi pendidikannya di mana.
Kedua, jika mengikuti diskusi di videonya, sepertinya diksi 'masalah' yang disampaikan Panjul adalah soal kemiskinan, sehingga dia berkonklusi bahwa pembubaran FPI percuma dan tidak mengatasi masalah (mirip blokir video bokep katanya, artinya FPI adalah bokep, upsss...). Perlu diketahui FPI 'ditiadakan' sebagai ormas yang terdaftar di Kemendagri karena hukum. FPI tidak mendapat izin perpanjangan dikarenakan tidak mencantumkan azas Pancasila dalam AD/ART nya.
Jadi, eks FPI sama sekali tidak terkait dengan masalah mengatasi kemiskinan. Jika pun ada masalah lain yaitu bagaimana menangkal gerakan Islam radikal di Indonesia. Perkara FPI bisa membentuk organisasi baru ya tentu sangat mungkin karena itu diatur dan dijamin kontitusi negara (terlihat kan betapa cetek ilmu Panjul). Sepanjang mengikuti aturan, semua organisasi boleh eksis di bumi Pertiwi. Hal ini harus dipahami oleh Panjul.
Terakhir, terkait membandingkan keberadaan FPI dengan dua ormas besar NU dan Muhammadiyah Panjul beranggapan FPI lebih manfaat buat rakyat kecil karena sering membantu. Kesimpulan ini sungguh menunjukkan ketidak-cerdasannya lagi. Ia lemah literasi terutama terkait sejarah dan perkembangan NU/Muhammadiyah dulu hingga kini. Dia dipastikan pula tidak pernah mondok di pesantren.
Dia mana pernah tau berapa santri miskin yang 'dirawat' dan diberi pendidikan oleh dua ormas besar tersebut. Soal FPI 'mendekati' rakyat kecil, itu adalah bagian dari strategi perjuangan FPI (politik). 'Mendekati' di sini sepertinya lebih kepada memberi doktrin disertai dengan ancaman sehingga rakyat takut dan lalu menurut. Selain strategi 'jalan bawah' ke rakyat, tentu mereka juga punya strategi 'jalan atas' yang disebut sendiri oleh Panjul sebagai elite atau penguasa.
Dia sendiri tanpa disadari menjadi bagian atau target strategi jalan atas itu, diajak bergabung guna memenangkan Anies di DKI. FPI cs juga terlibat dalam pencapresan, bahkan sampai ngotot (pake demo dan ijtima ulama). FPI juga ingin menguasai parlemen dengan memenangkan kader-kader pengajiannya dalam pileg (meski tidak punya parpol). Jadi siapa bilang FPI tidak berorientasi kekuasaan? Ini cetek kesekian kalinya Panjul soal politik, atau terlalu naif? (Awib)
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto
Sunday, January 24, 2021 - 09:30
Kategori Rubrik: