Mengawal Pemilu

Oleh: Muhammad Jawy

Sebenarnya yang namanya Pemilu sekelas Indonesia, sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia, sudah pasti akan menjadi perhatian media internasional dan juga berbagai organisasi internasional yang bergerak dalam ke-pemilu-an. Tanpa dipanggil-panggil, mereka pun akan ikut memantau jalannya pemilu di Indonesia, tetapi mereka tidak akan bisa ikut campur.

Namun yang jauh lebih penting dari itu, tanpa menggantungkan kepada pihak asing, Indonesia sudah lama berdikari untuk penyelenggaraan pemilu yang relatif jujur dan adil. Kekurangan tentu akan selalu ada. Tetapi ekosistem pemilu di Indonesia sudah sedemikian kompleks dan maju, sehingga sangat mengherankan kalau ada yang memiliki mental inlander, dan berharap pemilu kita dibantu diawasi oleh pihak asing.

 

 

Ekosistem pemilu di Indonesia terdiri tak hanya KPU yang menjadi motor utama penyelenggaraan pemilu, namun juga dikawal oleh Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) yang semakin kesini semakin kuat posisinya. Kita juga memiliki Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang akan menyidangkan dugaan pelanggaran penyelenggara pemilu. Kita juga punya MK sebagai penentu akhir jika terjadi perselisihan. Selain itu pengawasan pemilu juga dilakukan oleh berbagai lembaga pemantau pemilu independen, seperti JPPR (Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat), Perludem, KIPP.

Demikian juga kita punya barisan anak muda yang membuat inisiatif seperti KawalPemilu yang sukses menjadi upaya kolaboratif pada Pilpres 2014 sehingga membantu meyakinkan publik bahwa Pemilu kita relatif berjalan sangat baik. Dan inisiatif ini yang akan kembali dibuat di tahun 2019 ini.

Ada banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk mengawal jalannya pemilu 2019 ini supaya bisa berjalan jujur dan adil. Tetapi menggantungkan kepada asing, seolah-olah bangsa ini tidak mampu berdiri di atas kaki sendiri, adalah sebuah aib atas akal sehat yang diberikan Yang Maha Kuasa.

 

(Sumber: Facebook M Jawy)

Wednesday, March 20, 2019 - 22:00
Kategori Rubrik: