Mengapa yang Divaksin Tetap Menerapkan 3 M?

ilustrasi
Oleh : Mila Anasanti
Lembaga kesehatan Inggris, Public Health England (PHE) menerbitkan press release kemarin:
Penelitian PHE menemukan 44 kemungkinan infeksi ulang dari 6.614 partisipan yang telah dites positif punya antibodi setelah terpapar virus covid (bukan vaksin). Dengan data ini, mereka menyimpulkan kekebalan yang didapat secara alami sebagai akibat dari infeksi covid-19 memberikan perlindungan 83% terhadap infeksi ulang.
Antibodi yang dihasilkan karena paparan covid berlangsung setidaknya selama 5 bulan sejak pertama kali sakit. Jadi setelah 5 bulan, jika antibodi ini hilang jika terpapar covid akan balik lagi ada kemungkinan bisa parah.
Jadi, jangankan yang divaksin. Yang pernah terinfeksi virus ganasnyapun tetap harus waspada dan menerapkan 3M.
Penemuan PHE yang PALING PENTING adalah, meski pernah terinfeksi lalu negatif, EX PASIEN YANG SEMBUH MASIH BISA MENYEBARKAN VIRUS KE YANG LAIN. Hal ini karena meski terbentuk antibodi pasca pajanan, bisa saja terjadi infeksi ulang tetapi TIDAK BERGEJALA, sehingga tidak sadar kalau positif dan tetap bisa menularkan ke yang lain.
Sehingga yang divaksin harus terus menerapkan 3M karena:
1. Anda perlu divaksin 2x (booster / vaksin ulangan) untuk membentuk antibodi yang cukup untuk melawan virus. Jika diantara jeda booster tersebut anda tidak menerapkan 3M, maka anda bisa tetap tertular covid dan menjadi parah, karena antibodi belum terbentuk sempurna.
2. Setelah disuntik vaksin ulanganpun, tubuh masih butuh waktu untuk membentuk antibodi. Untuk pfizer masih butuh sepekan setelah disuntik agar efikasinya 95% (dengan jeda antara vaksin ke-1 dan ke-2 adalah 28 hari). Jadi selama masa inipun, tubuh masih rentan terpapar covid dan parah.
Sinovac sendiri untuk vaksin ulangan memberi jeda 14 hari.
3. Antibodi yang dibentuk oleh vaksin hanya bertahan beberapa bulan (sama-sama tidak bertahan lama sebagaimana antibodi yang terbentuk karena paparan virus aslinya). Pfizer misalnya, antibodi hanya bertahan 3 bulan setelah vaksin ulangan:
4. 78%, 50.4%, 65.3% efikasi vaksin Sinovac artinya 100% yang divaksin tercegah menjadi parah kalau terinfeksi, tapi ada kemungkinan 22% - 50% yang divaksin tetap bisa terinfeksi tapi OTG (orang tanpa gejala), sehingga tetap perlu 3M agar tidak menularkan ke kelompok rentan yang tidak menerima vaksin (anak-anak dan pasien komorbid). Jadi anda tetap perlu 3M selama pandemi belum usai atau wabah belum berhasil dilandaikan grafiknya. Harapannya dengan vaksinasi wabah akan menurun dan melandai, tapi tetap butuh waktu cakupan vaksin terpenuhi di 180juta rakyat Indonesia.
Jadi apa donk gunanya vaksin kalau masih menerapkan 3M? Apakah berarti vaksin tidak berguna untuk mengatasi pandemi?
Nah ini yang harus diluruskan. Vaksin sangat berguna, karena meskipun anda masih bisa terinfeksi pasca vaksinasi, selama antibodi ada dalam tubuh anda, maka sakit tidak akan parah.
Inilah yang menyebabkan Brazil melaporkan efikasi dari 78% menjadi 50.4%. Karena efikasi 78.3% hanya menghitung kasus terinfeksi yang perlu bantuan medis dari kasus ringan hingga sedang. Sedang efikasi 50.4% memasukkan juga laporan adanya kelompok yang divaksin tapi masih tetap bisa positif hanya saja nyaris tidak bergejala. Dan kita tahu 80% yang terkena covid pada umumnya kasus ringan.
Jadi 78.3% ke 50.4% ini bukan suatu kemunduran, tapi sudut pandang membaca data. Sedang pfizer mencapai efikasi 95% tanpa memasukkan kasus sangat ringan sebagaimana uji fase 3 Sinovac di Brazil.
Jadi berapapun efikasinya, vaksin Sinovac tetap diperlukan karena:
> 100% efikasi mencegah kasus berat jika terinfeksi covid (INI YANG HARUS DIGARIS BAWAHI, terbukti disemua penelitian fase 3 di Brazil, Turky dan Indonesia). Artinya jika divaksin kalaupun terinfeksi berdasar data uji klinis, tidak akan sampai berat.
> 78% efikasi terbukti di Brazil mampu mengurangi 78% kasus ringan hingga sedang (yang masih membutuhkan perawatan di RS).
> 50% terbukti di Brazil mengurangi 50% kasus infeksi yang sangat ringan yang tidak butuh dirawat di RS hingga kasus sedang yang masih buruh dirawat di RS.
> 65.3% di Indonesia mampu mencegah kasus terinfeksi ringan hingga sedang.
Jadi > 50% efikasi saja sudah sangat bagus, karena fokus utama kita sebenanrya menghindari kasus berat yang harus mengantri faskes, sedang jika kasus infeksi ringan - sedang bisa berkurang 65.3%.
Kalau kasus berkurang, harapannya kenaikan kasus akan menurun lantas melandai, sehingga sekalipun beberapa bulan kemudian antibodi pasca divaksin menurun hingga hilang, wabah sudah terkendali dan kita tidak perlu vaksin lagi. Kecuali cakupan vaksin tidak terpenuhi sehingga wabah belum terkendali.
Jadi, sukseskan program vaksinasi, patuhi protkes, in syaa Allaah kita bisa segera kembali ke kehidupan normal sedia kala. Kalau tidak mau vaksin, harus lebih lama lagi menerapkan 3M karena wabah akan naik terus. Kalau gak mau vaksin, gak mau 3M, ya sudah ma'assalamah
Sumber : Status Facebook Mila Anasanti
Saturday, January 16, 2021 - 13:45
Kategori Rubrik: