Mengapa Tuhan Diam Saja Ketika Tragedi Kemanusiaan Terus Berlangsung?

Oleh: P.B. Susetyo dan S.H. Dewantoro

 

Munculnya tragedi dalam skala massif, wajar saja memunculkan pertanyaan bahkan gugatan tentang Tuhan.  Dimanakah Tuhan, ketika orang-orang Kurdi dan Yazidi menjadi korban  ISIS?  Dimana juga Tuhan ketika  suku-suku di Afrika yang menjadi korban genosida dari lawan politik mereka. 

Bukankah yang menciptakan mereka adalah   Tuhan itu sendiri?  Yang  memberi kuasa pada salah satu pihak untuk bisa menganiaya pihak lainnya adalah Tuhan juga?  Mengapa Tuhan diam saja ketika dalam waktu yang panjang, penderitaan para korban  itu tak kunjung juga berakhir? Apakah Tuhan tak kuasa mengakhiri penderitaan manusia? Atau, jangan-jangan  Tuhan itu memang suka melihat penderitaan manusia.

Jika dicermati, pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena membayangkan Tuhan itu satu sosok, satu pribadi, yang terpisah dari manusia yang diciptakannya.  Yah, mirip dengan  pencipta robot dengan robot yang diciptakan.  Selanjutnya, kita juga membayangkan Tuhan bisa semaunya menyetel hasrat maupun tindakan manusia.

Untuk mengerti perkara ini, perlu berangkat dari kesadaran bahwa Tuhan itu bukan satu sosok.  Tuhan itu adalah Keberadaan itu sendiri, Tuhan itu adalah  Realitas tanpa batas itu sendiri, dan semesta dengan segala hukum yang bekerja di dalamnya adalah pengejawantahan dari Keberadaan atau Realitas yang tak bisa dikatakan apa dan bagaimananya.

Terkait dengan keberadaan manusia, faktanya adalah, setiap manusia  begitu dia terlahir ke muka bumi, ia telah memiliki benih free will atau kehendak bebas.  Setiap manusia punya otoritas untuk melakukan tindakan apapun yang dia mau, dalam bingkai dan batasan kuasa yang dia miliki.  Maka, dengan free will  itu seorang manusia bisa menanam benih bunga mawar hingga tumbuh pohon mawar dengan bunga yang indah.  Tapi ia juga bisa menghancurkan pohon-pohon mawar yang ada.

Seorang manusia punya free will untuk membenci manusia lainnya dan menghancurkan kehidupan manusia lainnya dengan cara yang memungkinkan baginya.  Sebaliknya, ia juga memelihara kehidupan jika ia mau, sesuai kuasa yang ia miliki.

Nah, perang, konflik, adalah dampak dari free will  manusia.   Sebagaimana kerukunan, persaudaraan, juga merupakan dampak dari free will manusia itu.  Manusia bebas melakukan apapun..tetapi semuanya terikat dalam sebuah  hukum semesta: ada sebab ada akibat, ada tindakan ada konsekuensi.

Karena realitanya setiap manusia punya free will  dan selalu punya kemungkinan untuk menghancurkan atau memelihara hidup manusia lainnya, maka siapapun perlu untuk selalu  eling atau sadar dan waspada agar tidak menjadi korban dari pilihan merugikan yang diambil pihak lain.

Konflik di Timur Tengah, di Afrika, dan di tempat-tempat lainnya adalah buah dari pilihan manusia sendiri.  Itu hanya bisa diakhiri jika manusia memang mau mengakhirinya.  Nah, korban yang muncul dalam konflik itu, masuk dalam jaring-jaring kausalitas yang ditentukan oleh pilihan-pilihan maupun tindakan mereka.  Supaya tidak menjadi korban, atau supaya penderitaan bisa diatasi, manusia sendirilah yang harus melakukan tindakan yang sesuai.

Kehidupan pada dasarnya tetap tidak  punya orientasi menghancurkan peradaban  manusia. Manusia sendirilah yang  menghancurkan hidup yang sebetulnya merupakan anugerah.

Jadi, apa terjadi dalam kehidupan di muka bumi ini, termasuk tragedi yang ada, sebenarnya adalah buah atau konsekuensi logis dari tindakan kolektif manusia itu sendiri.  Makanya setiap manusia mesti sadar bahwa dia membawa kuasa yang bisa dipergunakan untuk menghancurkan ataupun membangun.  Pilihan yang diambil tentu membawa rasa yang berbeda..sengsara atau bahagia.  Karena itulah, sadari setiap langkah hidupmu, dan bertindaklah yang nyata-nyata membawamu keluar dari derita menuju bahagia.

Kembali kepada perkara tragedi di berbagai tempat, jelas manusia tak bisa menyalahkan Tuhan.  Dan menghentikan itu, tidaklah bisa dilakukan dengan menjerit-jerit meminta pertolongan Tuhan.  Semua tragedi itu hanya berhenti ketika ada manusia mengupayakan perdamaian dan mendorong penghentian semua tindakan kekerasan. 

Thursday, December 3, 2015 - 08:45
Kategori Rubrik: