Mengapa Tiket Konser Celine Dion Laris?

Oleh: Wahyudi Akmaliah

 

Sejak kemarin pagi, saya masih melakukan riset balik meja (Desk Research) terkait dengan harga tiket Celine Dion yang fantastis. Dengan harga tiket 25 juta, itu bukan hanya tertinggi di Asia Tenggara melainkan juga di dunia di mana Celine Dion menjalankan tur konsernya. Ini karena belum dihitung pajak 15 %.

Padahal kita, secara perekonomian, Singapura jauh lebih baik, tapi bandrol harga tiket tertinggi cuma 700 USD. Begitu juga dengan Filipina. Di tengah politik oligarki dan segregasi kelas begitu tajam, bandrol harganya masih dalam batas titik kewajaran, kisaran 700-800 USD.

 

 

Sebelumnya, banyak pengamat perekonomian kita melihat bahwa perekonomian kita melambat. Tapi, jika dilihat dengan ludesnya seluruh tiket penjualan konser Celine Dion bisa menjadi pertanyaan interupsi lain. Memang, sejak tahun 2000an hingga awal 2010an kelas menengah kita naik secara signifikan di Indonesia.

Kenaikan kelas menengah ini juga diiringi dengan daya konsumsi yang beriringan. Namun, setelah itu daya konsumsi masyarakat kita mulai lambat seiring dengan tingginya harga-harga barang dan alasan faktor lain.

Sebenarnya ini gejala apa? Ada yang bisa bantu saya untuk merasionalisasikan argumen. Sampai saat ini saya belum mendapatkan penjelasan yang lebih bisa dimengerti. Kalau alasan karena kecintaan kepada idola, hal yang sama juga bisa diajukan kepada dua negara Asia tenggara lainnya.

Makanya, terlepas dari alasan kapasitas yang lebih sempit ketimbang di Amerika, sebagaimana diajukan oleh pihak penyelenggara, sehingga biayanya jadi lebih mahal, mengapa masih banyak orang Indonesia tertarik?.

*Masih mikir serius*

 

(Sumber: Facebook Wahyudi Akmaliah)

Tuesday, January 23, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: